Aura Story

Aura Story
Will You Merry Me?



Aura dan Faris kini sudah berada di rofftop sebuah restoran yang ada di pusat Kota London. Suasana yang terlihat sangat romantis tersebut, membuat Aura benar-benar merasa senang dan bahagia.


Kedua manusia itu kini duduk saling berhadapan di depan meja yang sudah dihiasi oleh lampu-lampu dan lilin kecil nan indah.


Di saat tengah asyik menikmati suasana sembari memperhatikan sekitar. Aura tiba-tiba terdiam. Gadis itu melirik ke arah Faris yang kini berada di depan dirinya dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. Aura merasa tidak asing dengan suasana seperti ini. Gadis itu merasa dejavu, merasa sudah pernah merasakan suasana seperti ini sebelumnya.


Di Roftoop sebuah hotel, makanan, pemandangan, lampu-lampu gedung yang menjulang tinggi. Aura merasa tidak asing dengan ini semua.


"Suasana yang sama. Namun di Negara yang berbeda. Apa mungkin, jawabannya akan tetap sama juga sepeti sebelumnya?" Ucap Faris membuka suara.


Aura menegakkan kepalanya. Gadis itu menatap Faris sejenak. Kening Aura tertaut dalam mencoba mencerna ucapan Faris. "Maksud kak Faris apaan?" Tanya Aura.


"Kamu ingat nggak Ra, suasana kaya gini, saat kita masih di Indonesia?"


Deg


Jantung Aura seketika berdetak. Gadis itu terdiam saat dirinya baru saja menyadari. Aura tersadar, ia teringat suasana kali ini memang sama, saat Faris melamar dirinya di Indonesia. Saat Aura menolak pria yang saat ini berada di depan matanya. Kini, Aura mengingat semuanya. Gadis itu paham, tentang apa yang saat ini dimaksud oleh Faris.


Aura masih terdiam. Bibirnya seolah menolak untuk berbicara, pandangannya masih terfokus ke arah Faris dengan penuh terka.


"Aku berharap, di Negara yang berbeda, jawaban yang akan aku dapat kali ini juga akan berbeda." Sambung Faris setelah beberapa saat menjeda ucapannya.


Aura masih diam. Gadis itu paham betul apa yang sedang di maksud oleh Faris. Semacam kode? atau sindiran? Intinya hal semacam itulah yang kini Aura tangkap dari ucapan pria tersebut.


Faris berdiri dari duduknya. Pria itu mendekat ke hadapan Aura. Kini, Aura sedikit mendongakkan kepalanya ke atas. Menatap Faris dengan raut wajah datar. Namun, tiba-tiba jantung Aura berdetak begitu kencang. Tangannya dingin, semacam salah tingkah.


Tanpa aba-aba, Faris tiba tiba bersimpuh di hadapan Aura. Lampu-lampu nan indah yang semula redup seketika menyala terang secara bersamaan. Diiringi oleh alunan musik secara yang entah kapan datangnya.


Aura kaget, gadis itu kini tampak fokus memperhatikan suasana sekitar. Tanpa Aura sadari, matanya kini terlihat berkaca-kaca. Sungguh, Aura merasa terharu dan bahagia.


"Ra, entah untuk yang keberapa kalinya aku mengatakan hal ini sama kamu. Entah untuk keberapa kalinya aku udah menyatakan cinta sama kamu. Aku nggak maksa, aku nggak akan pernah maksa agar jawaban kamu berubah. Tapi jujur, aku memang berharap, kali ini aku berharap akan mendapatkan jawaban yang berbeda dari sebelumnya."


"Ra, aku benar-benar nggak tau. Sampai kapanpun, aku nggak pernah bisa ngelupain kamu. Dan sampai saat kamu belum menemukan laki-laki yang benar serius sama kamu, aku nggak akan berhenti untuk mengejar kamu"


"Ra, aku tau, aku bukanlah manusia yang sempurna. Tapi aku harap, kamu akan memberikan aku kesempatan untuk membuat kamu bahagia, hidup bersama dan menua bersama."


Faris mengambil sesuatu dari dalam saku celananya.


"Kali ini, aku mau bilang. Jika boleh, aku ingin kamu memberikan aku kesempatan. Menjaga kamu, membahagiakan kamu, dan selalu bersama kamu."


