
Pagi hari, Aura terbangun dari tidurnya ketika matahari sudah menyusup ke celah celah kecil fentilasi kamar. Gadis itu mengerjap beberapa kali sebelum Aura membuka mata sepenuhnya.
"Good Morning sayang"
Cup
Ucap Faris tersenyum saat melihat istrinya itu membuka mata. Pria itu memang sudah terbangun dari tadi. Selama setengah jam, Faris hanya memperhatikan wajah sang istri yang tampak begitu menggemaskan saa tertidur lelap di hadapannya.
"Morning to sayang" Sahut Aura tersenyum kemudian mengeratkan pelukannya. Gadis itu kembali menenggelamkan kepalanya di dada bidang Faris.
"Hari ini kamu banyak kerjaan?" Tanya Faris.
"Enggak sih kak. Kenapa?" Tanya Aura balik.
"Ikut aku ke kantor ya" Pinta Faris.
Aura meregangkan pelukannya. Gadis itu menatap mata Faris dengan kening tertaut bingung. "Ngapain aku ikut ke kantor? Kak Faris kan kerja. Aku nggak mau ganggu. Aku di rumah aja sama bi Anis" Tolak Aura.
"Nggak ngapa ngapain sih cuma nemenin aku doang" Jawab Faris.
"Nggak mau ah" Tolak Aura.
"Ayoklah yang. Temenin aku ya" Mohon Faris.
"Hmm Yaudah deh. Tapi nanti setelah pulang dari sana kita ke rumah Sabil ya" Pinta Aura. "Aku kangen sama Sanni" Sambung gadis itu kemudian.
"Oke tuan putri"
"Yaudah sana, kak Faris mandi dulu. Aku mau nyiapin baju" Ucap Aura yang kemudian sama-sama bangkit dari tempat tidur. Faris berjalan menuju kamar mandi, sementara Aura berjalan menuju lemari untuk menyiapkan pakaian suaminya.
***
Aura sudah berada di meja makan. Gadis itu baru saja selesai menyiapkan dan makanan makanan dengan rapi di meja makan untuk sarapan mereka hari ini.
Faris baru saja keluar dari kamar sambil membawa dasi di tangannya. Pria itu melangkahkan kaki berjalan menuju Aura. Faris memeluk Aura dari belakang, menenggelamkan kepalanya di ceruk leher istrinya itu dengan manja.
Aura tersenyum, kemudian gadis itu memalingkan pandangannya ke arah belakang.
Aura melirik dasi yang ada di tangan Faris. Gadis itu tentu saja sudah paham dan mengerti. Tanpa ada perintah, Aura segera mengambil dasi tersebut dari tangan Faris dan memasangkan di kerah baju suaminya dengan telaten.
Aura melakukan semuanya dengan ikhlas dan senang hati. Karena sudah menjadi kebiasaan bagi Aura setiap hari untuk malayani suaminya ini. Memasak, menyiapkan sarapan, mengurus suaminya yang akan berangkat bekerja. Gadis itu benar-benar senang melakukannya setiap hari.
"Udah" Sahut Aura tersenyum.
"Jangan senyum terus dong" Ucap Faris.
"Kenapa?" Tanya Aura.
"Ntah aku diabetes. Abisnya senyum kamu manis banget" Sahut Faris tersenyum.
"Heleh GOMBAL!"
***
Malam harinya, Aura dan Faris baru saja kembali ke rumah mereka setelah mengunjungi rumah Farrel dan Sabilla. Gadis itu benar-benar merasa puas dan sangat senang setelah menghabiskan waktu dengan anak dari sahabat sekaligus adik iparnya itu.
"Kak Faris, aku ke bawah dulu ya nyiapin makan malam" Pamit Aura setelah gadis itu selesai membersihkan diri dan mengganti pakaian dengan pakaian santai ala rumahannya. Aura hendak belalu keluar dari kamar tersebut, namun Faris dengan cepat menarik tangan Aura kembali.
"Hari ini kita makan di luar aja sayang. Sekarang udah malam. Kamu juga pasti capek seharian dari luar. Nggak usah masak ya" Ucap Faris sambil mengelus pipi sang istri.
Aura menghembuskan nafas. "Kak..."
"Please, kali ini aja. Jangan nolak" Mohon Faris.
Aura pasrah. Gadis itu terpaksa menerima ajakan suaminya karena sejujurnya dirinya juga merasa lelah.
***
Faris dan Aura baru saja sampai di restoran terdekat dari rumah mereka. Pasangan suami istri itu kini duduk di kursi kosong yang memang cukup untuk dua orang.
