Aura Story

Aura Story
Bonus Chapter (Gadis Manja)



Kevin dan Tasya baru saja sampai di depan rumah. Sedari tadi, senyuman Kevin tak menyurut sama sekali sejak setelah dokter mengatakan bahwa istrinya itu benar benar sedang hamil. Sungguh, Kevin belum pernah merasa bahagia seperti ini. Rasanya benar benar tidak bisa di defenisikan dengan kata apapun.


Kevin segera turun dari mobil. Pria itu dengan cepat berlari menuju pintu mobil di sisi lainnya. Kevin membuka pintu mobil kemudian mengulurkan tangannya pada Tasya.


"Ayok Mama Tasya. Kita istirahat dulu" Goda Kevin yang membuat pipi Tasya merona.


"Apaan sih." Sahut Tasya malu.


"Ciee blushing. Pipinya merah merah gitu."


"Kak Kevin jangan becanda mulu ih aku lemes ini" Cicit Tasya.


"Hehe iya iya deh. Kevin memeluk pinggang Tasya yang begitu lemas masuk ke dalam rumah. Wanita itu dari pagi tadi tidak berhenti mual mual dan muntah.


"Kamu tungggu disini bentar ya. Aku mau ke bawah dulu" Ucap Kevin mengecup kilas kening Tasya setelah mereka sampai di dalam kamar.


Tasya menarik baju Kevin yang hendak bangkit. "Kak Kevin mau kemana? Tanya Tasya.


"Aku mau ngambil minum dulu di bawah buat kamu" Jawab Kevin mengelus lembut rambut Tasya.


"Jangan lama lama"


"Iya. Gemes banget kalo kamu kaya gini. Daripada marah marah mulu kaya biasa"


"Udah nggak usah banyak gaya sana pergi cepet balik" Ucap Tasya malu.


"Siap bos"


Beberapa saat kemudian, Kevin kembali membawa segelas air hangat untuk sang istri.


"Kamu minum dulu ya. Baru istirahat" Ucap Kevin. Tasya segera duduk dan meneguk air minum yang diberikan Kevin.


"Udah. Istirahat." Kevin menyelimuti tubuh Tasya. Mengelus puncak kepala istrinya itu serta tidak lupa mengecupnya lembut.


"Kak Kevin tidur juga dong disini" Pinta Tasya menggeser tubuhnya dan menepuk kasur yang ada si sebelahnya.


"Iya deh iya" Kevin segera merangkak ke atas tempat tidur. Pria itu berbaring di samping Tasya dengan posisi saling berhadapan. Jujur saja, Kevin sangat senang melihat Tasya yang seperti ini. Dan beruntung, hari ini adalah hari minggu, jadi Kevin bisa menemani Tasya di rumah.


"Kak Kevin" Panggil Tasya.


"Hm" Kevin menoleh ke bawah. Menatap wanita yang kini ada di pelukannya.


"Kalo di fikir fikir lucu juga ya" Ucap Tasya.


"Lucu? Apanya?" Tanya Kevin.


"Iya, lucu aja. Padahal dulu kita sama sama punya seseorang yang kita cinta. Tapi aku sama sekali nggak pernah kepikiran bakal berakhir sama kak Kevin, sahabat kakak aku sendiri"


Kevin tersenyum. Pria itu juga mengingat kembali masa masa dulu, saat Kevin menyukai Aura. Yes, sebenarnya dulu Kevin sama sekali tidak pernah menyukai Sabilla. Sikap cuek Kevin terhadap Aura dulu hanya karena tidak ingin Aura terlalu berharap pada dirinya.


Kevin sudah terlanjur berjanji pada Gilang. Yups, kalian ingat Gilang? Gilang adalah adik sepupu Kevin. Sebelum meninggal, Gilang sempat berpesan untuk mencari gadis yang bernama Sabilla.


Kevin sudah terlanjur berjanji pada Gilang untuk menjaga Sabilla dan tidak akan melepaskan Sabilla pada laki laki lain. Tapi... Ya seperti itulah jodoh. Tidak ada yang pernah tau. Kevin sudah terlambat saat Sabilla sudah lebih dulu dimikili Farrel.


Dan... di saat bersamaan Kevin kehilangan Aura. Gadis yang pada saat itu sebenarnya memang ia suka.


Tapi balik lagi, jodoh tidak ada yang tau, Kevin justru dipertemukan dengan gadis centil, gadis manja yang ada di pelukannya ini dengan cara yang begitu tidak sengaja dan tidak pernah di duga. Karena sebelum bertemu barr waktu itu mereka tentu saja sudah sering bertemu, tapi tidak saling dekat.