"Aura Ashariloveni. Will you Merry Me?"


Deg


Jantung Aura berdetak hebat. Bulir bening itu kini berhasil lolos dari kelopak matanya. Aura benar-benar tidak percaya, bahwa Faris segiguh ini. Pria itu bahkan tidak peduli sudah ditolak beberapa kali.


Faris mengulurkan sebuah cincin berlian di hadapan Aura. Pria itu seketika memejamkan matanya. Faris fikir, dirinya harus siap akan apapun jawaban yang keluar dari bibir Aura. Karena itu adalah konsekuensinya.


"Aku nggak maksa. Aku akan terima, apapun jawaban kamu" Ucap Faris.


"Kak Faris..." Lirih Aura pelan. Gadis itu menopang pipi Faris dengan kedua tangannya. Hingga Faris membuka mata. Pria itu menatap mata Aura lekat, mata yang kini sudah meneteskan cairannya.


"Kenapa nangis?" Tanya Faris.


Tanpa menjawab ucapan Faris, Aura tiba-tiba berhambur memeluk pria itu.


"Kamu kenapa Ra?" Tanya Faris.


"Maafin aku. Maafin aku kak Faris"


"Maafin aku. Maafin aku karena udah menyia nyiakan kak Faris selama ini. Aku nggak nyangka, kak Faris masih mau sama wanita sepeti aku. Maafin aku kak Faris. Aku fikir kak Faris hanya laki-laki brengsek yang bisanya hanya mempermainkan wanita dengan kata-kata. Maafin aku kaK Faris."


Faris tersenyum. Pria itu membalas pelukan Aura. Momen langka Aura bersikap seperti ini pada dirinya.


"Memangnya kamu wanita seperti apa? ha?" Tanya Faris.


Aura melepaskan pelukannya. Gadis itu menatap dalam mata Faris. Tatapan sendu yang seolah ingin mengatakan sesuatu.


"Kenapa?" tanya Faris. Pria itu mengusap pipi Aura. Mengahapus cairan bening yang mengalir disana.


"Kenapa?"


"Aku..."


"Aku..."


"Aku apa Ra?"


"Aku mau jadi istri kak Faris..."


Faris terdiam. Bibir pria itu kini benar-benar terasa kaku. Faris tak mampu mengungkapkan kata-kata. Faris fikir, Aura masih akan menjawab jawaban yang sama seperti sebelum-sebelumnya. Tetapi, semua terjadi diluar dugaannya.


"Kamu serius?" Tanya Faris tidak percaya.


Aura mengangguk. "Iya, aku serius." Sahutnya.


Faris kembali memeluk Aura erat. "Makasih." Satu kata yang keluar dari bibir Faris. Sungguh, Faris benar-benar merasa bahagia. Hingga dirinya tak mampu lagi untuk berkata kata.


***


Malam yang begitu membahagiakan bagi seorang Faris Annanda Putra. Malam yang menjadi malam terspesial dalam hidupnya. Di tengah-tengah suasana damai malam itu, pandangan Faris sedari tadi tak terlepas dari Aura yang kini tengah duduk manis menikmati pemandangan di depan dirinya.


Faris benar-benar tidak menyangka, bahwa dirinya akhirnya bisa meluluhkan hati gadis cantik yang ada di hadapan dirinya saat ini.


"Kak Faris jangan liatin aku kaya gitu terus ih!" Ucap Aura saat gadis itu menyadari bahwa Faris sedari tadi tak berhenti menatap dirinya.


"Kenapa?"


"Ya aku bilang jangan diliatin terus ya jangan"


"Tapi aku maunya liatin kamu terus gimana dong?" Rayu Faris. Kali ini, Aura benar-benar dibuat salah tingkah. Jarang-jarang pipi Aura terlihat merah merona karena menahan malu.


"Bisa malu juga kamu sekarang? Biasanya juga malu-maluin di depan aku"


"Idih, siapa yang malu? Biasa aja keles?" Sahut Aura sewot. Gadis itu memutar bola matanya malas.


.


.


.


.


Kata Aura sama Faris jangan lupa like, komen, dan vote yang kenceng. Biar mereka makin semangat. Wkwkwk. Gimana baca part ini? Udah seneng belum?