Aura Story

Aura Story
Extra Part 2



Di depan meja rias, Aura kini sedang sibuk memolesi wajahnya dengan sedikit make up. Gadis itu tersenyum menatap tubuhnya dari pantulan kaca. Namun, senyum itu menyurut saat Aura memperhatikan bentuk tubuhnya yang semakin hari semakin melebar.


"Gendut banget gue astaga" Lirih Aura masih fokus memperhatikan setiap inci tubuhnya dari pantulan kaca.


Namun, perhatian Aura seketika terfokus pada pintu kamar saat mendapati Faris baru saja masuk ke dalam sana.


"Udah sayang?" Tanya Faris. Pria itu berjalan mendekat ke arah Aura. Kini, posisi Faris berdiri di belakang Aura. Faris tersenyum ke arah pantulan kaca, kemudian mencubit pipi Aura gemas dari belakang.


"Kak..." Panggil Aura dengan raut wajah datar. Aura menatap Faris dari pantulan kaca.


"Hmmm" Sahut Faris tersenyum.


"Kalo nanti setelah melahirkan aku nggak bisa langsing kaya dulu lagi, apa kak Faris bakal ninggalin aku? apa kak Faris bakal cari istri baru lagi? yang lebih ramping gitu?" Tanya Aura datar.


Kening Faris tertaut bingung mencoba mencerna ucapan Aura, kemudian Faris justru terkekeh saat memahami maksud dari pertanyaan konyol Aura. Faris memutar tubuh Aura ke arah belakng supaya menghadap dirinya. Pria itu memegang kedua pipi Aura, mendongakkan kepala Aura ke atas agar lebih leluasa menatap dirinya.


"Kamu ngomong apaan sih? Ya kali aku yang bikin kamu hamil, terus gemuk kaya gini demi anak kita, terus bakal ninggalin kamu? gitu?" Faris cengengesa. "Jangan ngawur. Aku nggak akan ninggalin kamu sampai kapanpun, dan dengan kondisi apapun." Sambung Faris kemudian mengacak acak rambut Aura.


"Meskipun aku gemuk?"


"Yaiyalah."


"Kak Faris nggak malu gitu, punya istri bongsor kaya dorom?"


Faris kembali terkekeh. "Nggak sampe kaya dorom juga kali. Lagian kenapa juga aku mesti malu? Aku justru makin gemes liat pipi kamu kaya gini" Faris kembali mencubit gemas pipi sang istri.


"Pengen aku makan tau nggak. Lembek bgt kaya bakpau" Faris terkekeh.


"Beneran nih? Masih sayang aku gimanapun kondisi aku? Kali aja kak..."


"Udah ah. Kayanya kamu memang butuh refreshing biar fikirannya nggak terbang kemana mana" Potong Faris sebelum Aura melanjutka ucapannya.


Faris berjalan mengambil sendal Aura yang tidak berada jauh dari mereka. Pria itu kini berjongkok di depan sang istri, kemudian memakaikan sendal di kaki Aura perlahan.


Sesaat kemudian, Faris kembali berdiri.


"Ayok. Tuan putri. Kita jalan-jalan dulu" Faris mengulurkan tangannya pada Aura. Gadis itu tersenyum kemudian menerima uluran tangan Faris.


Pasangan suami istri itu kemudian keluar dari kamar. Berjalan memeluk pinggang satu sama lain dengan begitu mesra.


***


Faris dan Aura kini sudah berada di semuah Mall yang ada di kota mereka. Pasangan suami istri itu tak sedetikpun melepaskan gandengan tangan mereka.


Faris membawa Aura ke sana bermaksud untuk jalan jalan, cuci mata sekaligus membeli persiapan dan perlengkapan untuk calon bayi mereka. Sekalian biar bumil nggak bosan di rumah terus.


"Yang, ini bagus nggak?" Tanya Faris memperlihatkan sepatu bayi yang untuk usia satu tahun pada Aura antusias.


Aura menghembuskan nafas. "Sayang, anak kita kalo udah lahir masih kecil, kecill banget, mana mungkin bisa langsung make sepatu yang seharusnya buat anak usia satu tahun?" Sahut Aura.


"Ya nggak papa sih yang dibeli aja dulu. Lucu soalnya" Jawab Faris cengengesan.


