Aura Story

Aura Story
Kedatangan Kevin



Setelah Tasya melepaskan rasa sesak di dadanya barusan. Gadis itu kini terdiam kembali. Tasya tak lagi bersuara, hanya ada keheningan yang tersemat di dalam mobil Kevin.


"Kak Kevin. Anter aku ke rumah kak Sabil aja" Ucap Tasya setelah terdiam cukup lama.


Kevin menoleh. Pria itu memperhatikan mata Tasya yang kini tampak layu dan sembab.


"Kenapa nggak pulang ke rumah tante Yasmin?" Tanya Kevin.


"Enggak. Hari ini aku mau ke tempat kak Sabil aja."


Kevin tak menyauti. Pria itu hanya mengarahkan mobilnya menuju kediaman Sabilla dan juga Farrel berdasarkan keinginan Tasya.


***


Kevin dan Tasya baru saja sampai di depan rumah mewah peninggalan Hermawan tersebut. Kevin melirik ke arah Tasya yang masih jelas masih terlihat sedih. Namun ia tak memperjelas perhatiannya.


"Aku pamit kak Kevin. Makasih" Ucap Tasya kemudian keluar dari mobil Kevin sesegera mungkin. Gadis itu bahkan tidak menawarkan Kevin untuk masuk terlebih dulu.


"Hm" Sahut Kevin dengan raut wajah datar. Namun, pandangan pria itu masih tak terlepas dari Tasya yag kini berjalan menuju teras rumah Sabilla. Entahlah, Kevin merasa iba pada gadis tersebut. Kevin bahkan melihat dengan jelas bagaimana Alvin memperlakukan Tasya barusan.


Tasya kini sudah berada di teras rumah Sabilla. Gadis itu menatap pintu masuk dengan raut wajah datar. Tasya juga memperhatikan suasana sekitar. Rumah Sabilla tampak sudah sepi.


Mengehembuskan nafas pelan, Tasya memejamkan mata sesaat, sebelum gadis itu memberanikan diri untuk menekan bel rumah Sabilla.


Tak berselang lama, pintu rumah mewah itu terbuka. Terlihat Bi Mirna tersenyum manis menyambut kedatangan tamu di rumah majikannya tersebut.


"Eh Non Tasya" Sapa bi Mirna.


Tasya tersenyum tipis. "Hm iya bi" Sahut Tasya dingin tidak seperti biasanya.


"Non Tasya dari mana? Silahkan masuk Non..."Ajak Bi Mirna ramah.


"Tasya habis dari luar nongkrong sama teman-teman Bi. Tadi rumah teman Tasya juga jalannya lewat sini, makannya Tasya sekalian aja mau nginap disini. Tasya juga rindu banget sama kak Sabil Bik" Jelas Tasya berbohong.


"Oo gitu ya Non. Tapi Non Sabilnya sepertinya udah tidur deh Non."


Tasya melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Gadis itu mengembuskan nafas. Jelas saja Sabilla sudah tudur, karena waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Tasya fikir Sabilla merasa sangat kelelahan.


"Yaudah deh Bik. Nggak papa. Kalo gitu Tasya langsung ke kamar tamu aja ya Bik. Maaf Tasya ganggu tidur bibi malam-malam gini" Ucap Tasya merasa bersalah.


"Enggak papa kok Non, bibi juga belum tidur kok daritadi."


"Yaudah bi permisi." Tasya hendak berlalu berjalan menuju ruang tamu. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar panggilan dari Farrel.


"Tasya..." Panggil Farrel dari arah belakang Tasya. Pria yang baru saja mengambil minum dari dapur itu tidak sengaja melihat adik sepupunya hendak masuk ke kamar tamu.


Tasya menoleh. "Hmmm" Sahutnya dingin.


Seketika kening Farrel tertaut. Pria itu merasa bingung dengan sikap adik sepupunya ini. Tidak biasanya Tasya bersikap dingin pada dirinya. Biasanya, gadis itu hanya selalu mengoceh dan berdebat dengan Farrel.


"Darimana lo?" Tanya Farrel.


"Dari luar." Sahut Tasya singkat.


"Lo kesini udah bilang sama Mama sama Papa belum?" Tanya Farrel.


"Udah"


Farrel semakin dibuat bingung dengan sikap adik sepupunya itu.


"Gue mau tidur." Ucap Tasya yang kemudian berlalu meninggalkan Farrel tanpa ingin kakak sepupunya itu lebih curiga.


***


Pagi hari, setelah terbangun dari tidur lelapnya, Sabilla menoleh ke samping, gadis itu bingung saat tidak lagi merasakan adanya suami tercinta di sebelahnya.


Sabilla segera duduk, gadis itu berlalu menuju kamar mandi dan segera membersihkan diri. Tak berselang lama, Sabilla sudah terlihat rapi dengan daster rumahannya. Wanita yang tengah mengandung delapan bulan itu terdengar memanggil-manggil nama suaminya.


"Kak Farrel..."


" Kak Farrel..." Panggil Sabilla.


