
Pukul enam pagi. Aura baru saja terbangun dari tidur lelapnya. Gadis itu mengerjap beberapa kali hingga matanya terbuka sempurna. Aura melirik tangan seseorang yang kini melingkar di pimggangnya.
Senyum gadis itu mengembang ketika saat Aura mendapati Faris yang masih terlelap di hadapannya. Gadis itu memperhatikan wajah pria tampan yang tidak lain adalah suaminya itu dengan seksama. Matanya, hidungnya, alisnya tebalnya, bibirnya, membuat Aura benar-benar terpesona.
"Mulai detik ini aku bakalan liat pemandangan seperti ini setiap pagi. Pemandangan yang sangat indah dan menyejukkan hati. Ketika melihat kamu ada di sini" Aura mengelus pipi Faris lembut. Senyuman gadis itu sedikitpun tak menyerut sedari tadi. "Menggemaskan" Aura mengecup kening dan pipi Faris dengan penuh kasih sayang, sebelum gadis itu bangkit dari tidurnya.
Aura segera berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Beberapa saat kemudian, Aura sudah siap dengan piyama rumahannya. Gadis itu segera keluar dari kamar. Tujuan Aura saat ini adalah dapur. Gadis itu hendak menyiapkan sarapan untuk dirinya dan juga Faris.
Di rumah mereka memang ada asisten rumah tangga yang bernama bi Anis. Namun, pekerjaan asistennya tidak masuk ke dalam hal masak memasak. Karena sedari awal, Aura mamang sudah bertekat untuk mengurus Faris dengan tangannya sendiri sebisa Aura, terutama untuk makanan, gadis itu ingin Faris menikmati makanannya setiap hari, bukan orang lain. Aura hanya ingin menjadi istri yang berguna untuk Faris.
Di rumah mereka, Bi Anis hanya bertugas untuk mebersihkan rumah, dan menyiapkan segala keperluan di dapur.
Semua makanan sudah tertata rapi di meja makan. Gadis manja itu ternyata juga pintar memasak.
"Akhirnya" Ucap Aura tersenyum menatap beberapa makanan yang terlihat menggiurkan di meja makan. Ini adalah hari pertama Aura menjadi istri untuk Faris.
"Wah Non Aura masakannya wangi banget nih. Pasti enak" Ucap Bi Anis yang baru saja datang dari kamarnya.
"Hehe untuk suami bik" Sahut Aura cengengesan.
"Den Faris beruntung banget dapat istri kaya mba Aura"
"Enggak bik. Bibik salah. Akulah orang yang paling beruntung di dunia ini karena udah dapetin kak Faris." Ucap Aura tersenyum.
"Hehe iya Non. Sama-sama beruntung" Sahut Bi Anis.
"Bibi sama kang Mamang juga" Aura mengelus pundak wanita paru baya itu dengan bibir tersenyum.
"Aku ke kamar dulu ya Bik. Mau bangunin suami" Ucap Aura menaik turunkan alisnya. Membuat Bi Anis hanya bisa menggeleng-geleng kepala melihat tingkah majikannya itu.
"Iya Non. Semangat" Sahut Bi Anis.
"Oke Bik. Semangat...Semangat"
***
Aura sudah kembali ke dalam kamar. Gadis itu kini berdiri di ambang pintu. Pandangan Aura fokus pada pria yang masih berbaring di tempat tidur, pria yang masih terlelap akan tidurnya.
Aura kembali mendekat. Gadis itu melangkahkan kakinya perlahan hingga kini, posisi Aura sudah berada di tepi ranjang. Sejenak, Aura memperhatikan wajah Faris yang benar-benar sangat tampan bahkan saat masih tertidur lelap.
Aura ikut berbaring kembali di hadapan Faris. Rasanya Aura tidak akan pernah merasa puas untuk berlama lama menatap suaminya itu.
Terkadang Aura sempat berfikir, kenapa dulu dirinya terlalu bodoh untuk menolak orang seperti Faris.
"Kak Faris capek ya" Lirih Aura pelan. Namun, siapa sangka Faris yang ternyata sudah terbangun mendengar itu semua.
"Enggak sayang" Sahutnya dengan mata masih terpejam.
"Kak Faris udah bangun?" Tanya Aura antusias.
