
"Kalo suatu saat aku tiba-tiba ngasih kamu undangan pernikahan, apa kamu bakal cemburu Ra?" Tanya Faris tiba-tiba.
"Ha?" Bibir Aura terbuka.
"Iya, kalo seandainya aku tiba-tiba ngasih kamu undangan pernikahan, apa kamu akan merasa cemburu? kehilangan? atau penyesalan gitu?" Tanya Faris spontan tanpa basa basi. Entah polos, entah memang ia sengaja.
"Kenapa kak Faris nanya itu?" Kening Aura tertaut dalam, mencoba mencerna maksud dari ucapan Faris.
"Ya, kali aja kamu cemburu. Biar aku senang, sekaliiii aja." Ucap Faris tertawa menyeringai.
"Ra, apa kamu masih ingat, gimana dulu saat pertama kali kita ketemu? Kita nggak se canggung ini. Aku tau, kamu berubah saat aku ngasih tau kamu semuanya. Saat aku ngasih tau kamu gimana perasaan aku yang sebenarnya. Tapi aku juga udah pernah bilang, aku nggak mau kita menjadi canggung hanya karena aku mengungkapkan semuanya. Tapi..."
"Kak, aku tau, aku tau gimana rasa sakit mencintai seorang diri. Aku tau gimana rasa sakit nggak di anggap. Aku cuma nggak mau, kak Faris ikut tersiksa karena aku. Sama seperti aku tersiksa karena kak Kevin. Aku nggak mau jika aku nggak mampu membuka hati untuk kak Faris dan justru membuat kak Faris kecewa, aku nggak mau melakukan itu karena aku tau gimana rasa sakitnya kak"
Faris tersenyum. Pria itu meraih tangan Aura yang semula berada di atas meja. "Ra, aku udah pernah bilang sama kamu. Aku mengungkapkan semuanya bukan untuk memaksa kamu menerima perasaan aku. Aku tau, perasaan itu nggak bisa di paksakan."
"Tapi aku cuma mau, jika memang bukan kamu yang terbaik untuk aku, aku hanya ingin tetap mau menjaga kamu, di samping kamu, meskipun hanya sebagai adikku. Se simple itu kemauanku. Aku nggak mau hanya karena kamu tau semuanya, kamu jadi seperti ini. Kamu sahabat sabil, dan sampai kapanpun kita akan terus ketemu. Aku cuma nggak mau gara-gara ungkapan perasaan aku kita menjadi asing"
"Aku cuma mau kita kembali kaya dulu. Karena sampai kapanpun, aku akan tetap mencintai kamu, menjaga kamu, sekalipun hanya dengan status sebagai adikku. Aku nggak mau kita canggung kaya gini Ra. Aku mau liat kamu kaya dulu, ceria, dan kamu bahkan nggak segan-segan untuk becandain aku."
"Kak, hati kak Faris terbuat dari apa sih kak? Kak Faris punya segalanya. Kak Faris kaya, Kak Faris tampan, banyak diluar sana yang mau sama kak Faris. Tapi kenapa kak Faris justru menunggu orang seperti aku?"
"Aku nggak ada tandingannya dari yang lain kak. Kenapa kak Faris masih baik sama aku? Padahal aku udah jelas-jelas nyakitin kak Faris. Mempermalukan kak Faris, menolak kak Faris? Tapi kenapa kakak masih baik sama aku?..."
"Karena kamu istimewa buat aku Ra" Potong Faris sebelum Aura melanjutkan ucapannya.
"Aku tau, banyak diluar sana yang mau sama aku. Begitu juga dengan kamu. Tapi kenapa sampai saat ini aku masih menunggu kamu? Karena aku nyaman sama kamu. Sebelum kamu seutuhnya dimiliki oleh orang lain, aku akan selalu nunggu kamu Ra"
"Karena aku udah terlanjur sayang juga sama kamu. Aku tau kamu perempuan baik-baik. Dan aku hanya ingin menjaga kamu. Karena kamu berhak bahagia. Bukan terus-terusan terluka."
"Ra, apa aku boleh minta sesuatu sama kamu?"
"Apa?"
"Aku cuma mau kamu seperti dulu. Aku janji, aku nggak akan maksa kamu untuk menerima aku. Apakah kamu bisa melakukan itu?"
"Aku nggak tau kak, aku juga nggak tau kenapa aku bisa seperti ini. Mungkin suatu saat semua akan kembali seperti semua seiring berjalannya waktu"
Aura tersenyum, justru senyuman itu seolah dipaksakan. Mata gadis itu terlihat berkaca-kaca. Sungguh, hati Aura kacau. Ia benar-benar merasa frustasi.
