Aura Story

Aura Story
Extra Part 3



"KAK KEVINNNNNN"


Suara yang teramat sangat nyaring itu terdengar jelas di telingan Kevin yang masih lelap akan tidurnya. Pria itu mendengus, kemudian segera duduk dan beranjak berdiri dari tempat tidur mencari asal suara.


"Apaan sih yang? Pagi pagi teriak teriak?" Tanya Kevin dengan suara serak khas bangun tidurnya.


"Ini yang makan ice cream aku di kulkas siapa? Kak Kevin kan?" Tanya wanita yang sudah bisa di tebak. Siapa lagi jika bukan Tasya. Tasya melotot tajam ke arah Kevin dengan tangan masih setia memegang pintu kulkas.


"Astaga sayang. Kamu teriakin aku pagi pagi, marah marah cuma karena Ice cream doang?" Tanya Kevin dengan kening tertaut.


"Kalo iya kenapa? Kan aku udah bilang. Jangan ada yang makan Ice cream aku karena cuma tinggal satu. Kenapa masih di makan sih?" Celetuk Tasya kesal.


"Yaudah tinggal beli lagi gampang kok yang. Jangan kaya orang susah ih" Seru Kevin enteng.


"Nggak mau!" Jawab Tasya ketus. Gadis itu melipat tangannya di dada cemberut.


"Yaudah deh, aku beliin sekarang" Jawab Kevin.


"Aku nggak mau" Jawab Tasya kekeh.


"Lah, terus kamu maunya apa?" Tanya Kevin bingung.


"Pokoknya aku mau Ice cream aku yang kemaren!"


"Lah, kan udah aku makan. Gimana dong?" Tanya Kevin bingung.


"Bodo amat"


Setelah hening beberapa saat, Kevin kemudian tersenyum genit.


"Yaudah, kamu mau es kamu semalam?"


Tanpa aba aba, Kevin menggendong tubuh mungil Tasya ala bridal style. Pria itu membawa Tasya menuju kamar. Kevin membaringkan tubuh sang istri di dalam sana. Tidak lupa Kevin mengunci pintu telebih dahulu.


"Kak Kevin mau ngapain?" Tanya Tasya was was. Kening Tasya tertaut sembari memperhatikan Kevin dengan senyum usilnya dari ambang pintu. Langkah demi langkah, Kevin akhirnya sampai di tepi ranjang.


"Katanya mau ice kamu yang semalam. Yaudah. Aku kembaliin" Kevin segera merangkak ke atas tempat tidur dan mencium bibir mungil Tasya tanpa aba aba.


"Udah kan?" Tanya Kevin setelah selesai melakukan aksinya.


"Aisshh" Tasya mengacak acak rambutnya kesal. "Modus" Sambung Tasya kemudian.


"Makannya, kamu sih ada ada. Cuma gara gara Ice cream satu ributnya kaya orang ditinggal suami. Dibeliin yang baru juga nggak mau. Yaudah sih, kan udah aku kasih yang lebih spesial" Cibir Kevin.


"Terserah kak Kevin deh. Aku mau keluar" Tasya hendak bangkit dari duduknya. Namun, Kevin justru menarik tangan Tasya kembali. Hingga jarak mereka kini benar benar semakin dekat.


"Anak Farrel udah dua, anak kak Faris udah mau satu. Kamu nggak mau gitu, nambah cucu Mama Yasmin?" Goda Kevin yang seketika membuat mata Tasya membulat. Jelas saja Tasya sudah bisa membaca apa maksud dari ucapan Kevin dan apa yang akan terjadi setelah ini.


***


Pukul delapan malam, Aura tampak tengah duduk di kursi yang ada di taman samping rumahnya. Wanita itu sedari tadi tak berhenti tersenyum melihat postingan bayi bayi mungil artis di instagram. Aura benar benar tidak sabar menunggu hari bahagia menyambut kehadiran sang buah hati. Meskipun ada ketakutan tersendiri di di Aura saat waktu terus berjalan dan mendekat pada hari persalinan.


Dari kejauahan, Faris tersenyum. Pria itu segera melangkahkan kaki menemui sang istri. Faris membaluti tubuh Aura dengan sweeter nya dari belakang. Membuat gadis itu menoleh seketika.


"Dari tadi aku cariin ternyata kamu disini" Ucap Faris dari belakang Aura.


