Aura Story

Aura Story
Dasar Anak Muda



Suara roda koper terdengar berbunyi lirih. Faris tampak menekan beberapa tombol untuk membuka password Apartemen miliknya dengan Aura terlihat berdiri di belakang pria itu sembari memperhatikan suasana sekitar.


"Ayok" ajak Faris. Aura seketika menoleh dan melangkahkan kaki masuk ke dalam tempat yang ditinggali oleh Faris. Mata Aura tampak merajalela sembari memperhatikan setiap inci sudut Apartemen yang ditinggali Faris selama di London. Tidak terlalu besar, dan tidak terlalu kecil. Tapi bisa dibilang pas untuk seorang bujangan yang tinggal seorang diri dan juga bisa dibilang cukup megah dan mewah.


Dari dalam sana, terlihat view yang sangat bagus dan indah jika dilihat dari jendela kaca yang terdapat dari Apartemen tersebut. Gedung-gedung lain yang menjulang tinggi terlihat begitu indah jika diperhatikan dari sana.


"Selama di London kak Faris tinggal disini sendiri?" Tanya Aura tanpa menoleh ke arah Faris. Karena mata gadis itu sedari tadi masih sibuk memperhatian setiap sudut dan barang-barang yang tampak tertata rapi disetiap ruangan Apartemen Faris tersebut.


"Enggak! sama istri aku" Jawab Faris santai sembari meneguk satu gelas air putih yang sebelumnya ia tuangkan ke dalam gelas.


Aura terdiam, gadis itu seketika menoleh ke arah belakang dengan tatapan dingin. Wajah Aura seketika memerah padam. Entah mengapa Aura merasa kesal akan jawaban Faris yang sama sekali tak ingin ia dengar.


Aura melotot tajam ke arah Faris yang tampak duduk santai di sebuah sofa yang ada di apartemen tersebut. Pria itu sama sekali tidak merasa bersalah dengan ucapannya barusan. Faris tampak santai dan tidak memperdulikan kekesalan yang dirasakan oleh Aura.


"Istri? Kapan kawinnya?" Tanya Aura jutek, namun sejujurnya gadis itu juga merasa penasaran.


"Nikah kali, masa iya kawin. Kamu pikir aku binatang?" Sahut Faris tak terima.


"Iya iya nikah. Kapan nikahnya?" Tanya Aura seolah mengintrogasi.


"Cieelah pengen tau ya?" Ejek Faris sedikit tertawa.


Aura mendengus kesal. Gadis itu memalingkan wajah cemberutnya dari Faris serta melipat kedua tangan di dada.


"Nyebelin banget sih kak Faris sekarang" Gumam Aura di dalam hati.


Tak berselang lama. "Bencanda. Aku disini tinggal sendiri, mungkin besok-besok baru sama istri" Ucap Faris yang tiba-tiba mengusap rambut Aura dari arah belakang. "Yaudah, sekarang ikut aku" Sambung pria itu kemudian.


Seketika, bibir Aura melengkung membentuk subuah senyuman. Aura menuruti ucapan Faris, gadis itu kemudian melangkahkan kaki mengikuti langkah Faris. Hingga kini, mereka sudah berada di sebuah kamar yang terlihat tidak terlalu besar, namun juga tidak terlalu kecil. Mata Aura terkesiap saat melihat interior kamar tersebut. Ditambah dengan suasana kamar yang terasa nyaman dan barang-barang yang terlihat tertata rapi. Aura baru tahu, ternyata Faris serapi itu.


"Untuk sementara waktu kamu tidur di kamar ini ya Ra, aku tidur di kamar satu lagi" Ucap Faris, karena di Apartrmen pria itu kebetulan ada dua kamar.


"Kalo aku nggak mau gimana?"


"Lah, terus kamu maunya dimana?"


"Dimana-mana hatiku senang" Senyum lebar Aura tampilkan dari bibirnya. Gadis itu menatap Faris hingga pria itu semakin merasa gemas dibuatnya.


"Dasar" Ucap Faris mengacak-acak rambut Aura. Faris berjalan keluar dari kamar tersebut. Sementara Aura tampak tersenyum menatap punggung Faris yang semakin lama semakin menjauh dari pandangan matanya.


Faris kembali duduk di sofa yang ada depan televisi apartemen nya. Pria itu tampak merogoh saku celananya, menscroll layar ponsel yang sedari tadi ia abaikan.


Hingga panggilan Yasmin Faris dapati sebanyak 130 kali tertera di layar ponsel. Kening Faris tertaut, pria itu merasa heran dengan Yasmin yang tiba-tiba menelfon pria itu sampai sebanyak ini.


