Aura Story

Aura Story
Calon Mantu



Aura kini turun ke lantai bawah rumahnya. Gadis itu berjalan tersenyum centil menghampiri Faris yang kala itu tengah duduk di ruang tamu.


"Kak Faris" Panggil Aura.


Faris menoleh, seulas senyuman kini terlukis di wajah tampan Faris. Faris memperhatikan Aura yang kini tengah berjalan menghampiri dirinya. Hingga kini, Aura mendudukkan tubuhnya tepat di hadapan Faris.


Faris memperhatikan dandanan Aura yang tidak seperti biasanya. Pria itu merasa heran. "Kamu dandan?" tanya Faris.


"Enggak kok, aku nggak dandan" Sahut Aura berbogong. Pasalnya, gadis itu memang sedikit mempertebal riasannya dari biasanya. Agar Faris tidak melihat jelas mata sembabnya. Padahal, hal ini sama sekali tidak memperngaruhi.


"Itu kenapa mata kamu jadi item-item gitu?"Tanya Faris dengan polosnya menunjuk mata Aura.


"Oo ini tadi aku pake eyeliner."


"Biasanya nggak gini" Ucap Faris bingung.


"Nggak papa sekali-kali" Sahut Aura.


"Ini juga lipstik kamu ketebelan lo sayang" Ucap Faris kini menunjuk bibir Aura.


"Ya, biar kak Faris suka..."


"Maksud kamu?"


"Haduh" Aura menepuk jidat. "Maksud aku biar aku makin cantik dan kak Faris makin suka" Elak Aura.


Faris tersenyum. "Nggak perlu dandan gini juga kamu tetap cantik di mata aku. Nggak perlu dandan gini juga aku bakalan mau sama kamu sayang. Jadi, dihapus aja ya" Bujuk Faris.


Aura mengembuskan nafas pasrah. "Hm. Yaudah deh" Sahut Aura memelas. Gadis itu berjalan kembali menaiki lantai atas menuju kamarnya. Aura membersihkan semua make up yang memang terlihat mencolok dari biasanya.


Sementara di lantai bawah. Anita tampak baru saja kembali dari luar kota selama dua hari ini bersama kedua adik Aura.


"Assalamu'alaikum."


"Eh ada Faris" Sapa Anita tersenyum manis.


"Hai tante." Sapa Faris. Pria itu tersenyum kemudian berjabat tangan dengan Anita.


"Jangan panggil tante lagi dong sayang. Panggil Mama aja ya. Bentar lagi kan kamu bakal jadi mantu Mama" Ucap Anita tersenyum senang. Wanita itu dari dulu memang sangat menyukai Faris. Karena menurut Anita, Faris adalah laki-laki yang tepat untuk anak manjanya Aura.


Laki-laki dewasa dan juga pekerja keras serta sangat berbakti kepada orang tuanya. Karena bagi Anita, untuk mencari pasangan memang yang terpenting bagaimana mereka melakukan keluarganya dulu, terutama ibunya. Dengan begitu, dia juga pasti akan melakukan hal yang sama untuk anak dan istrinya kelak. Dan Anita, melihat semua itu tertanam oleh Faris. Faris adalah sosok pria yang sangat penyayang dan sangat berbakti kepada orang tuanya.


Sementara Faris, pria itu terdiam. Faris melamun seolah memikirkan seuatu.


"Faris. Kenapa bengong?" Tanya Anita.


"Eh iya tante. Eh Ma" Ucap Faris salah tingkah.


"Kamu ini, tapi nggak papa deh. Besok juga terbiasa." Rayu Anita. Wanita itu kini ikut duduk di sofa yang ada di depan Faris. "Oiya, Auranya ada kan?" Tanya Anita sembari memperhatikan suasana sekitar rumahnya.


"Ada kok Ma. Aura lagi ganti baju" Sahut Faris.


"Oo gitu. Jadi gimana? Kapan rencananya?" Tanya Anita.


"Maksud Mama? Kapan apanya?" Tanya Faris bongung.


"Nggak usah malu juga kali sayang. Pernikahan kalian maksud Mama. Kapan rencananya?" Ucap Anita memperjelas maksudnya.


"Ooo iya. Pernikahan ya Ma"


"Iya sayang. Kalau bisa jangan di tunda-tunda. Lebih cepat lebih baik" Ucap Anita antusias.


Faris tersenyum canggung. "Hehe iya ma. Nanti aku omongin lagi sama Aura" Jawab Faris.


