
Faris berjalan menuju pintu. Pria itu menekan sebuah tombol yang terdapat di dinding untuk membuka pintu Apartemen tersebut. Hingga, saat pintu terbuka, terlihat sosok gadis yang berusia kisaran 24 tahun tengah berdiri di sana. Gadis yang tampak masih berpakaian kerja itu, rok hitam selutut, dan jas kerja hitam panjang tersebut, tersenyum kearah Faris.
"Mohon maaf Tuan Faris. Saya datang kesini ingin mengantarkan berkas yang tadi Tuan minta. Saya fikir Tuan memerlukannya saat ini juga. Dari tadi saya sudah berusaha untuk menghubungi Tuan, tapi Tuan tidak mengangkat telvon saya. Dan saya fikir Tuan ketiduran"
Wanita itu berbicara dengan suara yang sangat lembut. Lesung pipinya yang terlihat saat berbicara, membuat dirinya semakin terlihat cantik dan anggun.
"Astaga saya lupa" Ucap Faris sembari menepuk jidat.
"Maafkan saya Nona Carrien. Saya melupakannya. Saya lupa kalau saya tadi menyuruh anda untuk mengantarkan berkas ini ke Apartemen saya. Karena saya memang memerlukannya. Terimakasih banyak Nona Carrien. Saya jadi merepotkan anda" Ucap Faris merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa Tuan. Kalau begitu saya permisi" Pamit wanita yang bernama Carrien tersebut.
"Apa Nona Carrien tidak mau masuk dulu. Kita minum bersama, saya fikir Nona sudah lama menunggu saya di Lobby?" Tawar Faris.
Carrien terdiam. Gadis itu tampak berfikir sejenak.
"Boleh, jika Tuan tidak keberatan." Sahut wanita itu tanpa ada penolakan. Faris dan Carrien berjalan masuk menuju ruang tamu Apartemen tersebut.
Mata Carrien tampak mulai merajalela memperhatikan setiap inci dari ruangan yang ditinggali oleh Faris. Wanita bule itu bahkan tak mengalihkan pandangannya dari Faris saat dirinya sudah duduk di sofa yang ada di sana. Fikiran Carrien tak berbeda jauh dari Aura.
Hal yang menarik adalah saat Apartemen tersebut terlihat tertata rapi dan juga sangat bersih.
"Silahkan diminum. Maaf disini hanya ada minuman ini" Ucap Faris setelah pria itu menaruh sebuah minuman kaleng di atas meja sembari mendudukkan tubuhnya di sofa yang ada di depan Carrien.
"Tidak apa-apa Tuan. Terimakasih"
"Hm, apa Tuan Faris tinggal disini sendiri?" Tanya Carrien penasaran.
"Sebelumnya saya tinggal disini sendiri, tapi sekarang..."
"Awww" Suara itu terdengar nyaring tidak jauh dari tempat Faris dan Carrien saat ini duduk dan berbincang.
Faris dan Carrien menoleh secara bersamaan ke asal suara itu berada. Mereka saling menoleh satu sama lain sebelum Faris berdiri, berjalan menuju sebuah tirai yang tidak berada jauh dari tempat dirinya duduk.
Langkah demi langkah, Faris semakin mendekat ke arah tirai tersebut. Hingga... "Aura..." Bibir Faris berucap saat mendapati Aura dibalik tirai tersebut.
Aura yang bersembunyi dibalik tirai tersebut tertawa cengengesan saat melihat Faris menangkap basah dirinya. "Kak Faris" Sahut gadis itu tertawa miring.
Sedari tadi, ternyata Aura telah menguping pembicaraan antara Faris dan Carrien. Karena sebelum masuk ke dalam kamar, saat Aura mendengar suara seorang perempuan yang bertamu malam-malam. Gadis itu merasa penasaran, hingga Aura memutuskan untuk besembunyi di balik tirai tersebut berniat untuk menguping pembicaraan Faris.
Kening Faris tertaut, pria itu menatap Aura dengan tatapan penuh tanda tanya dan juga bingung serta penuh selidik. "Ngapain kamu disini? Bukannya tadi udah masuk ke kamar?" Tanya Faris penasaran.
Aura menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sepertinya gadis itu tampak berfikir tentang apa yang akan dirinya ucapkan.
"Ooo anu, hmmm itu..."
"Kenapa?" Tanya Faris dengan kening tertaut bingung. Namun tidak dengan nada emosi.
"Oooo... Hmmm...Tadi disini banyak nyamuk kak Faris, makannya aku mau ngusir nyamuk kesini" Sahut Aura terbata-bata. Gadis itu menggigit bibir bawahnya serta matanya ikut terpejam. Merasa malu karena tertangkap basah oleh Faris.
