Aura Story

Aura Story
Weekend



Maaf kalo ada typo dan kata berulang-ulang.


Hari ini adalah weekend. Dan Faris hari ini libur dan tidak pergi ke kantor. Pasangan suami istri itu kini menghabiskan waktu mereka berdua di rumah karena Bi Anis dan Kang Mamang masih belum kembali ke Jakarta.


"Kak, aku mau beres-beres rumah dulu ya." Pamit Aura setelah menyelesaikan tulisannya sehabis sarapan tadi pagi. Gadis itu segera bangkit dari tempat tidur.


Aura bejalan keluar dari kamar. Kening gadis itu tertaut ketika Aura menyadari ada seseorang yang mengekorinya dari belakang. Aura menghentikan langkahnya sejenak, kemudian gadis itu menoleh. Raut wajah Aura berubah bingung saat dirinya mendapati Faris di belakang.


"Kak Faris ngapain ngikutin aku?" Tanya Aura bingung.


"Mau bantuin kamu" Jawab Faris santai.


Aura memutar tubuhnya ke arah belakang. "Nggak usah kak, aku bisa sendiri" Tolak Aura.


"Jangan sayang. Aku nggak mau kamu kecapekan, jadi gapapa ya, aku bantuin kamu beres-beres rumah?" Ucap Faris memohon.


Aura memutar bola matanya diiringi dengan hembusan nafas kasar yang keluar dari hidunnya.


"Kak, aku nggak bakal kecapekan. Kak Faris tunggu di kamar aja. Aku juga kerjanya sebentar" Tolak Aura. "Lagian kalo kakak bantuin, kerjaan aku malah jadi makin berantakan nantinya" Sambung gadis itu kemudian.


"Tapi say..."


"Yaudah deh. Terserah kak Faris aja" Jawab Aura pasrah. Karena mood gadis itu sungguh sedang tidak baik untuk hanya sekedar meladeni Faris berdebat. Entahlah, Aura juga tidak tau, padahal dirinya sama sekali sedang tidak datang bulan. Tapi rasanya hari ini moodnya benar-benar terasa buruk.


Aura kembali melanjutkan langkah kakinya menuju dapur. Gadis itu kini mulai mencuci satu persatu piring bekas makanan mereka barusan.


Sementara Faris, pria itu juga ikut memainkan sabun. Pria itu benar-benar seperti beo. Apa yang Aura lakukan, maka Faris juga akan menirukannya.


Aura menatap Faris datar, entahlah gadis itu kini merasa kesal dengan suaminya itu. Bukan malah membantu, tapi menurut Aura Faris semakim membuat pekerjaannya berantakan.


"Kak, aku serius deh, mending kak Faris nggam usah bantuin aku" Ucap Aura.


"Enggak sayang, aku akan bantuin kamu" Sahut Faris keras kepala.


"Yaudah, kakak bantu ngelap piringnya aja. Nggak usah ngikut nyucinya" Pasrah Aura.


"Siap bos" Sahut Faris penuh semangat.


Kini, pasangan suami istri itu tampak bekerja sama mencuci piring di dapur. Tapi, tidak ada canda dan tawa seperti biasanya. Karena entah kenapa mood Aura benar- benar terlihat buruk.


Faris sedari tadi tak berhenti memperhatikan Aura. Pria itu jelas saja merasakan bahwa ada yang aneh dari istrinya.


"Yang, kamu kenapa sih? Kamu marah sama aku?" Tanya Faris dengan raut wajah kecewa.


"Enggak" Sahut Aura singkat.


"Terus kenapa muka kamu gitu?" Tanya Faris.


"Ya nggak papa. Dari dulu juga muka aku kaya gini terus ko nggak pernah berubah-berubah" Jawab Aura jutek.


Faris menaruh piring yang ada di tangannya. Pria itu tiba-tiba melingkatkan tangannya di pinggang Aura dari belakang.


"Aku minta maaf ya, kalo aku salah. Tapi jangan diemin aku kaya gini. Aku tau aku keras kepala, tapi aku cuma nggak mau kamu capek" Ucap Faris saat pria itu menenggelamkan kepalanya di ceruk leher sang istri.


"Kak, aku nggak marah sama sekali. Kak Faris mending lepasin aku deh, aku lagi kerja. Kak Faris duduk aja dulu di sana" Ucap Aura sembari melirik ke arah meja makan.


