Aura Story

Aura Story
Bersyukur



...Maaf kalo ada typo dan kata yang berulang. ulang. Maaf juga kalo garing....


Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Faris segera merapikan berkas-berkas yang berserakan di atas meja kerjanya. Pria itu benar-benar ingin sekali cepat-cepat pulang ke rumah. Faris sungguh merindukan sang istri. Padahal, baru beberapa jam mereka tidak bertemu dari tadi pagi. Karena memang hari ini, Aura sengaja tidak mengantarkan makan siang untuk Faris ke kantor.


"Semoga kak Faris seneng" Lirik Aura penuh harap. Wanita itu kini duduk di tepi tempat tidur, tersenyum menatap foto USG bayinya. Ya, tadi pagi, Aura dan Sabilla memang segera ke dokter kandungan untuk memastikan bahwa Aura benar-benar hamil karena sejujurnya gadis itu masih belum percaya dengan test pack saja.


Dan, hari ini, Aura sudah berencana akan memberi kejutan pada suaminya itu.


Faris baru saja sampai di depan rumah. Pria itu tidak sabar untuk segera masuk menemui sang istri tercinta. Setelah pintu rumah mewah itu terbuka, Faris segera berlalu masuk ke dalam sana. Namun, langkah Faris terhenti saat menampaki beberapa kertas - kertas putih kecil bertebar di lantai.


Mata Faris menatap jeli ke arah kertas tersebut. Faris memunguti kertas itu satu persatu karena tidak menampaki bi Anis di sana. Ya kali Faris harus teriak-teriak manggil Bi Anis hanya untuk memunguti kertas tersebut.


Berhubung Faris majikan yang baik hati. Jadi Faris tidak masalah melakukan hal itu. Namun, yang membuat Faris sedikit bingung, kenapa kertas tersebut tidak ada habisnya dan justru menuju ke arah kamarnya dan juga kamar Aura?


Faris yang semula tidak menyadari bahwa disana terdapat sebuah huruf, kini memperhatikan potongan-potongan kertas kecil itu satu persatu.


Faris mengeja huruf-huruf tersebut.


"W-e-l-c-o-m-e"


Kening Faris tertaut. "Welcome?" Lirih pria itu pelan. Sudahlah, tanpa berfikir panjang, Faris berlalu masuk ke dalam kamar sambil memanggil nama Aura.


"Sayang"


Ceklek


"Say,.."


Ucapan Faris terhenti saat pria itu kembali menampaki potongan kertas itu lagi. Kemudian, pandangan Faris teralih pada Aura yang sedang duduk manis di tepi tempat tidur tersenyum manis memperhatikan dirinya.


"Yang, ini apaan sih? Kenapa ada di kamar kita juga? Tadi diluar juga banyak banget potongan kertas ini?" Tanya Faris polos sembari menunjukkan kertas-kertas yang ada di tangannya pada Aura.


"Hm. Nggak tau" Sahut Aura pura pura bodo amat. Padahal, bibir Aura tak berhenti tersenyum melihat Faris penasaran.


Tanpa berfikir panjang, merasa tidak ada gunanya bertanya pada sang istri, Faris kembali memunguti potongan kertas tersebut satu persatu hingga kini kaki pria itu mentok di depan nakas yang ada di samping tempat tidur.


Faris menegakkan tubuhnya perlahan, hingga pandangan Faris kini terfokus pada dua benda yang terletak di atas sana.


Merasa penasaran, Faris kembali membaca potongan-potongan kertas barusan dari awal.


w-e-l-c-o-m-e-p-a-p-a


"Welocome papa?" Bibir Faris berucap pelan dengan kening tertaut bingung. Pria itu masih bingung mencerna maksud dari semua ini.


Faris mengambil test pack dan hasil USG yang ada di atas nakas. Kemudian, pandangan Faris beralih pada Aura yang tak berhenti tersenyum manis sedari tadi di tepi tempat tidur.


"Ini maksudnya apaan yang?" Tanya Faris ragu. Faris seperti sudah bisa menebak, namun dia tidak mau terlalu berharap yang akan mengakibatkan kecewa.


Aura tersenyum. Kemudian gadis itu mengelus perut datarnya. "Hi Papa" Sapa Aura girang sembari melambaikan tangannya pada Faris.


Mata Faris membulat, bibirnya bergetar hebat. Pria itu mematung menatap Aura tidak percaya.


"Yang, kamu serius?" Tanya Faris.


