
Faris tertawa. Ia meraih tangan Aura yang berada di atas meja. Pria itu manggenggam erat kedua tangan yang berukuran lebih kecil dari tangannya itu. Sungguh, hari ini Aura benar-benar terlihat salah tingkah. Gadis itu tampak gelisah dan tidak tau harus berbuat apa.
"Makasih Ya Ra. Makasih udah nerima orang seperti aku..." Ucap Faris sembari menatap dalam bola mata Aura lekat.
"Kak Faris apaan sih? Harusnya aku yang bilang kaya gitu. Harusnya aku yang berterimakasih. Karena aku nggak ada apa-apanya dibanding kak Faris. Aku hanya gadis manja yang nggak tau apa-apa. Tapi kak Faris masih bisa nerima aku apa adanya. Kak Faris juga udah lihat sendiri kan, kebiasaan buruk aku yang sebenarnya? Tapi kak Faris masih mau sama aku. Dan harusnya aku yang bersyukur karena kak Faris udah nerima aku. Bukan malah sebaliknya!" Ucap Aura serius.
"Aku nggak peduli Ra. Aku nggak peduli gimana kamu, aku nggak peduli kepribadian buruk kamu seperti apa. Karena aku tau, manusia nggak ada yang sempurna Ra.
"Sejauh apapun aku pergi untuk mencari yang sempurna, aku yakin, bahwa aku nggak akan pernah mendapatkannya. Sejauh apapun aku mencari wanita yang lebih sempurna dari kamu, sampai kapanpun aku nggak akan pernah mendapatkannya. Karena sejatinya, didunia ini nggak ada manusia yang benar-sempurna. Setiap orang memiliki kekurangan masing-masing. Hanya saja beberapa dari mereka terlalu pintar menyembunyikannya."
"Jadi, aku nggak perduli. Sama sekali nggak peduli.! Karena dibalik kebiasan buruk kamu itu, kamu tetap istimewa di mata aku. Kamu pintar, kamu baik, kamu ceria, kamu juga penyayang. Dan soal kekurangan, bukan hanya kamu yang punya kekurangan, tapi aku juga."
"Aku juga yakin, suatu saat kebiasaan buruk kamu itu juga akan berubah dengan sendirinya. Aku suka liat Ra, liat kamu apa adanya. Aku suka saat kamu bertingkah manja. Dan pada intinya, aku suka semuanya, apapun itu jika menyangkut kamu"
"Terkadang orang hanya melihat dari luarnya aja kak Faris. Aku ceria, bukan berarti aku baik-baik aja"
"Maksud kamu?"
"Enggak, enggak papa kok..."
"Ra, aku minta maaf. Karena kemarin aku sampe becandain kamu. Sebenarnya aku nggak punya calon istri dan siapapun itu. Maafin aku"
"Hmm. Nggak punya calon istri ya?" Tanya Aura menatap Faris datar.
"Enggak, beneran aku nggak boong" Sahut Faris antusias.
"Hm.. Kalo gitu berarti aku boleh dong nikah sama siapa aja?"
"Kamu? enggak boleh?" Bantah Faris.
"Lah, kenapa nggak boleh?"
"Karena kamu hanya untuk aku. Calon istri aku"
"Yaelah bucin. Tadi bilangnya nggak punya calon istri. Sekarang aja..."
"Aduh maksud aku tadi itu..."
"Apa? Apa? Maksud apa?..."
"Nggak tau. Pokoknya, setelah kerjaan aku disini semuanya selesai. Kita bakalan balik ke indonesia. Dan kita akan menikah secepatnya." Putus Faris sepihak.
"Kita? Kak Faris aja kali. Orang aku balik ke indonesia besok!"
"Apa? Besok?" Tanya Faris kaget.
"Iya. Besok! Kenapa emang?" Tanya Aura songong.
"Enggak, nggak boleh.! Pokoknya nggak boleh. Titik"
"Yaelah maksa..." Aura tertawa.
"Bodo..."
Suasana malam itu benar-benar terlihat damai. Begitupun dengan suasana hati Aura dan Faris yang kini tengah bahagia. Sepasang manusia itu tak henti bercengkrama. Menghabiskan waktu bersama, tertawa, bercanda, bahagia di tengah hiruk pikuk Kota London yang terlihat ramai dan damai dengan suasana romantisnya.