"Bagus deh. Kalo gitu Mama ke kamar dulu ya. Gapapa kan nunggu Aura sendiri?"


Anita berjalan menjauh dari Faris. Sementara pria itu mematung di tempat. Faris terdiam seolah sedang memikirkan sesuatu. Mungkinkah soal perkerjaan? atau Aura?


***


Aura dan Faris kini sudah berada di dalam mobil. Sepasang kekasih itu kini saling melempar senyuman saat melirik satu sama lain. Faris juga sedari tadi tak melepaskan genggaman tangannya dari Aura.


"Hidup itu lucu ya." Ucap Faris membuka suara.


Aura menoleh. "Maksud kak Faris?"


"Iya, hidup itu lucu. Terkadang apa yang benar-benar kita inginkan itu belum tentu bisa kita miliki seutuhnya"


Aura mengerutkan kening. Gadis itu semakin dibuat bingung dengan ucapan Faris. Aura kesulitan untuk menerjemahkan apa yang dibicarakan oleh kekasihnya itu.


"Aku nggak ngerti maksud kak Faris"


Faris menoleh ke samping. Pria itu tersenyum melihat raut wajah bingung Aura. "Nggak ada kok, aku becanda. Nggak usah difikirin" Faris mengacak-acak rambut hitam Aura gemas.


"Nyebelin banget sih" Gerutu Aura.


"Nggak papa nyebelin. Yang penting kamu tetap sayang"


Aura tersenyum mendengar ucapan Faris. "Kita mau kemana?" Tanya Aura.


"Kemana aja. Yang penting sama kamu terus" Sahut Faris membuat pipi Aura merona.


"Jangan becanda terus kak Faris ig ngeselin banget ah"


"Ra..." Panggil Faris.


"Hm" Sabut Aura melipat keduan tangannya di dada. Gadis itu memfokuskan pandangannya ke depan tanpa ingin menoleh ke arah Faris.


"Jangan ngambek dong sayang" Bujuk Faris.


"Tau ah. Bodo amat" Ketus Aura tanpa ingin memalingkan pandangan.


"Jangan ngambek, ntar cantiknya ilang lo" Rayu Faris.


"Nggak peduli.!"


"Yakin nih. Ngambek-ngambekkan? Bentar lagi juga pasti senyum. Adudu itu pipinya kenapa merah? Kalo mau ketawa, ketawa aja selagi belum bayar"


"Aa kak Faris nyebelinnn" Aura tak mampu lagi menaham tawanya. Gadis melotot kesal ke arah Faris. Sementara Faris sudah tertawa puas melihat gadisnya itu.


Seketika, hati Aura merasa lebih tenang. Entahlah memang seperti ini setiap saat bersama Faris. Bersama Faris, Aura mampu menghilangkan beban apapun yang ada di fikirannya. Aura mampu melupakan segalanya dengan kenyamanan yang selalu diberikan oleh pria itu. Aura bahagia, dia benar-benar merasa bahagia bisa bersama Faris. Kedua manusia itu kini tampak tertawa dan penuh canda dan tawa di dalam sana.


"Dulu Mami pernah bilang. Masih banyak diluar sana yang mencintai dan menginginkan aku. Dulu aku bahkan sangat bodoh, saat aku ngggak berani membuka mata aku. Bahwa sebenarnya orang itu berada di sekitar aku. Dan dekat dengan aku"


"Tapi aku tidak akan menyesali semua itu. Karena apapun yang aku hadapi dalam hidup ini. Aku yakin semuanya udah di atur oleh Tuhan. Mungkin memang seperti ini jalannya, agar aku bisa bersama orang yang tepat. Bersama orang yang menyayangi aku melebihi dirinya sendiri."


"Dia bahkan nggak peduli meskipun udah berapa kali aku sakiti. Dia selalu datang ke arahku. Menungguku, menerima cintanya. Cintanya yang begitu tulus dan membuatku menjadi wanita yang paling bahagia di muka bumi ini"


"Faris Ananda Putra, sekarang aku yakin. Hati ini hanya untuk kamu. Nggak ada yang lain. Aku mencintai kamu. Dan kini, hanya kamu satu-satunya orang yang memiliki tempat di hatiku" Lirih Aura dalam hati. Gadis itu memejamkan mata, sesaat kemudian Aura tersenyum sembari melirik Faris yang masih fokus akan kemudinya. Gadis itu semakin mempererat genggamannya seolah tidak ingin ia lepas.


.


.


.


Jangan lupa vote yang kenceng ya. Makasih😂