Tanpa berfikir panjang, Faris bergegas mendekat pada Aura. Pria itu kini duduk di samping sang istri sambil menggenggam tangan Aura erat.


Faris menatap lekat mata Aura penuh harap. Sementara gadis itu hanya tersenyum bahagia sedari tadi.


"Yang..." Lirih Faris.


"Hm" Sahut Aura.


"Kamu, beneran hamil?" Tanya Faris ragu.


Aura mengangguk dengan bibir tersenyum. "Iya, kita akan jadi orang tua" Ucap Aura yang seketika membuat air mata menetes begitu saja dari kelopak mata Faris.


Bodo amat dibilang alay, yang penting pria itu benar benar merasa terharu. Faris tidak percaya bahwa dirinya sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.


Faris menatap kedua benda yang ada di tangannya itu lekat. Sungguh, Faris benar-benar merasa bahagia.


Tanpa berfikir panjang, pria itu segera memeluk tubuh Aura erat.


"Makasih sayang. Makasih. Aku senang banget" Lirih Faris menangis di pelukan sang istri.


Aura masih saja tersenyum haru. Wanita itu mengusap lembut punggung Faris.


"Iya kak. Aku juga senang banget. Akhirnya Tuhan menitipkan kepercayaan pada kita kak. Aku janji, aku akan jaga dia dengan baik dan menyayangi dia dengan setulus hati aku" Sahut Aura yang kini ikut meneteskan air mata bahagia.


Faris melepaskan pelukannya. Pria itu menatap wajah sang istri lekat. Kemudian Faris nyosor nyium bibir Aura cukup lama.


"Makasih. Makasih sayang. Dulu, aku fikir, aku nggak akan bisa punya anak. Aku fikir, aku nggak akan bisa jalan lagi. Aku fikir, aku nggak akan bisa sama sama terus sama kamu. Aku fikir, aku nggak akan bisa ngerasain kebahagiaan seperti ini. Tapi Tuhan sangat baik sama aku. Aku benar-benar bersyukur."


Aura mengerti apa yang saat ini Faris rasakan, Aura bahkan juga ikut menangis sambil mngusap punggung sang suami.


Pandangan Faris kini beralih pada perut rata Aura. Pria itu ikut mengelusnya.


"Disini beneran ada anak aku kan?" Tanya Faris.


"Yaiyalah kak Faris sayang. Yakali anaknya kak Farel ada di sini" Sahut Aura mencubit pipi sang suami.


Faris cengengesan. Pria itu kini beranjak berdiri kemudian berjongkok berpindah posisi di hadapan Aura. Faris berlama-lama menatap perut istrinya itu. Kemudian mengecup pelan.


"Papa nggak sabar nunggu kamu lahir ke dunia sayang. Papa ingin liat kamu, nanti kita main bareng pokoknya. Baik-baik ya di dalam disana, sampai ketemu sayang" Ucap Faris mencoba mengajak janin yang belum berbentuk tersebut berbicara.


Faris kembali memeluk perut Aura. Pria itu berlama-lama menenggelamkan kepalanya di perut sang istri. Sungguh, Faris benar-benar merasa bahagia yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata kata.


Sementara Aura hanya tersenyum senang melihat suaminya bahagia. Aura mengelus lembut rambut Faris kemudian mengecupnya beberapa kali.


"Kak Faris mandi dulu ya" Ucap Aura mencoba mengajak suaminya itu bangkit.


Namun, Faris masih belum mau beranjak berdiri. Pria itu masih setia berjongkok memeluk perut sang istri. Dan siapa sangka, bahwa sedari tadi pria itu menangis.


Bagaimanapun juga, Faris benar-benar tidak percaya. Bahwa dia benar-benar akan memiliki anak dari gadis yang pertama kali mencuri hatinya itu, garis yang pertama kali dia cinta. Gadis yang sempat melumpuhkan harapannya.


Gadis yang dulu Faris fikir hanya akan ada dalam angan-angannya. Siapa sangka, rencana Tuhan begitu indah. Kini, gadis itu sedang mengandung anaknya. Sungguh, Faris tidak tau lagi harus berkata apa untuk mengutarakan kebahagiaannya. Tidak peduli orang-orang berfikir bahwa pria itu alay dan lebay, yang jelas hanya Faris yang mampu merasakan apa yang saat ini ada di hatinya. Kebahagiaan yang benar-benar tiada tara.