Aura Story

Aura Story
Lancang



Faris menganggguk santai. "Sepagi ini? Apa jangan-jangan delivery ? Dan selama ini kak Faris boongin aku. Karena sebenarnya kak Faris gabisa masak?" Aura menatap Faris serius, gadis itu menatap tajam ke arah Faris, tatapan penuh akan kecurigaan.


Bibir Faris melengkung, pria itu tersenyum saat melihat raut wajah Aura yang ia rasa begitu menggemaskan.


Faris yang kala itu berdiri sekitar tiga langkah di depan Aura, kini memutar tubuhnya ke arah belakang. Pria itu kembali melangkah mendekat ke arah Aura. Hingga kini, posisi Faris tepat berada di depan Aura dengan jarak yang begitu dekat, nyaris tak memiliki celah di antara meraka.


Hal itu membuat Aura terdiam seketika. Jantung Aura tiba-tiba terpacu berdetak berkali lipat dari biasanya. Gadis itu memberanikan diri untuk mendongakkan kepalanya ke atas, menatap Faris dengan dengan tatapan ragu dan juga penuh tanda tanya, akan apa yang akan dilakukan oleh laki-laki itu saat ini.


Bibir Aura bergetar, jantung Aura semakin terpacu cepat saat Faris semakin mendekat, dan mendekat hingga nyaris tidak memberikan celah di antara mereka. Dan lama kelamaan, wajah pria itu kini semakin mendekat, mengarah menuju wajah Aura.


Hal itu benar-benar membuat Aura semakin merasa cemas. Tangan Aura dingin seketika, bibirnya tak mampu lagi untuk hanya mengeluarkan kata-kata.


"K-kak Faris mau ngapain?" Tanya Aura terbata-bata. Pipi gadis itu berubah merah merona entah kenapa. Bibir Aura menjadi pucat, entah takut, entah salah tingkah.


"Permisi, aku mau buka kulkas, mau ngambil buah" Ucap Faris. Pria itu melirik tangganya yang saat ini memegang pintu kulkas.


Mata Aura membulat. Gadis itu memalingkan pandangannya ke arah belakang, melirik tangan Faris yang ternyata sedari tadi sudah tidak sabar menunggu dirinya menjauh untum membuka pintu kulkas seperti yang dimaksud oleh pria tersebut. Detik kemudian, Aura kembali memalingkan pandangannya ke arah Faris yang kini tampak tersenyum usil, namun nyaris tak terlihat.


"Oh" Lirih Aura salah tingkah.


Gadis itu segera melangkah ke samping, memberikan ruang agar Faris bisa membuka pintu kulkas dengan leluasa.


Aura masih terdiam di tempat, memperhatikan Faris mengambil buah Apel dari dalam sana. Malu? itulah yang saat ini Aura rasakan. Bagaimana mungkin, gadis itu berfikiran bahwa Faris akan malakukan hal yang tidak akan mungkin pria itu lakukan.


Sementara Faris, sedari tadi tampak bersusah payah untuk menyembunyikan tawanya. Ingin rasanya Faris tertawa sekencang-kencangnya saat ini juga. Namun, sebisa mungkin pria itu mencoba menahannya agar tidak diketahui oleh Aura.


"Nggak usah salah tingkah, dan nggak usah mikir macem-macem. Itu semua beneran aku yang masak. Kalo kamu nggak percaya juga nggak papa" Bisik Faris di telinga Aura sebelum pria itu kembali meninggalkan Aura dari sana.


"Aishhh"


"****"


"****"


"****"


Aura memukul kepalanya sendiri, namun tentu saja tidak terlalu menyakiti.


"**** banget sih gue sampe mikir kak Faris bakalan..."


"Aishhh"


"Tau ah"


Menghentakkan kaki, dengan raut wajah kesal, Aura memutuskan untuk kembali ke dalam kamar dengan kekesalan yang kini ia rasakan.


***


"Aura..." Suara itu terdengar dari luar kamar.


Aura yang kala itu tengah fokus melanjutkan tulisannya di depan laptop, terpaksa harus menghentikan aktifitasnya sejenak saat gadis itu mendengar dengan jelas suara ketukan pintu dan suara Faris yang tengah memanggil dirinya dari luar kamar.