Entahlah, meskipun awalnya penyesalan begitu menghantui Kevin karena telah menyia nyiakan Aura, tapi akhirnya Kevin sadar. Dia tidak boleh terpuruk dengan kesalahan yang dia buat sendiri. Perlahan Kevin merelakan Aura yang sudah bahagia bersama Faris.


Hingga entah sejak kapan rasa itu ada untuk Tasya. Gadis yang selalu bersamanya sejak saat pertemuan mereka di bar waktu itu. Kevin juga tidak tau, entah sejak kapan perasaannya pada Aura hilang begitu saja. Kini, hanya ada Tasya dan benar benar hanya Tasya yang ada di hati Kevin. Bocah manja itu, Kevin sungguh menyayanginya.


Tuhan memang nggak pernah sia sia perihal jodoh.


"Aku juga nggak pernah kepikiran bisa berakhir sama kamu. Gadis bodoh yang mau aja nangisin cowok ngggak jelas kaya gitu" Sahut Kevin menatap Tasya kesal.


"Lah. kan itu dulu" Sahut Tasya cemberut.


"Kak Kevin, aku boleh nanya nggak?"


"Nanya ya nanya aja. Horror banget sih pertanyaannya" Canda Kevin.


"Apa kak Kevin masih ada rasa sama kak Aura?"


Pletakkk


"Aduh, kenapa di jitak sih?" Tasya meringis.


"Pertanyaan kamu konyol"


"Kenapa konyol? Kali aja masih ada."


"Kalo aku masih masih ada rasa sama Aura nggak bakal ada makhluk ini di dalam perut kamu" Kevin mengelus perut Tasya lembut.


"Ya kan bisa jadi aja selama ini aku cuma dijadiin pelampiasan buat lupain kak Aura gitu?"


"Sya." Kevin mulai berbicara serius. Pria itu menatap bola mata Tasya dalam.


"Kamu lagi hamil, dan kita akan punya anak. Aku nggak mau kamu berfikir aneh aneh kaya gitu. Aku bahkan udah lama lupain Aura. Dan aku nggak se brengsek itu nikah sama kamu hanya karena menjadikan kamu pelampiasan."


"Kalaupun aku belum bisa move on dari Aura. Aku nggak bakalan nikahin kamu, aku nggak bakal nikahin perempuan lain juga. Mungkin sampai detik ini aku masih sendiri. Aku sayang sama kamu. Sekarang, dan selamanya hanya ada kamu di hati aku"


"Terus emangnya kak Kevin sejak kapan suka sama aku?"


"Aku nggak tau"


"Tuh kan" Tasya cemberut.


"Beneran. Aku nggak tau sayang. Pokoknya, sejak saat kita sama sama waktu itu. Rasa itu ada dengan sendirinya."


"Oo gitu ya" Tasya memutar tubuhnya membelakangi Kevin.


"Sya." Panggil Kevin.


"Sayang, aku nggak boong lo"


"Aku udah jujur. Sekarang aku udah nggak ada suka sama siapa siapa lagi. Cuma kamu."


Tasya masih diam. "Sayang, dosa lo tidur punggungin suami kaya gitu"


Tasya kembali merubah posisi tidurnya kembali menghadap Kevin.


"Lah kok nangis?" Tanya Kevin.


Tanpa menjawab, Tasya langsung saja memeluk Kevin erat, menenggelamkan kepalanya di dada bidang Kevin.


"Makasih udah sayang sama aku. Makasih udah sabar sama sikap ke kanakan aku. Maaf selama ini aku cuma bisa ngerepotin" Ucap Tasya di dalam pelukannya.


Kevin tersenyum. "Kamu hamil aja terus bagus deh kayanya"


"Lah, kenapa?."


"Iya. Soalnya kalo lagi hamil lucu, gemes, manja. Jadi makin sayang" Kevin mencubit hidung Tasya gemas.


"Jadi kalo aku galak kaya kemaren kemaren kak Kevin nggak sayang?" Tanya Tasya cemberut.


"Sayang kok sayang" Kevin menarik Tasya kembali ke dalam pelukannya. Pria itu menenggelamkan kepala Tasya di dada bidangnya.


"Lupain masa lalu ya. Yang terpenting sekarang, masa depan kita sama anak anak kita. Oke. Mama Tasya" Kevin mendekatkan keningnya pada kening Tasya.


"Iya. Papa Kevin bawel"


"Gini amat ibu hamil" Lirih Kevin tersenyum.