Tanpa berfikir panjang, Faris segera mengotak atik layar ponsel tersebut. Hingga kini, benda pipih yang selalu digunakan untuk bertukar informasi itu ia letakkan di telinga.


Hingga tak berselang lama, suara seorang perempuan paruh baya terdengar nyaring dari seberang sana.


"Halo kak. Kamu darimana aja sih? Dari tadi Mama telfonin nggak di angkat? Kamu bikin Mama khawatir tau nggak sih kak? Kalo orang tua nelfon itu di angkat, dikasih tau gimana gimananya. Jangan bikin panik gini Kak. Kamu nggak tau apa gimana pemikiran orang tua kalo lagi jauh dari anaknya apa?"


Faris memejamkan mata seiring dengan helaan nafas yang saat ini ikut terbuang dari hidungnya saat mendengar ocehan Yasmin yang bertubi-tubi tanpa henti.


"Udah Ma? Sekarang Mama ambil nafas dulu ya? Baru hembuskan pelan-pelan"


"Hehe canda Mama sayang. Ada apa Ma? Lagian Mama juga tumben banget nelfonin aku sampe ratusan kali gitu. Nggak biasanya lo Mama sayang" Sahut Faris santai.


"Ya gimana Mama nggak panik kak. Asal kamu tau, Aura itu nyusul kamu ke London. Dan sampai sekarang Mami sama Papinya nelfon nggak di angkat. Sementara kata orang yang nganterin Aura tadi siang, dia udah nganterin Aura sesuai alamat. Gimana Mama nggak panik coba kalo anak orang bisa hilang di sana?"


Faris tersenyum. "Aura udah sama aku ma. Tadi..."


"Astaughfirullahal'azim kakkkkkk. Bener-bener kalian ya. Mentang-mentang lagi kasmaran malah enak-enakan lepas kangen, lepas rindu tanpa ngabarin orang tua. Kita disini cemas setengah mati karena belum ada kabar dari Aura. Tapi kalian disana malah santai-santai aja menikmati waktu berdua. Dasar anak muda jaman sekarang ya..."


Kening Faris tertaut heran mendengar ucapan sang Mama. "Ma, bukan gitu. Tapi tadi itu..."


"Ah udah deh kak. Yaudah, sekarang kamu jagain Aura disana. Awas aja kalo sampe macam-macam, Mama nggak akan segan-segan potong buyung puyuh kamu itu."


"Kalo memang udah kebelet dibawa pulang aja, dihalalin dulu. jangan sampe ngecewain Mama kamu kak. Jagain Aura disana kayak kamu jagain adik-adik kamu. Awas aja kalo kamu sampe macam-macam, apalagi mencari kesempatan dalam kesempitan." Ucap Yasmin penuh penekanan.


Faris tertawa. "Kalo Mama potong, nanti Mama nggak bisa punya cucu dong?"


"Udah ada kok. Tujuh bulan lagi juga cucu Mama lahir"


"Lah, itu kan anaknya si Farel Ma, bukan anak aku"


"Ya intinya kan cucu Mama"


"Oo jadi gitu? Jadi Mama nggak mau punya cucu dari aku? Yaudah atuh sok potong aja biar langsung dikubur sekalian sama orangnya."


Tawa Yasmin memecah seketika dari seberang sana. "Apaan sih kak nggak usah baperan deh. Ya Mama pasti mau juga lag cucu dari kamu, Farel, dan juga Tasya. Makannya, ada kesempatan bagus tuh sekarang. Tapi ingat, cukup luluhkan hatinya, jangan sampe di apa apain orangnya. Ngerti kamu?"


"Pake di apa-apain segala. Mama kira Aura adonan kue apa. Yaudah deh Ma. Mama tenang aja, aku akan jaga Aura disini, dan nggak mungkin juga aku apa-apain dia. Kecuali udah jadi istri aku ya gapapa lah ya"


"Pede sekali anda" Sahut Yasmin mengejek Faris. "Emangnya Aura udah mau sama kamu?" Sambung wanita itu kemudian.


"Ya makanya, aku butuh do'a dari Mama"


"Mama selalu do'ain yang terbaik pastinya untuk anak-anak Mama. Pokoknya jaga diri kalian baik-baik disana. Ingat, jagain Aura. Sekarang dia tanggung jawab kamu itu lo."


"Iya Mama bawel. Daa Mama"


"Daa sayang" Sambungan terfon terputus.


.


.


.


.


.


Jangan lupa like, komen, dan vote ya. Makasih :)