"Hm yaudah deh, aku nggak akan gangguin kamu" Sahut Faris pasrah. Pria itu kemudian berjalan menuju meja makan dan duduk di salah satu kursi yang ada di sana.


Sedari tadi, Faris hanya memperhatikan Aura yang sedang berkerja. Pria itu bingung, Faris tidak mengerti kenapa wanita itu.


Aura baru saja selesai mencuci piring. Gadis itu kemudian berlalu menuju ruang tengah. Sementara Faris, pria itu kembali mengekori istrinya itu dari belakang.


"Yang" Panggil Faris masih mengekori sang istri.


"Kamu lagi PMS ya." Tanya Faris.


"Enggak, sahut Aura singkat"


***


Faris kini tengah duduk di sofa yang ada di ruang tengah. Sementara Aura, dia terlihat sedang mengelap dan membersihkan benda-benda yang sebernarnya juga tidak berdebu sama sekali.


Faris masih merasa bingung. Dia ingin bertanya, tapi takut Aura kembali marah padanya. Itulah sebabnya sekarang pria itu memilih untuk diam di sofa sambil memperhatikan istrinya yang sedang bekerja.


Aura kini tampak tengah melompat-lompat mengambil sesuatu dari lemari yang terletak di rak paling atas. Gadis itu tampak kesulitan menjangkau benda tersebut karena tubuhnya yang bisa terbilang pendek, namun tidak pendek sekali juga.


Faris yang melihat hal itu, segera berdiri dan menggendong sang istri dari belakang.


Aura kaget. Gadis itu menoleh ke bawah. Melihat suaminya yang tengah menggendong dirinya itu dengan penuh tenaga.


"Kak Faris ngapain?" Tanya Aura.


"Udah yang. Nggak usah banyak tanya. Kamu ambil aja apa yang mau kamu ambil barusan. Berat ini badan kamu" Ucap Faris sambil menahan tubuh Aura yang memang terasa berat.


Entahlah, Aura merasa kesal saat suaminya itu mengatakan dirinya berat. "Kalo berat turunin." Ucap Aura kesal.


"Udah yang. Cepetan, kamu ambil aja yang" Sahut Faris.


"Udah dari tadi" Sahut Aura santai.


"Astaga" Faris segera menurunkan istrinya itu dari gendongan Faris.


"Kenapa nggak bilang dari tadi?" Tanya Faris.


"Kenapa? Nggak ikhlas bantuin? Kenapa di bantuin?" Sahut Aura kesal. "Aku tau, aku berat. Makannya nggak usah gendong-gendong aku lagi" Ucap Aura kemudian pergi meninggalkan Faris begitu saja.


"Yang, kamu kenapa sih?" Marah karena aku bilang berat?" Tanya Faris setelah pria itu berhasil menghentikan langkah sang istri.


"I don't no" Sahut Aura acuh.


"Yang" Panggil Faris. Pria itu dengan cepat memeluk Aura dari belakang.


"Kalo aku ada salah bilang dong, jangan kaya gini. Aku kan jadi bingung sendiri. Aku juga udah ngikutin ucapan kamu, nggak usah bantuin kamu bersih-bersih. Tapi kenapa masih marah sih?"


"Kalo kamu marah karena aku bilang kamu berat, aku minta maaf ya. Kamu nggak berat kok. Kamu ringan, ringannn banget" Ucap Faris memohon maaf.


Aura masih bersikap dingin. Gadis itu menatap Faris dengan tatapan menyeringai. "Nggak usah sok-sok an bilang aku ringan deh. Padahal tadi juga udah menyakui tubuh aku berat" Celetuk Aura kesal.


"Lah, salah mulu gue" Gumam Faris pelan.


"Aku masih dengar" Sahut Aura.


"Iya yang. Aku lupa, telinga kamu masih sehat" Ucap Faris cengengesan sembari menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.


.


.


JANGAN LUPA FOLLOW INSTAGRAM AKU YA @LUSIAFRIA


PANTENGIN PENGUMUMAN DARI SANA YA, SEPUTAR KARYA ATAU UPDATE. MAKASIH :)


YANG MAU CERITA ANIN (MY COLD HUSBAND) LANJUT SABAR YA, AKU MAU SELESAIIN CERITA AURA DULU, SETELAH AURA TAMAT, AKU AKAN FOKUS SAMA CERITA ANIN. JADI, YANG BELUM BACA, KUY BACA DULU. HEHE