Sejujurnya, di satu sisi Aura merasa nyaman saat bersama Faris. Tapi di sisi lain, mengapa fikiran Aura masih terlintas dengan harapan-harapan akan Kevin? Siapa yang sebenarnya Aura cintai? Siapa yang sebenarnya Aura inginkan? Sungguh, gadis itu merasa bingung dengan dirinya sendiri hingga rasanya Aura tak tau harus berbuat apa lagi.
***
Faris dan Aura baru saja turun dari lift dari rooftop. Sepasang manusia itu berjalan beriringan menuju parkiran untuk mengambil mobil Faris.
"Dua hari lagi aku mau pergi ke London Ra" Ucap Faris di tengah keheningan mereka sedari tadi di dalam mobil.
Aura menoleh. Gadis itu menatap Faris dengan gusar. Raut wajah Aura datar. Entah mengapa, ini adalah kali pertama jantung Aura terasa bergetar. Desiran darahnya seakan mengalir begitu cepat. Sesuatu yang mengganjal juga ia rasakan di dadanya. Kenapa Aura? sungguh, ini adalah kali pertama jantung Aura berdetak saat bersama Faris.
"Aku mau lanjutin perusahaan Papa yang ada di sana Ra. Karena aku tau, kamu juga nggak akan menerima tawaran untuk bekerja di perusahaan Papa yang ada disini bersama aku."
Deg
Lagi lagi jantung Aura bergetar. "Kak Faris tau dari mana?"
"Aku bisa baca dari raut wajah kamu tadi pagi. Makannya sekarang aku ngajak kamu jalan. Hitung-hitung sebagai kenangan sebelum aku pergi"
Aura mematung, gadis itu menatap lekat wajah Faris. Bibir Aura bergetar, ingin rasanya gadis itu mengatakan sesuatu. Tapi kenapa rasanya sangat sulit? Semua seolah tertahan hingga Aura hanya diam tanpa mengungkapkan apa yang saat ini ia rasa sedang mengganjal di dalam dadanya.
"Berapa lama kak Faris disana?"
"Belum tau, mungkin sampai aku mendapatkan pendamping hidup aku" Tawa Faris menyeringai.
Aura kembali mengalihkan pandangan ke depan. Gadis itu menatap jalanan dengan tatapan kosong dengan rungunya masih mendengar jelas hiruk pikuk jalanan yang begitu padat malam ini.
Sambil fokus menyetir, sesekali Faris menyempatkan untuk menoleh ke samping. Memperhatikan Aura yang saat ini hanya diam dengan pandangan lurus ke depan.
"Kamu disini harus jaga diri baik-baik. Sebenarnya aku udah tau dari Sabil. Kalo kamu mau lanjutin Novel-Novel kamu yang belum selesai kamu lanjutkan. Dan aku juga tau kalo kamu belum mau fokus sama perkerjaan kantoran"
"Sebenarnya aku udah tau sebelum aku ke rumah kamu barusan. Sebenarnya aku cuma modus untuk menawarkan perkerjaan. Supaya aku ada cara untuk ngajak kamu keluar seperti saat ini dan berkunjung ke rumah kamu"
Aura kembali menoleh ke arah Faris dengan raut wajah datar. Manik mata coklat itu mentap Faris dengan beberapa tanda tanya yang saat ini terlintas di benaknya.
Sebenarnya, semasa kuliah, Aura memang sudah mulai mencoba menulis. Dan Aura rasa menulis terasa menyenangkan, hingga gadis itu pernah berkata pada Sabilla bahwa untuk saat ini dirinya tidak ingin bekerja terlebih dahulu. Melainkan Aura ingin melanjutkan beberapa tulisannya yang sempat terhenti saat menyelesaikan skripsi beberapa waktu yang lalu.
"Kak Faris juga jaga diri baik-baik disana. Semoga kak Faris bisa secepatnya mendapatkan wanita impian yang tulus menyayangi kak Faris" Ucap Aura saat mereka sudah sampai di pekarangan rumah Aura.
"Kalo gitu aku permisi kak. Makasih undah ngajakin aku jalan-jalan" Sambung Aura kemudian. Tanpa berfikir panjang, gadis itu berlalu keluar dari dalam mobil untuk segera masuk ke dalam rumah. Aura bahkan tidak menawarkan Faris untuk singgah terlebih dahulu. Gadis itu hanya berlalu.
Sejenak, Faris menatap punggung gadis yang semakin lama semakin tak terjangkau oleh pandangan matanya.
Faris masih berada di tempat yang sama, pria itu sama sekali belum menghidupkan mesin mobilnya. Menarik nafas kasar, Faris memejamkan mata sesaat, menyandarkan tubuhnya di kursi kemudi. Sebelum pria itu melajukan mobilnya untuk kembali ke rumah.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like, komen, love, dan vote ya. Terimakasih :) Mohon maaf jika masih ada typo atau salah penulisan. Karena aku hanya manusia biasa yang tak akan luput dari kesalahan🙏