
Suara hiruk pikuk jalanan di pusat Kota terdengar nyaring sore itu. Ribuan manusia kini tengah sibuk melakukan aktifitas masing-masing, berlalu lalang melewati jalanan yang ramai dengan kendaraan tersebut.
Aura yang kala itu bara saja selesai menulis. Menyandarkan tubuhnya sejenak di kursi yang ada di meja kerja kamarnya. Gadis itu menghembuskan nafas lega. Menit kemudian, pandangan Aura teralih ke arah jam beker yang terletak di atas nakas.
Seketika Aura teringat akan Faris yang tadi pagi menyuruh dirinya untuk bersiap-siap sebelum jam 7 malam. Tanpa berfikir panjang, Aura segera menutup kembali laptop yang semula masih menyala. Gadis itu merapikan meja tempat dirinya menulis tersebut terlebih dahulu, sebelum Aura berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
***
Aura sudah terlihat rapi dengan style celana boyfriend dan atasan polos berwarna peach yang kini melekat di tubuhnya. Gadis itu kini tengah sibuk merias wajahnya di depan meja rias.
Aura tersenyum sembari memperhatikan wajahnya yang terlihat sangat cantik dan anggun dari pantulan kaca. Sebelum gadis itu berlalu keluar dari kamar menuju ruang tengah.
Aura kini duduk di sofa bed tempat biasa dirinya menghabiskan waktu di Apartemen Faris. Gadis itu kini sibuk memainkan ponsel, menscrool kiriman instagram followernya. Hingga tak berselang lama, seorang pria tampan tampak baru saja memasuki Apartemen tersebut.
Aura mendongakkan kepalanya ke atas, Menatap pria yang tidak lain adalah Faris, yang kini telah berada tepat di hadapannya.
"Kak Faris" Bibir Aura berucap pelan.
"Udah siap?" Tanya Faris.
"Udah..."
"Ayok" Faris mengulurkan tangannya. Hal itu sedikit membuat Aura kaget. Gadis itu terdiam, menatap Faris sejenak, sebelum Aura akhirnya menerima uluran tangan Faris. Kedua manusia itu segera berlalu keluar dari Apartemen menuju Lobby.
Aura dan Faris kini sudah berada di dalam lift. Gadis itu sedari tadi tak berhenti memperhatikan Faris dengan tatapan bingung dan penuh tanda tanya.
"Kak Faris, sebenarnya kak Faris mau bawa aku kemana sih?"
"Katanya kamu bosan di Apartemen terus."
"Terus?..."
"Ya aku mau ngajakin kamu jalan-jalan"
"Jalan-jalan? Kak Faris serius?" Tanya Aura antusias.
"Enggak deng! boong!"
"Yaelah..."
"Becanda, bawel!" Faris mengacak-acak rambut Aura gemas.
***
Malam yang ramai, jalanan yang padat, suasana yang hiruk pikuk, kini menyita pandangan Aura. Sedari tadi, gadis itu tak puas menikmati dinginnya angin malam di menyusup ke pori-pori kulit. Aura tidak peduli tentang siapapun yang akan mengatakan dirinya norak. Gadis itu membuka kaca mobil lebar.
Aura begitu terkesiap saat menikmati pemandangan kota London malam ini. Indah, fikir Aura seperti itu. Sudah satu bulan Aura berada di London, hari-hari hanya ia habiskan untuk makan, menulis dan menonton di Apartemen Faris. Namun, kali ini Aura benar-benar merasa senang dan bahagia.
Kota yang memang dikenal dengan kota romance tersebut, benar-benar membuat Aura merasa nyaman berada di sana. Sementara Faris, pria itu sedari tadi tak berhenti memperhatikan Aura dari ekor matanya. Farisntersenyum tipis, rasanya Faris juga merasakan kebahagiaan yang saat ini Aura rasakan.
"Nah. Gini dong, bawa aku jalan-jalan. Tiap hari kalo bisa. Kan seru, daripada di Apartemen mulu..." Ucap Aura antusias, melirik ke arah Faris yang masih fokus akan kemudinya.
"Kamu mau diajakin jalan-jalan tiap hari?" Tanya Faris.
"Ya mau lah" Sahut Aura semangat.
"Hmmm. Gimana ya, sebenarnya aku mau sih. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Tapi ada syaratnya."
