
Kevin kini berada di depan sebuah Bar. Pria itu berdiri menatap tempat haram tersebut dengan raut wajah datar. Sungguh, ini adalah kali pertama Kevin pergi ke tempat seperti ini. Entahlah, entah setan dari mana yang membawa Kevin ke tempat ini, tempay yang belum purnah ia kunjungi sama sekali.
Kevin merasa frustasi karena Aura yang benar-benar sudah berubah. Begitulah, behitulah penyesalan. Penyesalan yang kini sudab tidak ada artinya lagi.
Kevin frustasi, pria itu tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk mengatakan pada Aura, bagaimana caranya meminta maaf pada gadis itu. Kevin sungguh merasa bersalah. Tapi semua sudah percuma, nasi sudah menjadi bubur, semuanya kini tak lagi sama. Dan Kevin sudah menyia nyiakan kesempatan yang ada dulu.
Dengan langkah berat, Kevin mencoba masuk ke dalam sana. Telinga Kevin benar-benar terusik dengan dentuman musik yang sangat Keras tersebut. Kevin memperhatikan suasana sekitar. Pria itu melihat banyaknya perempuan dengan pakaian minim tengah berjoget-joget ria. Dan Kevin benar-benar merasa geli melihat semua itu.
Kevin fikir, pergi ke tempat seperti ini akan menenangkan fikiran dan hatinya seperti yang sering ia lihat di sinetron. Tapi ternyata semua diluar dugaan Kevin. Ini sangat memalukan, wanita-wanita itu, Kevin juga tidak menyukainya.
Kevin hendak pergi secepat mungkin dari sana. Tapi langkah Kevin terhenti tatkala dirinya melihat dengan samar-samar seseorang gadis yang ia kenal tengah duduk dikelilingi oleh beberapa pria di kursi paling pojok. Gadis itu tampak sudah mabuk berat.
"Alvin.. Alvin kamu jahat" Ucap gadis yang tidak lain adalah Tasya. Gadis itu benar-benar sudah mabuk. Tasya berbicara kemudian tertawa menunjuk beberapa laki-laki yang ada di hadapannya dengan jari telunjuknya.
"Enggak sayang. Aku nggak jahat. Ayok ikut aku, kita pulang" Rayu laki-laki tersebut.
"Nggak. Aku nggak mau" Ucap Tasya yang sudah hilang kesadarannya.
"Ayoklah sayang, aku akan memuaskanmu malam ini. Aku nggak akan jahat lagi" Ucap laki-laki itu mencoba menarik tangan Tasya. Namun, tiba-tiba tangan Kevin menghentikan laki-laki itu.
Laki-laki itu menoleh. Ia sejenak memperhatikan Kevin dari atas sampai ke bawah. "Siapa lo?" Tanya laki-laki itu.
"Permisi. Saya pacarnya. Sepertinya dia sudah mabuk berat. Maafkan jika dia mengganggu kalian" Ucap Kevin ramah. Kevin sengaja berbicara baik-baik karena pria itu tidak ingin membuat keributan disana dengan laki-laki berbadan tegap dan berotot besar itu.
Dengan begitu, Kevin juga akan lebih mudah membawa Tasya dari sana. Sementara laki-laki yang tadinya merayu Tasya itu kini melirik Kevin dengan penuh curiga.
"Beneran lo pacarnya? Jangan sesekali lo bohongin kita ya" Ucap laki-laki itu dengan sorotan mata tajam dan menakutkan.
Kevin yang hendak menggendong Tasya, kembali menegakkan pandangannya. Pria itu mengambil ponsel dari dalam saku celananya. Kevin tampak mengotak atik ponsel tersebut.
"Ini. Anda bisa lihat sendiri" Ucap Kevin sembari mengulurkan ponselnya di depan laki-laki itu.
Kevin memperlihatkan foto dirinya dan Tasya waktu Kevin membawa Tasya ke danau waktu itu. Benar, mereka pada saat itu sempat berfoto bersama karena Tasya memaksa Kevin dengan alasan agar dirinya tak bersedih lagi dan bisa melupakan Alvin. Dan entah kebetulan apa lagi ini, foto itu juga di ambil di ponsel Kevin pada saat itu.
Laki-laki itu seketika percaya. Ia segera pergi meninggalkan Kevin dan Tasya dari sana dengan sedikit kesal karena tidak jadi mendapatkan mangsanya.
"Tasya..."
"Tasya sadar" Kevin menepuk-nepuk pipi Tasya.
Tasya kembali tersadar. "Alvin..." Ucap gadis itu terkesiap.
Tasya menepis tangan Kevin. "Pergi kamu dari sini, aku nggak butuh penjelasan apapun lagi" Ucap Tasya.
"Tasya sadar woii. Aku bukan Alvin. Aku Kevin" Ucap Kevin.
"Apa lagi Alvin? Kamu udah berubah, kamu bukan Alvin yang dulu, kamu bukan Alvin yang aku kenal" Ucap Tasya. Gadis itu seketika meneteskan air mata.
"Aishhh. Cepat kita pergi dari sini. Kalo Farel sama kak Faris bisa tau lo pergi ke tempat kaya gini ****** lo di gangtung Sya" Ucap Kevin. Pria itu menarik tangan Tasya pergi. Namun, Tasya kembali menepis tangannya.
"Aku nggak mau pergi sama kamu Alvin. Kamu jahat" Teriak Tasya.
Tanpa berfikir panjang. Kevin menggendong Tasya dengan paksa, sungguh gadis itu sangatlah berat. Kevin benar-benar merasa terusik dengan suasana di bar tersebut. Ia tidak peduli meskipun kini Tasya tengah meronta-ronta di gendongannya.
"Tasya diam" Ucap Kevin.
Tasya tidak peduli, gadis itu masih saja bersikeras untuk ingin dilepaskan. Hingga akhirnya Kevin berhasil membawa wanita itu keluar dari sana.
Kevin bersusah payah membuka mobilnya dengan nafas ngos-ngosan. Pria itu menududukkan Tasya di samping kursi kemudi.
"Kamu mau bawa aku kemana Alvin? Aku nggak mau ikut kamu" Ucap Tasya. Karena yang ia lihat saat ini benar-benar wajah Alvin mantan kekasih yang telah mengkhianati dirinya itu.
Kevin mencengkram bahu Tasya hingga membuat gadis itu terkenjut. "Tolong lo sadar! Gue bukan Alvin, tapi gue Kevin." Suara Kevin sedikit meninggi dan diperkeras.
Tasya tak menyauti. Gadis itu justru merasa mual seketika. Hingga.... Gadis itu memuntahkan isi perutnya di baju Kevin yang berada di hadaannya kemudian tumbang begitu saja.
Kevin berdelik ngeri dan jijik. Pria itu melirik bajunya yang kini penuh dengan muntah Tasya.
"Aishh kenapa gue bisa nyampe kesini sih? Kenapa harus ketemu dia lagi" Umpat Kevin kesal. Pria itu segera memasang seatbelt Tasya. Kevin sejenak memperhatikan wajah gadis yang kini sudah tidak sadarkan diri itu dari jarak yang begitu dekat.
Seketika Kevin merasa iba. Ia juga seketika mengingat Aura. Fikiran Kevin penuh tanda tanya, apakah dulu Aura juga sesedih ini saat Kevin mengabaikannya? Ah! Kevin merasa pusing, pria itu segera menancap gas mobilnya untuk segera pergi dari sana.
.
.
.
Jangan lupa like, komen dan vote. makaasih