"Nyamuk? Nyamuk apaan? Sejak kapan disini ada nyamuk?" Tanya Faris bingung. Karena memang, selama tinggal di Apartemen tersebut Faris sama sekali tidak pernah mendapati nyamuk.
"Hmm...."
"Ada apa Tuan Faris?" Tanya Carrien secara tiba-tiba dari belakang Faris. Hingga kini, gadis itu tampak berdiri di depan mata Aura, tepatnya di samping Faris.
Aura menelan salivanya dengan susah payah. Gadis itu melirik Carrien dari atas sampai ke bawah. Mata Aura membulat tidak pecaya. "Cantik, putih, bening, langsing, tinggi, sempurna, Bodygoals" Batin Aura berkata dengan pandangan terpesona ke arah Carrien.
Carrien menoleh ke arah Faris. Gadis itu tampak kebingungan. Mengapa ada seorang perempuan di Apartemen Faris? Carrien fikir selama ini Faris tinggal seorang diri. Gadis itu baru mengetahui. Karena selama bekerja sama dengan Faris lebih kurang tiga bulan belakangan ini, kali ini memang kali pertama Carrien memasuki Apartemen pria tersebut.
Karena sebelum pulang dari kantor barusan, tepatnya sebelum Faris menemukan Aura, Faris memang berpesan pada Carrien untuk mengantarkan berkas-berkas yang akan ia diperlukan untuk rapat besok agar bisa di cek oleh Faris malam ini.
Itulah sebabnya, Carrien mendatangi Apartemen Faris sesuai alamat yang sudah Faris berikan di kantor tadi sore.
"Oh tidak ada apa-apa Nona Carrien."
"Hm, ini siapa? Kekasih Tuan?" Tanya Carrien sembari melirik Aura dari atas sampai kebawah. Gadis yang tampak sederhana dengan piyama lengan panjangnya itu tampak terlihat kuno dan sama sekali tidak menarik di mata Carrien yang terbiasa dengan pakaian sexy di negaranya.
"Iya, gue pacarnya. Mau apa lo?" Potong Aura sebelum Faris menyauti pertanyaan Carrien.
Kening Carrien tertaut dalam. Wanita itu tampak kebingungan. Carrien sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Aura. Karena Aura menjawab pertanyaan Carrien dengan Bahasa Indonesia. Sementara gadis bule itu sama sekali tidak mengerti Bahasa Indonesia.
"Apa yang dia katakan Tuan?" Tanya Carrien dengan Bahasa Inggis melirik Faris.
"Tidak, dia tidak mengatakan apa-apa. Sebaiknya kita duduk kembali." Sahut Faris mengalihkan pembicaraan.
"Ra, kalo kamu mau tidur, tidur aja. Aku lagi ada tamu" Ucap Faris berbisik di telinga Aura.
Seketika Aura terdiam, gadis itu sama sekali tak bergeming. Aura menatap langkah Faris dan Carrien yang semakin lama semakin menjauh dari pandangan matanya. Hingga kini, Aura melihat dengan jelas kedua manusia itu tertawa bahagia dari jarak yang tidak terlalu jauh, bahkan bisa dibilang cukup dekat.
Entah mengapa, dada Aura terasa sesak melihat pemandangan yang saat ini dirinya saksikan. Aura juga tidak menyangka jika jawaban Faris akan seperti barusan. Aura fikir Faris akan merasa bahagia jika gadis itu berkata seperti yang barusan ia katakan. Tapi yang Aura dapati justru sebaliknya.
Aura merasa heran, kenapa ia merasa kecewa? atau tidak terima? Apakah ini karma? atas apa yang selama ini Aura lakukan? Saat Aura mengabaikan Faris yang selalu berusaha mendekati dirinya?
Atau mungkin selama ini, semuanya hanyalah dusta? Apa mungkin selama ini Faris hanya bercanda? Seketika Aura menjadi Insecure. Gadis itu seketika merasa disadarkan dengan paksa. Bagaimana mungkin seorang Faris, lelaki tampan, kaya, dan juga pintar bisa menyukai gadis seperti dirinya? Fikir Aura seperti itu.
Dengan langakah yang sangat berat, Aura berjalan melewati Faris dan juga Carrien untuk kembali ke kamar. Entahlah, dada Aura terasa sesak hingga gadis itu tak tau lagi harus berbuat apa.
Faris sejenak menoleh kedepan, memperhatikan Aura yang tengah berjalan hingga gadis itu menutup pintu kamar dengan rapat.
.
.
.
.
Kalo suka cerita ini jangan lupa like, komen, dan vote ya. Terimakasih. Maaf kalau updatenya lama, Karena aku benar-benar lagi sibuk di dunia nyata. Kalau nggak sibuk aku pasti update kok. Terimakasih atas pengertiannya.:)