Menghembuskan nafas jengah, Aura segera berdiri, membuka pintu, menyauti panggilan pria yang akhir-akhir ini ia rasa begitu menyebalkan.


"Apa?" Tanya Aura memelas saat gadis itu membuka pintu kamar.


"Sarapan" sahut Faris santai.


"Nggak peduli, pokoknya makan!" Ketus Faris memaksa.


"Kak Faris kenapa maksa sih?"


"Ya iyalah, kalo kamu disini sampe kenapa-napa. Aku yang bakal disalahin Mama. Bisa-bisa..." Faris menghentikan ucapnnya. Membuat Aura merasa penasaran. Kening gadis itu berkerut dalam sembari memperhatikan Faris dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Bisa-bisa apa?" Tanya Aura.


"Enggak. Enggak ada apa-apa" Sahut Faris terbata-bata.


"Bisa-bisa apa kak Faris?" Tanya Aura sekali lagi dengan penuh paksaan. Namun, Faris justru tak menghiraukan, dengan tanpa berdosa, pria itu justru kembali ke meja makan tanpa permisi. Meninggalkan Aura di sana sendirian.


"Dasar. Dulu aja baik, lembut. Sekarang...nyebelin banget itu orang" Aura tak henti menggerutu kesal sembari memperhatikan Faris yang semakin lama semakin menjauh dari pandangan matanya.


***


Faris baru saja pulang dari kantor. Pria itu tersenyum lega. Kali ini Faris tidak lagi mendapati suasana Apartemen seperti kemaren. Hari ini semuanya tampak bersih, bahkan terteta rapi.


"Udah pinter itu anak sekarang" Lirih Faris tersenyum sembari membayangkan wajah Aura.


Faris memperhatikan suasana sekitar. Pria itu sama sekali tidak melihat keberadaan Aura. Namun, Faris tidak terlalu memusingkan hal itu. Karena Faris fikir, Aura mungkin tengah tertidur di dalam kamar. Atau justru masih sibuk melanjutkan tulisannya. Itulah sebabnya pria itu, berlalu masuk ke dalam kamar tanpa ingin mengganggu Aura.


Namun, saat waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 malam, saat Faris tengah asyik menonton televisi di sofa bed yang ada di ruang tengah, tiba-tiba fikiran pria itu seketika terlintas akan Aura.


Faris segera bangkit dari duduknya. Ia berjalan menuju kamar Aura yang letaknya tidak terlalu jauh dari ruang tengah.


"Ra..."


"Aura..."


Beberapa kali Faris mengetuk pintu kamar tersebut. Namun, tidak ada satu sahutan pun yang terdengar dari dalam sana.


Akhirnya Faris memberanikan diri untuk membuka pintu kamar yang kini menjadi kamar Aura itu tanpa permisi.


Saat membuka pintu kamar, hanya kegelapan yang Faris dapati. Faris menekan stop kontak untuk menghidupkan lampu. Hingga saat setiap inci ruangan itu tampak diterangi cahaya, Faris sama sekali tidak mendapati Aura di dalam sana.


Faris memperhatikan seisi kamar. Pria itu masih melihat jelas barang-barang Aura yang masih tersusun rapi di dalam sana. Hingga kini, pandangan Faris terfokus pada laptop yang terletak di atas meja yang ada di kamar tersebut. Laptop yang tampak terbuka sebagian.


Entahlah, kali ini, rasanya Faris begitu penasaran. Penasaran akan apa yang selama ini ditulis oleh Aura.


Perlahan pria itu membuka laptop tersebut. Lancang memang, namun karena rasa penasaran yang tak bisa ia tahan, dan selagi ada kesempatan, Faris akhirnya membaca beberapa tulisan yang selama ini ditulis oleh Aura.


Tulisan yang beberapa terdapat isi hati dan perasaannya. Mungkin sama dengan diary yang ia abadikan di laptop, bukan di buku diary seperti orang-orang biasanya.


.


.


.


.


Jangan lupa like, komen, dan vote ya. Makasih :) Maaf banget aku ganti judul lagi. Karena kemaren-kemaren aku masih bingung mau nyari judul yang pas buat ending dan konfliknya nanti. Hehhe Maklumin aja ya. Tapi ini judulnya udah pas kok, nggak akan aku ganti lagi. Makasih yang udah selalu dukung aku. 💕 Jangan lupa follow ig aku juga @Afrialusiana