"Yaudah deh terserah kak Faris aja" Sahut Aura pasrah. Gadis itu kini kembali memilih barang barang yang Aura rasa akan Aura butuhkan nanti.


Aura sedari tadi sungguh terkesiap melihat baju-baju bayi perempuan yang sangat sangat lucu. Tapi sayang seribu sayang, dokter bilang, anak mereka kemungkinan akan berjenis kelamin laki laki. Tapi tetap saja tidak masalah, bagi Aura dan Faris, laki laki maupun perempuan sama saja. Mereka akan menjaga malaikat kecil itu dengan sepernuh hati.


Setelah selesai membayar barang belanjaan mereka di kasir. Aura dan Faris kini kembali berjalan jalan di keramaian tersebut.


"Kamu mau makan apa yang?" Tanya Faris.


"Nggak mau makan" Sahut Aura.


"Mau ice cream itu"


***


Aura dan Faris kini sudah berada di dalam mobil mereka kembali. Ya, Faris sudah bisa membawa mobil sendiri lagi semenjak dua bulan yang lalu.


Aura sedari tadi hanya sibuk dengan ice cream nya. Sementara Faris hanya tersenyum senang melihat istrinya itu.


"Kenapa liatin aku terus dari tadi?" Tanya Aura yang menyadari bahwa Faris sedari tadi tak berhenti memeperhatikan dirinya sesekali. Namun, masih tetap fokus membawa mobil.


"Nggak papa. Kamu lucu" Sahut Faris. Pria itu kemudian meraih tangan Aura yang satunya lagi untuk ia genggam.


"Aku bahagia kalo liat kamu bahagia"


***


Beberapa menit di perjalanan. Aura dan Faris sudah sampai kembali di rumah mereka. Faris dan Aura segera membawa belanjaan mereka setelah Faris memarkirkan mobil di garasi.


"Ayok sayang. Hati hati jalannya" Ucap Faris.


"Assalamu'alaikum" Sorak Aura masuk ke dalam rumah.


"Wa'alaikum salam." Sahut Bi Anis yang hendak meraih barang belanjaan dari tangan Faris, namun pria itu justru menolaknya.


"Nggak usah Bi. Biar Faris aja yang bawa. Nanggung. Lagian berat juga" Ucap Faris tersenyum, kemudian pria itu berlalu masuk ke dalam kamar.


Sementara Aura, berdiri mendekat pada Bi Anis.


Gadis itu mengulurkan satu kantong yang berusikan makanan pada asisten rumah tangganya itu.


"Ini Bi, buat bibi sama kang Mamang" Ucap Aura tersenyum.


"Astaga non Aura kenapa repot repot Non. Bibi jadi nggak enak" Ucap Bi Anis sungkan.


"Nggak papa kok Bi. Nggak ngerepotin juga kok. Semoga Bibi suka ya. Selamat makan Bi. Aura ke kamar dulu" Pamit Aura.


"Iya Non. Makasih banyak ya Non" Sahut Bi Anis.


"Sama sama Bi"


Bi Anis segera berlalu ke kamarnya dan juga sang suami. Wanita paruh baya itu benar benar bersyukur dan senang bekerja di sini. Karena memang kedua majikannya itu sungguh baik sekali.


***


Aura baru saja masuk ke dalam kamar. Gadis itu melihat Faris sudah selesai mengganti pakaiannya duluan.


Aura berjalan menuju tempat tidur. Gadis itu sejenak mendudukkan tubuhnya di sana.


"Capek?" Tanya Faris.


"Enggak kak" Jawab Aura. Ya, Aura terpaksa berbohong. Karena kalu dirinya jujur, Faris pasti akan selalu memijit wanita itu lebih dulu. Padahal Aura tau, suaminya itu sama sama capek dengan dirinya.


"Yaudah ganti baju dulu"


Beberapa saat kemudian. Saat setelah selesai mengganti baju dengan daster ala bumilnya. Faris segera menarik pelan tangan sang istri. Menyuruh Aura untuk duduk dan bersandar di tempat tidur.


Faris mulai memijat kaki Aura yang memang sudah gendut dari biasanya.


"Aku tau kamu capek. Jadi nggak perlu repot-repot boong sama aku. Aku bisa liat dari wajah kamu" Ucap Faris yang membuat Aura hanya bisa menghembuskan nafas pasrah. Menerima perlakuan manis dari suaminya itu.