
Tasya dan Sabillla kini tengah duduk di kursi yang ada di taman belakang. Gadis itu masih terlihat was-was agar Kevin tidak memberitahu Sabil dan Farrel tentang masalah dirinya dan Alvin semalam. Tasya tidak ingin keluarganya kepikiran. Apalagi Sabil yang tengah mengandung dan tentu saja tidak boleh stres.
Terlalu percaya diri memang Tasya, padahal kedatangan Kevin ke sana bukan untuk hal itu. Kevin datang bukan untuk memberitahu masalah dirinya. Kevin datang memang untuk bertemu dengan Farrel dan juga Sabilla. Menemui sahabatnya itu atas rasa bersalahnya karena pergi begitu saja.
***
Farrel dan Kevin masih duduk di ruang tamu. Keheningan masih menyelimuti suasana di sana.
"Rel, lo marah sama gue?" Tanya Kevin membuka suara setelah terjadinya keheningan di antara mereka.
"Menurut lo?" Sahut Farrel ketus tanpa mengalihkan pandangan pada Kevin. Tentu saja, pria itu marah. Karena Kevin pergi tanpa permisi, pria itu menghilang begitu saja setelah hari wisuda mereka. Dan sekarang, Kevin seenaknya kembali tanpa diundang.
"Lo ta nggak Vin..."
"Iya, gue udah tau. Gue udah tau semuanya" Potong Kevin sebelum Farrel melanjutkan ucapannya.
"Bagus kalo lo tau..." Sahut Farrel dingin.
Kedua sahabat yang sudah sempat berbaikan itu kini kembali terlihat canggung. Mereka hanya diam, Kevin tidak tau harus memulai dari mana untuk mejelaskan semuanya. Menjelaskan alasan dirinya pergi pegitu saja. Sementara Farrel, pria itu benar-benar merasa kesal dengan Kevin.
Hingga suara mobil yang baru saja datang, membuyarkan lamunan mereka. Kevin dan Farrel menoleh ke halaman rumah secera bersamaan.
"Assalamu'alaikum Sabil sa...." Ucapan gadis itu terhenti tatkala dirinya mendapati Kevin tengah duduk dengan Farrel di ruang tamu, pun dengan koper yang semula ia pegang terjatuh begitu saja di lantai.
Begitu juga dengan pria yang berada di belakang gadis tersebut. Pria itu seketika memasang raut wajah dingin. Pria yang tidak lain adalah Faris, memperhatikan raut wajah gadis yang tidak lain adalah Aura. Faris melihat jelas ketetkejutan jelas terlukis di wajah Aura.
Benar, Faris dan Aura memang sudah kembali ke Indonesia. Faris memang sengaja mempercepat kepulangannya karena tidak sabar ingin memberitahu keluarga mereka tentang hubungannya dengan Aura.
Seluruh pekerjaan Faris di London juga sudah ia selesaikan dengan baik. Aura dan Faris memang sengaja tidak memberitahu orang tuanya, dan juga semuanya tentang kepulangan mereka berdua. Faris dan Aura memang sengaja ingin memberi kejutan pada mereka. Dan Aura juga sengaja meminta Faris untuk menemui Sabilla terlebih dulu sebelum pulang ke rumahnya. Karena Aura benar-benar merindukan sahabatnya itu.
"Kak Farrel...Kak Kevin" Lirih Aura dengan suara bergetar.
Farrel yang kaget dengan kedatangan kakak kandungnya itu segera berdiri. Farrel berjalan menghampiri Faris. "Kak Faris? Lo kapan pulang? Kenapa nggak bilang-bilang?" Tanya Farrel.
"Hm. Semua kerjaan gue disana udah selesai dek. Makannnya gue pulang. Sekalian nganterin Aura" Sahut Faris.
Aura menoleh ke arah belakang. "Nganterin? bukannya kak Faris udah janji kalo kak Faris nggak akan balik ke sana lagi?" Lirih Aura dalam hati menatap tajam ke arah Faris. Lantas apa yang dimaksud oleh Faris, apakah Faris akan kembali ke sana lagi? Entahlah.
