Aura Story

Aura Story
Bonus Chapter (Belum Siap)



Kevin baru saja selesai membayar dua puluh ice cream bermacam rasa yang kini ada di tangan Tasya. Tasya benar benar girang setelah mendapat banyak Ice cream dari sang suami tercinta. Anak manja itu benar benar semakin membuat Kevin gemas.


"Enak banget ya?" Tanya Kevin yang kini berjalan di samping Tasya yang masih sibuk dengan Ice cream di tangannya.


"Benget" Sahut Tasya antusias. "Kak Kevin mau?" Tanya Tasya.


"Coba dikit" Sahut Kevin membuka mulutnya.


"Nggak mau ah. Beli sono sendiri" Sahut Tasya kembali memakan Ice cream nya sendiri.


"Astaga sayang. Itu di kantong yang ada di tangan kamu masih banyak loh. Masa minta dikit doang nggak mau ngasih?"


"Ya nggak papa. Ini punya aku"


"Beli nya pake duit siapa" Tanya Kevin.


"Ya pake duit kak Kevin sih. Tapi kan udah di kasih ya nggak boleh di minta lagi dong"


"Aishhh dasar. Gemes banget deh pen cubit" Kevin mengacak acak rambut Tasya gemas.


Diam beberapa saat di perjalanan.


"Kak Kevin" Panggil Tasya.


"Hm." Kevin menoleh ke samping.


"Gendong dong" Ucap Tasya manja.


Sumpah demi apa Tasya akhir akhir ini manja sekali? Apalagi minta gendong?


"Nggak mau ah. Minta Ice cream dikit aja pelit" Sahut Kevin.


"Yaudah, tinggal cari suami baru lagi gampang" Tasya menyelonong jalan duluan di depan Kevin.


"Aisshhh kenapa sih senjatanya itu mulu, nggak ada yang lain apa kecuali cari suami baru" Kevin buru buru memotong Tasya dan bediri di hadapan wanita itu.


"Cepetan naik" Ucap Kevin.


Tasya tersenyum miring. Tanpa berfikir panjang, Tasya langsung saja naik ke atas punggung suaminya itu. Kevin membawa Tasya kembali berjalan menuju rumah Aura.


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikum salam"


Faris, Farrel, Sabilla, dan Aura yang ada di ruang tengah terdiam saat mendapati Tasya kini berada di gendongan Kevin layaknya anak kecil dengan kantong plastik putih yang berisikan banyak Ice cream juga terdapat di tangan Tasya.


"Dapat monyet dari mana lo Vin?" Tanya Farrel.


"Opppp makasih" Satu bungkus Ice cream berhasil di tangkap oleh Farrel saat Tasya melempar begitu saja pada kakak sepupunya itu.


"Dari depan komplek." Sahut Kevin kemudian yang langsung saja mendapat tatapan tajam dari Tasya.


"Kak Kevin sama si beruang kutub sama aja ya. Jahat" Ucap Tasya cemberut kemudian berjalan sendiri menuju dapur. Sementara Aura dan Sabilla hanya terpelongo sedari tadi memperhatikan adik iparnya yang aneh itu.


Aura dan Sabilla menoleh satu sama lain. "Kenapa tuh anak?" Tanya Aura.


Sabilaa mengangkat bahunya "Nggak tau" Sahutnya.


Sementara Kevin, buru buru menghampiri sang istri menuju dapur. Alhasil, Kevin hanya bisa geleng geleng kepala melihat Tasya yang ternyata sedang sibuk dengan Ice cream nya di meja makan.


"Pelan pelan makannya. Bibir kamu belepotan, nggak ada juga yang mau ngambil, Sanni, Shena, Zhea sama Zhio juga masih kecil" Ucap Kevin tiba tiba duduk di kursi yang ada di samping Tasya. Kevin menghapus Es yang belepotan di bibir Tasya dengan jari tangannya.


"Ngapain kak Kevin kesini?" Tanya Tasya ketus.


"Nggak ngapa ngapain sih. Mau nengok yang tadinya ngambek tapi masih sempat sempat juga ngabisin ice nya disini sendiri" Sahut Kevin mengejek.


"Apaan sih. Sana sana" Usir Tasya.


Kevin tiba tiba saja merampas kantong Ice yang ada di atas meja makan.


Kevin membawa Ice tersebut menuju kulkas dan memasukkan ke dalam freezer. Detik kemudian, Kevin kembali duduk di samping Tasya.


"Kamu udah makan Ice 5 dari tadi. Simpan dulu. Nanti perut kamu sakit"


"Kak Kev..."