"Kenapa kamu gemes banget sih yang. Mata aku nggak mau beralih satu detik pun dari kamu." Ucap Faris gombal.
"Eleh, gombal mulu kerjaannya sekarang" Celetuk Aura memutar bola matanya malas.
"Enggak gombal sayang. Tapi beneran" Ucap Faris meyakinkan.
"Iya iya deh. Aku percaya" Sahut Aura pasrah.
Tak berselang lama, pesanan mereka datang. Faris dan Aura segera melahap makanan tersebut.
Sedari tadi, pandangan Aura tak teralih dari Faris. Gadis itu memperhatikan suaminya yang terlihat begitu rakus menyantap makanan yang ada di depan mereka. Kening Aura tertaut bingung, dia heran, karena tidak biasanya Faris makan terlalu banyak seperti ini.
"Laper apa doyan Pak?" Tanya Aura yang membuat aktifitas Faris seketika terhenti, pria itu menatap Aura dengan raut wajah datar.
"Doyan" Sahut pria itu cengengesan. "Ini enak banget yang. Sumpah..." Sambung Faris kemudian. Hal itu semakin membuat Aura merasa bingung, pasalnya, ini bukanlah kali pertama mereka makan di tempat ini. Biasanya Faris tidak pernah seperti ini.
"Lah, jadi masakan aku nggak enak? Makannya kak Faris selalu suruh aku berhenti masak? Biar bisa makan disini tiap hari? gitu?" Ucap Aura mengusili sang suami.
"Bukan gitu yang. Bukan gitu maksud aku. Ini beneran enak banget. Tapi bener juga ya, biasanya kita juga pernah makan disini. Tapi kenapa kali ini rasanya beda ya yang?" Tanya Faris bingung.
"Alah, alasan aja kamu kak" Celetuk Aura memutar bola matanya malas. Gadis itu kemudian kembali melanjutkan aktifitasnya, menghabiskan makanan yang ada di depan dirinya.
***
Aura dan Faris kini sudah berada di ruang tengah rumah mereka. Pasangan suami istri itu tampak tengah bersantai di sambil menikmati siaran televisi.
Aura kini tengah duduk berselonjor di karpet berbulu tebal yang ada di depan televisi. Sementara Faris, pria itu tampak berbaring di lantai dengan kepala di atas paha sang istri.
Faris memutar tubuhnya menghadap ke arah perut Aura. Pria itu menatap perut datar itu sesaat sebelum Faris mendongak ke atas menatap sang istri.
"Yang" Panggil Faris.
Aura menoleh ke bawah. "Hmm" Sahutnya.
"Punya anak seru kali ya" Ucap Faris tiba tiba.
Kening Aura tertaut, gadis itu mencoba mencerna ucapan sang suami. "Maksud kak Faris?"
"Ya...nggak tau kenapa, aku pengen banget cepat-cepat punya anak. Biar rumah ini rame dan nggak sunyi lagi. Aku juga mau ada sosok tangan mungil yang selalu menyambut aku pulang kerja. Aku juga mau ada yang nunggu kedatangan aku saat aku pulang kerja." Jelas Faris.
"Jadi maksud kak Faris sekarang aku nggak pernah nunggu kak Faris pulang? Nggak pernah nyambut kedatangan kak Faris? Nggak pernah ngulurin tangan aku setiap hari? Jadi keberadaan aku udah nggak berarti lagi?" Tanya Aura kesal.
Faris terdiam. "Bu-bukan itu maksud aku yang" Ucap Faris.
"Terus apa?" Tanya Aura.
"Aku tau, kamu setiap hari nunggu aku pulang, nyambut kedatangan aku juga. Tapi kalo punya anak kan beda lagi yang." Ucap Faris menjelaskan. "Setelah aku liat liat Farrel sama Sabil, rasnya kebahagiaan itu bakal lebih lengkap setelah punya anak" Sambung Faris.
"Nanti kalo udah punya anak malah lupain aku" Ucap Aura cemberut.
Faris tertawa mendengar ucapan istrinya itu. Pria itu kemudian segera mendudukkan diri. Faris menangkup kedua pipi Aura gemas, kemudian mengecup bibir berwarna merah jambu itu singkat.
"Ya nggak akan lah sayang" Sahut Faris. Pria itu tanpa aba-aba segera menggendong Aura ala Briday Style menuju kamar.
Aura kaget. "Kak Faris mau ngapain?" Tanya Aura saat berada di gendongan suaminya itu.
"Mau bikini baby sekodi" Ucap Faris tersenyum genit. Hal itu membuat mata Aura terbelalak kaget.
Sungguh suaminya ini sudah gila. Fikir Aura seperti itu.
.
.
.