Sesaat kemudian, Faris mengalihkan pandangannya pada Kevin. "Hai Vin. Apa kabar lo? Udah lama banget nih nggak muncul" Sapa Faris. Pria itu berjalan menghampiri Kevin. Begitu juga Kevin, ia beridiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Faris.
"Kak Faris. Gue baik nih. Kakak gimana?" Tanya Kevin.
"Seperti yang lo lihat" Ucap Faris tetawa.
Sementara Farrel, pria itu hanya menatap Kevin masih dengan tatapan tak suka. Farrel juga tau, bahwa kakaknya Faris sangat mencintai Aura. Dan keberadaan Kevin seperti saat ini, tentu saja akan membuat hati kakaknya tersiksa. Karena Farrel belum tau, bahwa Faris dan Aura sudah jadian.
"Kemana aja lo selama ini Vin?" Tanya Faris.
Kevin mengalihkan pandangannya ke arah Farrel dan juga Aura yang masih mematung di tempat yang sama.
Sementara Sabilla dan Tasya, saat mereka mendengar adanya keributan diluar, mereka merasa penasaran. Sabilla dan Tasya berjalan keluar untuk memastikan ada keributan apa di sana. Hingga Sabilla dan Tasya sama-sama dibuat kaget saat mereka mendapati Aura dan Faris di sana.
"Aura..."
"Sabil, Tasya..."
Aura segera berlari menuju sahabat dan adik sahabatnya itu. Mereka bertiga berpelukan erat, saling melepas rindu yang tak bisa didefenisikan dengan apa apa lagi.
"Gue kangen banget sama lo Wa" Lirih Sabilla.
"Gue juga kangen banget sama lo Bil. Sama Tasya juga" Sahut Aura di dalam pelukan mereka berdua.
"Lo kenapa pulang nggak bilang-bilang sih Wa?" Tanya Sabilla kesal dan melepaskan pelukannya.
"Surprise dong" Ucap Aura antusias.
"Ck! Dasar" Umpat calon ibu tersebut.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, pandangan Kevin tak teralih dari Aura, Sabilla, dan juga Tasya. Kevin tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. Sudah lama Kevin tidak melihat suasana seperti ini. Begitu juga dengan Faris, pria itu diam-diam juga ikut memperhatikan arah mata Kevin.
"Bil, perut lo udah besar aja ya" Ucap Aura sembari mengelus perut buncit Sabilla.
"Ya iyalah. Namanya juga bayi gue di dalam berkembang maemunah" Sahut Sabilla tertawa.
"Hai sayang. Bentar lagi keluar ketemu sama Onty ya. Kita main bareng. Hayuk" Ucap Aura mengajak bayi yang ada di perut Sabilla berbicara.
"Iya onty jelek. Nanti beliin aku mainan yang banyak ya. Jangan pelit pokonya mah" Sahut Sabilla menirukan gaya anak kecil.
"Siap bos" Sahut Aura tertawa.
"Nggak nyangka gue, udah mau punya anak aja lo bil. Baru kemaren rasanya kita masuk kuliah sama-sama dan ketemu disana." Ucap Aura memeperhatikan sahabatnya itu. Aura seketika teringat pada saat saat menyakitkan yang dialami oleh Sabilla dulu. Namun, beruntung, sekarang Sabilla sudah bisa hidup bahagia bersama Farrel.
"Makannya. Cepetan nikah juga. Biar nanti anak kita bisa main bareng"
Aura seketika terdiam. Gadis itu melirik ke arah Faris dan juga Kevin. Dan Faris, Faris sangat paham dengan tatapan itu. Raut wajah Aura seketika berubah datar. "Iya, lo tenang aja. Gue bakal nikah secepatnya" Sahut Aura.
"Nah gitu dong..."
Kevin yang merasa tidak enak dengan suasana seperti saat ini, segera pamit dari sana.
"Rel, Kak Faris. Kayaknya gue harus pamit dulu deh. Gue ada urusan" pamit Kevin tanpa ingin berbicara pada Sabilla, Aura maupun Tasya.
"Hm" Hanya kata hm yang disahuti oleh Farrel. Sementara Faris, pria itu masih tersenyum ramah.
"Hati-hati Vin." Ucap Faris yang diangguki oleh Kevin.
.
.
.
Kalau suka cerita ini jangan lupa like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya ya. Makasih 💕