Tasya hendak berteriak. Namun, perutnya tiba tiba saja terasa mual. Gadis itu segera berlari menuju wastafel.


"Ueekkk"


"Ueekkk"


"Kan. Dibilangin bandel sih. Jadi masuk angin kan" Ucap Kevin sembari mengelus punggung Tasya di depan watafel.


"**** banget sih lo Kevin. Itu bini lo lagi hamil." Tiba tiba suara seseorang mengagetkan Kevin dan Tasya.


Kedua manusia itu menoleh bersamaan ke arah belakang. Menatap Faris, Farrel, Sabil, dan Aura yang kini berdiri sambil menggendong anak mereka satu satu.


"Ma-maksud lo?" Tanya Kevin.


"Kapan kamu terakhir datang bulan Sya?" Giliran Sabilla membuka suara. Ibu dua anak itu sebenarnya sudah menebak sedari tadi. Pasalnya, Sabilla tentu saja sudah hafal gejala ibu hamil dengan sakit perut biasa atau masuk angin.


Tasya tampak berfikir. Dia baru saja sadar kalau bulan ini Tasya belum mendapati tamu bulannya. Mata Tasya membulat, Tasya menatap Kevin dalam.


Begitu juga Kevin, pria itu menatap Tasya tidak sabar menunggu jawaban dari sang Istri.


"Bulan ini harusnya udah dateng. Tapi udah tiga minggu memang belum" Sahut Tasya gugup.


"Nah lo, nambah satu lagi cucu Mama" Sahut Farrel antusias.


Sementara Kevin masih terpelongo tidak percaya.


"Kamu beneran yang?" Tanya Kevin penasaran.


"Kalo datang bulan aku telat mah iya benar. Tapi kalo hamil mah aku gatau" Sahut Tasya polos.


Tanpa aba aba, Kevin memeluk Tasya antusias. "Kamu beneran hamil?" Tanya Kevin. Pria itu tak henti mengecup kepala, pipi, dan bibir sang istri di depan Sabil, Aura, dan juga Farrel.


"Kak jangan terlalu berharap. Nanti kecewa" Tasya melepaskan pelukan Kevin dan pergi berlalu begitu saja meninggalkan mereka semua di dapur semenatara Tasya berjalan menuju ruang tengah.


"Eleh bocah. Masih aja ngeyel di bilangin." Sembur Farrel. Namun, Tasya justru tidak menjawab dan tidak membalas seperti biasa.


Di depan Televisi, Tasya melamun menatap kosong ke sembarang arah. Dia memegang perutnya yang masih rata. Apa mungkin Tasya beneran hamil? Tasya tau, Kevin sangat berharap bahwa yang di katakan Farrel benar, tapi jujur saja. Tasya belum siap.


Tasya takut, nantinya dia tidak bisa menjadi ibu yang baik. Mengingat sikapnya yang masih ke kanak kanakan dan sangat manja. Tasya tidak yakin bisa menjadi ibu yang baik untuk saat ini.


"Aku tau apa yang kamu takutin" Kevin tiba tiba saja duduk di samping Tasya, mengelus perut rata sang istri.


"Jangan takut, kamu pasti bisa jadi ibu yang baik. Karena ada aku di samping kamu. Besok kita ke dokter. Mastiin ya" Kevin memeluk Tasya yang kini tiba tiba saja meneteskan air mata.


"Aduh gue baper masa" Ucap Farrel mengganggu. "Sayang, mau peluk gitu juga dong" Sambung pria yang kini menggendong Sanni itu mendekat pada Sabilla.


"Dasar. Bapak bapak beranak dua" Celetuk Sabilla tapi tetap saja memeluk sang suami dengan Shena yang juga berada di gendongannya.


Sementara Aura dan Faris hanya melirik satu sama lain. Kemudian saling melempar senyuman manis.


"Mama mau dipeluk juga?" Rayu Faris yang masih menggendong Zhea di pelukannya, begitu juga Aura yang masih menggendong Zhio di pelukannya. Panggilan itu berhasil membuat Aura blushing.


"Kak aku malu"


"Kak kak kak, Papa" Paksa Faris.


"Iya Papa." Seru Aura gemas.


......Mau lagi ngggak nih? Atau udah sampai sini aja habis ceritanya? Komen di bawah ya yang masih mau liat kemanjaan Tasya sama Kebin. Kalo nggak ada yang komen berarti cerita ini habis sampai di sini. Jangan lupa baca cerita aku yang lain. Makasih banyak💙......