Aura Story

Aura Story
Berantakan



Sepasang sepatu pantofel terdengar berbunyi nyaring di dalam ruangan yang tampak sepi. Sepasang kaki kini melangkah masuk dari pintu depan Apartemen Faris. Netranya tampak memperhatikan suasana sekitar yang terdengar hening. Hingga mata laki-laki itu membulat saat dirinya sampai di ruang tengah. Lebih tepatnya di sofa bed yang ada di depan televisi.


Pria yang tidak lain adalah Faris, seketika mengerutkan keningnya dalam, saat pria itu memperhatikan suasana Apartemennya yang biasa terlihat bersih, sekarang justru sebaliknya. Berantakan, bahkan terlihat seperti kapal pecah.


Sampah makanan berserakan dimana-mana. Pun, dengan Aura yang tampak tertidur pulas di sofa dengan remot tv masih setia ia genggam di tangan.


Sejenak, Faris moleh ke arah jam yang menempel di dinding. Dilihatnya waktu sudah menunjukkan pukul 23.00. Kepala Faris menggeleng diikuti dengan bibir yang melengkung membentuk sebuah senyuman sembari memperhatikan seorang gadis yang kini menjadi pusat perhatiannya. Faris benar-benar tidak pernah menyangka, bahwa gadis yang selama ini ia sukai, ternyata mempunyai kebiasaan buruk seperti yang ia lihat saat ini.


Menaruh tas kerja di atas meja terdekat, Faris segera membuka jas hitam yang semula melekat di tubuhnya. Pria itu menaruh jas tersebut di atas meja yang sama. Sedikit melipat lengan kemeja putih yang saat ini ia kenakan, Faris perlahan mendekat ke arah Aura.


Pria itu kini berdiri di samping sofa tempat dimana Aura saat ini tertidur lelap dengan posisi tangan ia rentangkan tak tentu Arah.


Faris menatap Aura sejenak, sebelum pria itu mengangkat tubuh Aura, memindahkan


gadis itu ke dalam kamarnya. "Berat banget" Bibir Faris berucap pelan.


"Awas lo ya. Gue cakar-cakar juga tuh muka lo kalo nanti kita ketemu lagi" Racau Aura saat Faris baru saja hendak keluar dari kamarnya. Sesaat setelah pria itu membaringkan Aura ditempat tidur.


Faris menghentikan langkahnya sejenak, pria itu meneloh ke arah belakang, melirik Aura yang saat ini tengah mengoceh tidak jelas dengan mata yang masih terpejam.


"Apa lo liat-liat? Gue congkel juga tuh mata lo mau?" Racau Aura seolah gadis itu melihat jelas bahwa Faris saat ini tengah memperhatikan dirinya. Padahal, mata gadis itu masih tampak tertutup rapat.


Kening Faris berkerut dalam, diiringi dengan gelengan kepala serta seulas senyuman yang terpancar dari bibirnya, sebelum pria itu benar-benar keluar dari kamar tersebut untuk kembali ke kamarnya.


***


Saat waktu menunjukkan pukul 00.00. Faris kembali keluar dari kamarnya. Tujuan utama pria itu saat ini adalah ruang tengah. Untuk apa lagi jika bukan untuk membersihkan semuanya. Membersihkan ruangan yang sebelumnya ia tinggalkan dengan sangat bersih, namun sudah seperti kapal pecah saat dirinya kembali.


Meskipun sebenarnya Faris benar-benar merasa lelah akan pekerjaannya yang cukup banyak seharian di di kantor siang tadi, namun karena sedari kecil, Yasmin selalu mengajarkan kedua putranya hidup bersih, membuat Faris memilih membersihkan Apartemennya itu terlebih dahulu. Karena pria itu tidak akan sabar hanya untuk menunggu besok pagi. Malam ini semuanya harus bersih kembali. Fikir Faris seperti itu.


Satu persatu sampah makanan yang bertebaran di lantai Faris bersihkan, ia pungut satu persatu untuk di masukkan kedalam kantong kresek yang saat ini ia pengang. Faris tampak menyapu, serta menata kembali dengan rapi barang-barnag yang sempat berserakan dan berantakan akan ulah Aura.


Faris mengerjakan semuanya dengan senang hati meskipun saat ini kelelahan melanda dirinya. Pria itu sama sekali tak peduli bahkan saat waktu istirahatnya menjadi berkurang.


Faris mendudukkan tubuhnya sesaat di atas sofa setelah menyelesaikan semunya. Nafas pria itu tampak terpacu dengan cepat diiringi oleh keringat yang ikut bercucurah dari dahinya.