"Disini sejuk. Aku suka" Sahut Aura tersenyum.


Faris kini ikut mendudukkan tubuhnya di samping sang istri.


Aura menggeleng. "Enggak" Sahut Aura tersenyum.


Faris kemudian menarik tubuh Aura untuk bersandar di bahunya.


"Kak Faris..." Panggil Aura.


"Hmmm" Sahut Faris.


"Lahiran sakit nggak sih kak?" Tanya Aura.


Faris menoleh, menatap istrinya yang kini fokus menghadap ke depan. Faris hanya diam, tidak tau harus menjawab apa. Karena sebenarnya Faris memang sudah sering membaca buku buku atau artikel tentang kehamilan. Dan jelas saja, melahirkan sungguh menyakitkan berdasarkan apa yang Faris baca.


Tapi Faris juga tidak mungkin menjawab iya pada Aura. Karena Faris juga tidak mau istrinya itu semakin takut.


"Sayan..."


"Kak"


"Apa?" Tanya Faris.


"Kalo aku meninggal setelah melahirkan anak kita gimana?"


Mata Faris membulat, pria itu kaget mendengar ucapan Aura.


"Kamu ngomong apaan sih sayang. Nggak boleh ngomong gitu, kamu pasti baik baik aja. Buktinya Sabil udah ngelahirin dua kali nggak papa kan?" Sahut Faris meyakinkan.


"Ya. Takdir seseorang mana ada yang tau kak. Diluar sana juga banyak kok ibu hamil yang meninggal saat melahirkan. Kita kan nggak pernah tau. Aku ya aku, Sabil ya Sabil."


"Tapi kamu nggak boleh ngomong kaya gini. Aku yakin kamu pasti kuat. Ya"


"Ya aku kan nggak do'a in juga kak. Tapi balik lagi, kita nggak tau takdir. Aku maunya ya jelas mau baik baik aja. Tapi kalau nanti takdir berkata lain, kakak jagain anak kita baik baik ya. Sayangi dia dengan tulus."


Deg


Sungguh, jantung Faris berdetak kencang saat mendengar ucapan Aura barusan. Tubuhnya seketika melemah. Sungguh, Faris benar benar tidak sanggup membayangkan jika hal itu sampai terjadi. Faris tidak mau. Desiran darahnya kini benar benar mengalir begitu cepat.


Faris menggenggam tangan Aura. "Yang. please jangan ngomong gini dong. Kamu pasti bisa. Kamu pasti kuat. Kita akan sama sama terus. Kita akan jagain anak kita sama sama. Kita akan memberikan kasih sayang pada anak kita sama sama. Sumpah aku nggak bisa ngebayangin itu semua. Jangan ngomong kaya gini lagi ya"


"Kak. kan udah aku bilang. Jika itu terjadi. Aku cuma mau pesan sama kak Faris. Ngak tau kenapa semakin mendekati waktu persalinan aku semakin takut. Padahal kemaren kemaren rasanya biasa aja."


"Dan kalaupun nanti kak Faris nggak sanggup besarin anak kita sendiri. Aku nggak papa kak Faris menikah lagi. Tapi kak Faris benar benar harus cari istri yang sayang sama anak kita. Yang bakal jagain anak kita seperti dia jagain anaknya sendiri."


"Aku nggak mau liat anak aku terluka seperti Sabil dulu jika Tuhan benar benar nggak ngizinin aku untuk membesarkan dia. Aku hanya ingin dia tumbuh bahagia kak." Pandangan Aura kini beralih ke bawah dan mengelus perutnya.


Entahlah, tidak peduli jika di bilang cengeng. Air mata Faris kini mengalir begitu saja. Namun, pria itu dengan cepat menghapusnya agar tidak diketahui oleh Aura. Entah kenapa istrinya itu bisa bisa berfikiran seperti itu. Faris benar benar tidak sanggup jika hanya membayangkannya saja.


"Udah ah. Kamu makin lama makin ngaco ngomongnya. Mending kita masuk sekarang, nggak baik udaranya dingin. Nanti kamu masuk angin" Faris mengalihkan pembicaraan, kemudian berdiri.


Faris mengulurkan tangannya membantu Aura berdiri dan membawa gadis itu masuk ke dalam rumah.


.


.


.