Aura Story

Aura Story
Sesak



Di sebuah Kafe yang ada di pusat Kota Jakarta. Terlihat sepasang kekasih tengah bertengkar hebat di depan Cafe tersebut. Bunyi dentuman musih bahkan mengalahkan jeritan tangisan seorang gadis tersebut.


"Kamu jahat Vin, kamu jahat! Kamu udah janji sama aku, kamu udah janji akan selalu sama aku, kamu udah janji akan menjaga aku. Tapi apa? Sekarang kamu udah khianatin semuanya. Kamu lebih memilih dia daripada aku" Sorak seorang gadis sembari menunjuk gadis lain yang tampak menjauh dari mereka berdua.


Gadis itu berbicara sambil terisak. Dadanya sungguh terasa sesak saat mendapati sang kekasih yang sudah menjalin hubungan selama lima tahun dengan dirinya itu tengah bersama wanita lain di Cafe tersebut.


"Sekarang kamu udah liat kan? Kamu udah liat semuanya. Jadi aku nggak perlu capek-capek lagi menutupi semuanya. Aku nggak perlu lagi berbohong sama kamu. Dan kamu juga udah tau kan kesimpulannya apa? Mulai sekarang kita putus!" Ucap pria tersebut.


Sementara gadis yang ada di depannya itu kaget. Matanya membulat tidak percaya. Pria yang selama ini ia cinta, pria yang sangat ia sayangi, kini benar-benar menyakiti hatinya. Dada gadis itu benar-benar terasa sesak.


"Aku nggak percaya Vin, aku nggak percaya kalo kamu akan ngelakuin ini sama aku. Aku nggak percaya, begitu mudahnya kamu melupakan semuanya, melupakan kenangan kita selama lima tahun. Lima tahun Vin, kamu tau itu bukanlah waktu yang singkat"


"Iya, aku tau. Dan aku memang ngelakuin ini semua. Aku memang kejam. Kenapa? Makannya jadi cewek jangan terlalu mudah terbawa perasaan" Bentak laki-laki tersebut.


"Apa aku salah? Apa aku salah mempercayai kamu? Apa aku salah terbawa perasaan dengan kebaikan kamu selama ini? Apa aku salah terbawa perasaan dengan kebersamaan kita selama lima tahun? Apa aku salah?" Tanya gadis itu masih terisak.


"Iya, lo salah besar. Lo terlalu **** untuk percaya sama laki-laki seperti gue" Kata aku kamu sudah berubah menjadi lo gue.


Nafas gadis itu semakin sesak. Ia tak kuat lagi mendengar perkataan yang keluar dari bibir pria yang sangat dirinya cintai itu.


"Tapi salah aku apa? Salah aku apa sama kamu? Selama ini kita baik-baik aja. Aku selalu bilang sama ornag-orang kalo aku punya pacar baik, perhatian, dan sayang sama aku. Aku nggak tau kenapa kamu bisa kaya gini Vin. Tolong kamu jelasin. Apa salah aku hingga kamu kaya gini?" Paksa gadis tersebut.


"Satu hal yang harus lo sadari. Perasaan seseorang memang bisa berubah kapan aja. Dan nggak usah terlalu gampang percaya sama laki-laki, termasuk gue"


Pria itu berlalu pergi meninggalkan gadis tersebut. Gadis yang dulu menjadi satu-satunya ratu dihatinya.


Gadis yang tidak lain adalah Tasya, sepupu Faris dan Farrel, masih terdiam di tempat. Tasya tidak percaya. Apa salah Tasya hingga semua ini terjadi pada dirinya? Tasya berjalan dari Kafe tersebut dengan langkah gontai. Ia meninggalkan teman-temanya yang ada disana begitu saja.


Tasya tidak menyangka, kedatangannya ke sini, hanya membuat hatinya terluka. Tasya tidak percaya, hubungan yang ia fikir akan bertahan selamanya, nyatanya terhenti begitu saja. Tanpa Tasya tau, apa salah dirinya.