Farrel yang berada di ruang tamu, mendengar jelas panggilan sang istri.


"Iya sayang" Sahutnya.


Saat Farrel hendak membuka pintu, tiba-tiba pintu tersebut terbuka lebih dulu.


"Kak Farrel ngapain?" Tanya Sabilla saat mendapati suaminya itu.


"Oo kita lagi ada tamu sayang" Ucap Farrel.


"Tamu? Siapa?" Tanya Sabilla.


Farrel mengajak Sabilla berjalan menuju ruang tamu. Wanita yang tengah berbadan dua itu tampak mulai kesulitan berjalan mengingat usia kandungannya sudah delapan bulan.


Farrel memegang pinggang istrinya itu berjalan menuju ruang tamu yang sudah menampaki Kevin di sana.


Sabilla terdiam, gadis itu menoleh ke arah Farrel saat dirinya melihat Kevin tengah duduk di ruang tamu rumahnya.


"Kak Kevin" Lirih Sabilla pelan. Namun, masih terdengar jelas oleh Kevin.


Kevin menoleh. Pria itu memperhatikan tubuh Sabilla dari atas sampai ke bawah. "Hai Bil. Apa kabar kamu?" Tanya Kevin.


Farrel dan Sabilla melanjutkan langkahnya berjalan mendekat pada Kevin. Kini, mereka ikut mendudukkan tubuhnya di sofa yang ada di depan Kevin.


Sabilla menatap Kevin dengan tatapan dingin. dan juga bingung. Entahlah, kenapa bisa Kevin tiba-tiba datang ke rumahnya setelah pria itu menghilang selama dua tahun.


"Hmm aku baik. Kak Kevin gimana?" Tanya Sabilla.


"Seperti yang kamu lihat. Aku juga Alhamdulillah baik" Sahut Kevin tersenyum.


Sabilla terdiam, gadis itu tampak kebingungan menyusun kata-kata. "Kak Kevin selama ini kemana aja?" Tanya Sabilla setelah berfikir beberapa saat.


"Hm" Kevin terdiam sejenak. "Aku...Setelah wisuda waktu itu, aku ke luar negri Bil, Dan seminggu yang lalu, aku baru kembali ke Indonesia." Jawab Kevin.


"Kenapa waktu itu kak Kevin pergi nggak bilang?" Tanya Sabilla.


"Aku minta maaf, waktu itu..."


"Kak Sabilll..."


Suara Tasya yang baru saja keluar dari kamar tamu, menghentikan ucapan Kevin. Kevin menoleh ke arah Tasya begitu juga sebaliknya.


"Kak Kevin..." Lirih Tasya pelan. Detik kemudian, gadis itu teringat akan sesuatu. "Nggak boleh, kak Kevin nggak boleh bilang kejadian semalam sama kak Farrel" gumam Tasya. Gadis itu bergegas menghampiri mereka bertiga.


"Hai kak Sabil sayang. I miss you" ucap Tasya tiba-tiba memeluk Sabilla.


Sabilla kembali di buat heran. Sejak kapan Tasya berada di rumahnya?


"Tasya, kamu kapan kesini?" Tanya Sabilla.


"Dari semalam." Sahut Tasya girang, namun matanya tampak memperhatikan Kevin. Gadis itu melototi Kevin. Memberikan kode agar pria itu tidak memberitahu masalahnya pada Farrel dan juga Sabilla.


Sementara Kevin yang tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Tasya hanya mengerutkan keningnya bingung.


"Kenapa semalam kakak nggak tau kalo kamu datang?" Tanya Sabilla.


"Iya, semalam kak Sabil udah tidur. Yang bukain pintu semalam bi Mirna kak" Sahut Tasya.


"Oo gitu..."


"Hai ponakan onty" Sapa Tasya mengelus lembut perut buncit Sabilla. Gadis itu terlihat begitu ceria mengajak bayi yang masih ada di dalam perut kakak iparnya itu berbicara.


Pandangan Kevin kini terfokus pada Tasya. Pria itu menatap Tasya heran. Ia tau bagaimana kejadian semalam, ia tau bahwa hati Tasya saat ini sangat hancur. Tapi didepan semua orang, gadis itu masih bisa tertawa dan bahagia seolah tidak memiliki masalah apapun.


"Kak Kevin, tadi kak Kevin mau ngomong apa?" Tanya Sabilla.


Mata Tasya membulat, gadis itu sesegera mungkin melototkan matanya tajam ke arah Kevin. Mengisyaratkan pada pria itu agar tutup mulut dengan masalahnya.


"Kak Sabil, aku kangen banget ini sama kak Sabil, kita main di taman belakang yok kak" Ajak Tasya.


.


.


.


Jangan lupa like, komen dan vote ya. Makasih banyak atas dukungannya💕 Sampai sini gimana nih ceritanya? Ada yang mau dibilangin nggak sama Tasya, Kevin, Aura, Farrel, Faris, dan juga Sabilla? Jangan lupa tinggalin di kolom komentar ya. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.