Sesaat, bayangan Aura terlintas di fikiran Faris. Bibir pria itu tersenyum. Faris fikir selama ini Aura adalah seorang gadis yang sangat bersih dan rapi. Namun siapa sangka, hal itu berlaku oleh Aura hanya ketika gadis itu berada diluar rumah. Namun, saat di dalam rumah, seperti inilah jadinya. Gadis itu selalu berlaku seenaknya. Dan hal itulah yang membuat Aura selalu bertengkar dan berdebat dengan Hafis sang kakak saat gadis itu dirumahnya.


***


"Tumben bangun pagi"


Aura menoleh ke arah belakang. Langkah kaki Aura yang sebelumnya hendak menuju dapur, terhenti saat rungunya menangkap jelas suara seseorang dari ruang tengah saat Aura melewati tempat tersebut.


"Kenapa? Ada masalah?" Ketus Aura tersenyum miring. Gadis itu menatap Faris dengan tatapan tidak suka.


Aura juga berbicara tanpa merasa bersalah sedikitpun. Gadis itu bahkan sama sekali tidak menyadari, akan tempat yang semalam ia buat berantakan, sekarang sudah rapi kembali.


"Idih jutek amat sekarang mbak. Semalam mau nyakar siapa?" Seru Faris sedikit tertawa.


"Si Ca? Ca siapa?" Tanya Faris memastikan.


"Si kampret. Hooh, si kampret" Sahut Aura salah tingkah.


"Si kampret? Kampret siapa?" Tanya Faris bingung.


"Udah ah, pengen tau aja deh urusan orang" Ketus Aura. Gadis itu berlalu tanpa permisi hendak menuju dapur.


Namun, langkah Aura kembali terhenti saat dirinya baru menyadari akan sesuatu yang ia rasa berbeda. Aura memutar tubuhnya kembali. Gadis itu melangkah, mendekat ke arah Faris. Aura berdiri dengan jarak hanya dua meter dari tempat Faris berada. Gadis itu tampak memikirkan hal yang ia rasa mengganjal dalam fikirannnya. Hingga, mata Aura membulat saat dirinya mengingat akan sesuatu.


"Kenapa tempat ini jadi bersih?" Ucap Aura pelan dan sedikit ragu sembari memperhatikan suasana sekitar ruang tengah Apartemen Faris tersebut.


"Ini semua kak Faris yang beresin?" Tanya Aura antusias.


"Beresin apaan?" Sahut Faris pura-pura **** sembari memperhatikan sekeliling.


"Ini..." Aura menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Apa kemaren aku mimipi? Perasaan kemaren ini Apartemen berantakan banget deh, kenapa sekarang jadi bersih gini?" Lirih Aura pelan. Namun masih terdengar jelas ditelinga Faris. Pria itu hanya diam, menyembunyikan senyuman yang nyaris tak terlihat.


"Kamu kenapa sih? Kesambet?" Tanya Faris.


Aura masih tampak kebingungan memikirkan sesuatu. "Hmm yaudahlah bodoamat"


Aura memutar tubuhnya kembali. Gadis itu bergegas menuju dapur, berniat untuk menyiapkan sarapan pagi ini. Aura sengaja melakukan hal itu untuk membalas rasa bersalahnya kemaren pada Faris karena telah bangun kesiangan.


Namun, mata gadis itu kembali di buat membulat seketika, saat dirinya kembali mendapati beberapa makanan yang sudah tertata rapi di meja makan. Merasa tidak percaya, Aura kembali melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Memastikan bahwa hari ini ia tidak lagi bangun kesiangan.


"Ini jam gue yang salah apa gimana ya?" Celetuk Aura masih tampak berfikir. Namun, ia rasa ia bisa memastikan bahwa waktu benar-benar masih pukul 06.00 pagi. Tapi Faris sudah menyiapakan semua ini. "Luar biasa". Fikir Aura seperti itu.


Tak berselang lama, saat Aura masih tampak bengong di tempat, Faris datang dari ruang tengah, mengambil segelas air putih untuk ia minum.


"Ngapain bengong? Kesambet baru tau rasa" Ucap Faris sembari menyenggoh bahu Aura saat pria itu hendak kembali ke ruang tengah.


Namun, lamunan Aura seketika buyar saat mendengar suara laki-laki tersebut. Aura menatap Faris sejenak.


"Ini semua kak Faris yang masak?" Tanya Aura memastikan.


Faris menganggguk santai. "Sepagi ini? Apa jangan-jangan delivery? Dan selama ini kak Faris boongin aku. Karena sebenarnya kak Faris gabisa masak?" Ucap Aura seolah mengintrogasi.


.


.


.


.


Vote nya kurang banyak nih😭 Ayo dong vote sebanyak-banyaknya biar makin semangat up juga akunya🙄