"Syarat? Syarat apaan? Pake syarat segala"
"Yaiyalah. Didunia ini nggak ada yang gratis Ra."
"Yaudah, syaratnya apaan? Perhitungan sekali anda." Lirih Aura pelan.
Faris tersenyum. "Syaratnya..."
"Jangan bilang kak Faris mau suruh aku jual ginjal?"
"Apa? Ginjal?" Faris tertawa akan ucapan Aura. "Sebenarnya nggak ginjal juga sih?"
"Terus apaan?"
"Hati kamu udah cukup. Dan tinggal disini sama aku"
Aura menoleh, gadis itu terdiam seketika. Aura menatap Faris yang kini tengah tersenyum jahil pura-pura fokus ke depan.
"Lah, kenapa kamu jadi marah? Aku cuma becanda Aura..."
"Becanda sih becanda. Tapi nggak usah kelewatan juga. Jangan seenaknya mempermainkan perasaan anak orang!"
Faris terdiam. "Kenapa jadi mempermainkan? Aku nggak ngapa-ngapain kamu? Kenapa jadi bilangnya aku mempermainkan?"
"Dahlah, males." Aura berdecak kesal. Gadis itu sedikit menghempaskan tubuhnya, kembali fokus ke depan, memalingkan pandangan dari Faris.
"Kemaren bilangnya udah punya calon istri, sekarang godain gue lagi. Dasar ya laki-laki" Gadis itu menggerutu tidak jelas.
Kening Faris tertaut dalam. Pria itu sesekali memperhatikan Aura. Tapi masih memfokuskan kemudinya.
"Jadi kamu marah, saat aku bilang aku udah punya calon istri pada saat itu?" Faris kembali membuka suara saat keheningan terjadi beberapa saat di antara mereka.
Aura memalingkan pandangan ke arah Faris, menatap Faris dengan tatapan kesal. "Siapa yang marah?"
"Kamu"
"Enggak! Aku nggak marah. Terserah! Punya punya calon istri kek, calon apa kek. Aku nggak peduli!"
"Yakin nggak peduli?"
"Yakin!"
"Hm yaudah. Kalo yakin nggak usah marah-marah dong?"
"Geer banget sih jadi orang siapa yang marah?"
"Itu kamu marah lo Ra"
"Ekhem" Aura sejenak menyesuaikan suaranya. Gadis itu memalingkan pandangan ke arah Faris. "Aku enggak marah ya kak Faris..." Aura memaksakan senyuman. "Udah? Puas?"
Faris tertawa. Hal itu benar-benar membuat Aura semakin merasa kesal.
"Kok kak Faris malah ketawa? Emangnya ada yang lucu?"
"Ada"
"Apa?"
"Kamu!"
"Kenapa aku?"
"Iya kamu. Kamu lucu"
"Kak Faris kenapa sekarang jadi nyebelin sih?"
"Karena kamu juga nyebelin!"
"Kok aku lagi?"
"Iya kamu"
"Tau ah. Males!"
***
Aura dan Faris baru saja sampai di sebuah restoran mewah yang terdapat di pusat Kota London. Pria itu melirik sejenak ke arah Aura yang sedari tadi tidak lagi mengajak dirinya untuk berbicara. Gadis itu hanya diam, untuk menoleh ke arah Faris sedetik saja rasanya ia enggan.
Faris segera turun dari mobil. Pria itu berjalan, kemudian membuka pintu mobil untuk Aura.
"Ayok" Ajak Faris sembari mengulurkan tangannya pada Aura. Namun, gadis itu justru menepisnya. Aura keluar dari mobil tanpa mendahului Faris yang tengah berdiri di depannya. Gadis itu kini bejalan mendahului Faris.
Dari belakang, Faris menggeleng. Pria itu menutup kembali pintu mobil. Faris, mempercepat langkah kakinya Mengejar Aura. Tanpa aba-aba, pria itu menggenggam erat tangan Aura dari belakang.
Hal itu tentu saja membuat Aura kaget. Mata gadis itu membulat, ia memperhatikan Faris yang kini berjalan di samping dirinya. Namun, Faris justru tersenyum, memfokuskan pandangan ke depan seolah tidak tahu apa-apa.
.
.
.
Jangan lupa like, komen, dan vote ya. Makasih :)