Perlahan, Faris mengerjap beberapa kali, membuka matanya. "Menurut kamu?" Tanya Faris.
Bibir Aura seketika melengkung. "Good Morning sayang" Sapa Aura.
Faris ikut tersenyum. "Morning to sayang" sahutnya.
"Aku senang" Ucap Aura.
"Karena mulai sekarang, setiap kali aku membuka mata, aku akan disuguhkan dengan pemandangan indah setiap hari."
"Aku juga senang. Karena mulai hari ini, saat aku membuka mata, akan selalu ada bidadari cantik yang tersenyum ke arahku." Balas Faris.
"Aduh baper adek bang" Sahut Aura manja. Hal itu justru membuat Faris merasa gemas akan istrinya itu.
"Gapapa asal bapernya sama abang aja" Balas Faris yang seketika membuat Aura tertawa.
"Udah pinter"
"Yaudah. Kak Faris mandi dulu ayok. Habis itu kita sarapan terus ke rumah sakit" Ucap Aura.
"Ke rumah sakit? Ngapain?" Tanya Faris.
"Terapi. Aku sama Mama kemaren udah urus semuanya. Kak Faris mau kan? Aku bakal nemenin kak Faris dalam kondisi apapun. Kita usaha dulu ya?" Bujuk Aura.
"Hmm. Iya sayang."
Aura kembali mendudukkan tubuhnya. Gadis itu membantu Faris untuk duduk juga. Gadis itu hendak turun dari ranjang, namun tangan Faris dengan cepat menarik tangan Aura.
"Why?" Tanya Aura bingung.
Faris sama sekali tak mengubris pertanyaan Aura. Pria itu kini hanya fokus menatap dalam bola mata istrinya. Perlahan, tatapan itu menurun dan menurun menuju bibir Aura yang terlihat begitu menggoda.
Tanpa berfikir panjang, Faris menarik wanita itu hingga berada di dekapannya. Pria itu mencium bibir Aura tanpa aba-aba.
Mata Aura terbelalak, gadis itu kaget akan perlakuan Faris. Ini adalah kali pertama gadis itu berciuman. Aura sungguh tidak tau bagaimana cara meresponnya.
Aura terlihat salah tingkah ketika ciuman mereka baru saja terlepas. Gadis itu buru-buru mengambil kursi roda yang masih berada di sekitar kamar untuk ia dekatkan ke tepi ranjang.
Berhubung Aura tidak akan bisa mengangkat tubuh Faris, jadi gadis itu tentu saja membutuhkan kursi roda untuk membawa Faris kemana mana.
"Kak Faris mandi dulu ya" Ucap Aura tanpa ingin memalingkan pandangannya pada Faris. Karena sungguh gadis itu benar-benar salah tingkah.
"Tatap mata aku Ra" Pinta Faris.
"Hmm. I-iya kak" Sahut Aura gugup. Gadis itu menatap mata Faris.
"Jangan salting, nggak usah malu. Kamu kan yang bilang, 'aku itu istri kak Faris. Jadi kak Faris nggak perlu sungkan sama aku' " Ucap Faris menirukan gaya Aura berbicara.
"Aishhh" Aura berdecak. Tidak tahu harus berkata apa. Pasalanya memang benar yang dikatakan oleh Faris bahwa dirinyalah yang mengatakan hal semacam itu.
"Ini belum dimulai sayang" Rayu Faris.
Mata Aura melotot, gadis itu tidak melihat seperti Faris yang ada di hadapannya. Sementara Faris, pria itu bersusah payah menahan tawa menjahili istri bar-barnya itu.
"Iya iya kak Faris sayang" Aura segera melingkarkan tangan Faris di lehernya. Gadis itu berusaha menopang Faris untuk segera duduk di kursi roda dan mengantarkan pria itu ke dalam kamar mandi untuk segera membersihkan diri.
Sesampai di dalam sana, Aura kembali di buat bingung. Tentang apa yang harus dirinya lakukan. Karena untuk hal yang satu ini, Aura tentu saja belum teriasa. Gadis itu bingung harus memulai dari mana dan bagaimana caranya Farrel mengurus Faris ketika mandi.
.
.
.
Jangan lupa like, komen, dan vote. Makasih :)