Flashback


Tasya dan teman-temannya baru saja sampai di Cafe Jingga tempat biasa mereka berkumpul. Namun, tiba-tiba Tasya kebelet ingin ke kamar kecil. Gadis itu segera berpamitan pada teman-temannya sebentar. Tasya berlalu menuju toilet di Cafe tersebut, sementara teman-teman Tasya mencari tempat untuk mereka duduki.


Namun, bibir Tasya seketika membulat, saat dirinya baru saja keluar dari toilet. Tasya melihat sekilas sepasang manusia berjalan tidak jauh dari dirinya. Sepasang manusia yang tampak bergandengan mesra, tertawa bersama dari kejauhan keluar dari Cafe.


Tasya tidak percaya, bahwa pria yang sedang bersama seorang gadis tersebut adalah kekasihnya. Kekasihnya dari jaman putih abu-abu. Tasya tidak percaya, bagaimana mungkin Alvin bisa berada di sana. Sementara yang Tasya tahu Alvin sedang berada di Bandung. Di Kota tempat mereka dulu selalu bersama. Tasya dan Alvin memang menjalin hubungan jarak jauh semenjak Tasya melanjutkan studynya di Universitas Trisakti dan tinggal bersama Yasmin tantenya di Jakarta. Sementara Alvin melanjutkan studynya di Bandung.


Tasya tak mampu lagi menahan amarahnya, gadis itu mendekat pada Alvin dan gadis yang saat ini bersama Alvin dengan langkah tergesa gesa. Tasya mencoba meminta penjelasan, kenapa pria itu bisa berada di Jakarta? kenapa pria itu bisa bersama dengan seorang wanita? dan... kenapa Alvin berani mengkhianati dirinya?


Hingga akhirnya, Alvin mengakui segalanya, mengakui bahwa gadis sudah pergi meninggalkan mereka berdua itu adalah kekasih Alvin. Alvin mengakui bahwa selama ini Alvin juga berada di Jakarta, Tapi Tasya benar-benar tidak mengetahuinya.


Tasya benar-benar tak mampu menahan semuanya. Ia benar-benar tidak percaya. Alvin**nya, cintanya, berani melakukan itu semua pada Tasya. Tasya tidak percaya, tapi itulah faktanya.


***


Tasya kini berjalan di sebuah jembatan di jalanan pusat kota. Gadis itu tak berhenti menangis sedari tadi. Jalanan yang berisik kini menemani perjalanan Tasya. Hatinya saat ini benar-benar rapuh.


"Kenapa Vin, kenapa?" Sorak Tasya sekuat tenaga. Gadis itu rasanya benar-benar ingin bunuh diri sekarang juga. Tapi sayang, Tasya masih takut akan dosa.


Tasya terus berjalan menelusuri jalanan yang tanpa ia sadari. Gadis itu bahkan tidak peduli kemana saat ini dirinya berjalan. Di keramaian, Tasya memeperhatikan suasana sekitar. Namun, semua itu bahkan tak mampu mengobati rasa sakit yang kini ia rasakan.


Hingga akhirnya, Tasya sampai di sebuah taman. Gadis itu masih menangis, merasakan sesak yang teramat dalam di dadanya. Kenangan masa putih abu-abu bersama Alvin kini menari-nari di ingatan Tasya. Apa Tasya bisa, melupakan pria itu, pria yang bahkan tidak lagi memikirkan dirinya.


"Mama... Aku mau pulang." Lirih Tasya dalam tangisannya. Gadis itu seketika teringat akan Mamanya, sandarannya, dan teman curhatnya.


"Minum dulu, nanti kepala kamu sakit. Jangan nangis terus, nggak ada gunanya juga. Dia bahkan nggak peduli sama sekali" Tiba-tiba seseorang yang baru saja datang memberikan sebotol minuman pada Tasya.


Tasya mendongakkan kepalanya ke atas, gadis itu segera menghapus air matanya. Tasya menatap pria itu dengan raut wajah bingung.


.


.


.


Jangan lupa like, komen, dan vote ya. Makasih :)