***
Selama seminggu ini, Aura dan Faris terlihat begitu bahagia. Semenjak malam itu, mereka menjdi lebih dekat. Faris dan Aura sering menghabiskan waktu bersama. Mereka nonton, masak, dan terkadang jalan-jalan jika Faris tidak sibuk bekerja.
Kini, Faris dan Aura tengah berada di ruang tengah Apartemen. Kedua manusia itu tampak tengah fokus menonton film horor di layar tv atas permintaan Aura barusan.
"Barusan bilangnya nggak takut. Tapi itu wajah kenapa disembunyiin terus?" Ejek Faris sengaja. Pria itu tersenyum tipis melirik Aura yang tampak sedikit cemas. Pasalnya, gadis yang kini berada di samping dirinya itu tadi terlihat begitu songong untuk mengajak Faris menonton film horror.
"Ye siapa juga yang takut!" Sahut Aura songong. Gadis itu menjauhkan bantal sofa yang semua ia pengang. Aura menaruh bantal tersebut ke sembarang arah.
Aura kembali memfokuskan pandangannya ke depan tanpa memperdulikan Faris. Namun, detik kemudian, gadis itu menjerit kaget tatkala suara dentuman speaker televisi mengejutkan. Aura berteriak histeris, gadis itu juga tidak sadar memeluk Faris.
"Hm, jadi tujuan kamu ngajak aku nonton horror ini. Mau dipeluk? Gitu? Pake modus segala" Sindir Faris sembari melirik gadis yang kini tengah bersembunyi di pelukannya.
Aura seketika tersadar. Gadis itu mendongakkan kepalanya perlahan. Menatap Faris yang kini sudah tersenyum jahil. Pria itu menaikkan satu alisnya. Dengan cepat, Aura mepelaskan pelukan Faris segera. Aura sesegera mungkin menjauhkan tubuhnya dari Faris. Karena gadis itu tidak ingin membuat Faris kegeeran.
"Apaan sih, orang beneran takut malah dibilang modus" Cicit Aura mengerucutkan bibirnya kesal.
"Lah kan, akhirnya ngaku juga, tadi aja sok berani. Bilangnya nggak takut, pake nantangin segala lagi" Sahut Faris tertawa.
"Aduhh. Tau ah, kak Faris ngeselin. Aku mau tidur. Capek!"
Aura berdiri dari duduknya, gadis itu berjalan dengan raut wajah kesal menuju kamarnya. Sementara Faris, pria itu hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah gadis yang sudah menjadi kekasihnya itu.
***
Aura baru saja menutup kembali laptopnya selesai menulis. Gadis itu segera merangkak ke atas tempat tidur penuh semangat, berniat mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah. Aura hendak menarik selimut untuk membaluti tubuhnya. Namun, suara ketukan pintu mengalihkan pandangan gadis itu. Aura menghembuskan nafas kasar. Ia sudah tau siapa itu, siapa lagi jika bukan Faris. Orang mereka disana hanya berdua.
Aura segera berdiri. "Apaan lagi sih kak Faris?" Sahut Aura memelas.
"Good Night sayang" Ucap Faris tiba-tiba saat pintu kamar Aura baru saja terbuka.
Aura kaget, gadis itu memutar bola matanya malas sembari memegang dadanya yang terasa sedikit sesak karena kaget.
"Haduhhh..."
"Aku cuma bilang Good Night doang lo. Nggak ganggu" Ucap Faris.
Aura berdecak. "Sama aja" Sahutnya jutek.
"Terus kamu nggak niat mau balas apa gitu?" Tanya Faris.
"Balas apaan?"
"Ya.. Semacam Good Night to sayang." Goda Faris tersenyum.
Aura tersenyum tipis. Nyaris tak terlihat oleh Faris "Night to kak Faris sayang. Udah?"
"Yang iklas dong" Ucap Faris lagi.
"Dasar, dikasih hati malah minta jantung." Celetuk Aura. "Good Night to sayang. Have a nice dream"
"Nah gitu dong" Ucap Faris tersenyum, pria itu mengacak-acak rambut Aura sebelum berlalu pergi dari sana.
.
.
.
.
Maaf banget hari ini updatenya dikit :(