Aura Story

Aura Story
Sudah Enam Bulan



Sudah enam bulan berlalu. Kini Aura tampak sibuk mengurus Novel pertamanya yang akan terbit. Sudah enam bulan Aura hidup tanpa Faris. Meskipun terasa berat, Anita bilang Aura harus tetap kuat dan bersabar jika ingin Farisnya kembali.


Sebenarnya Aura tak mampu. Hatinya rapuh. Gadis itu kini kehilangan semangat hidupnya. Aura bahkan tak tertarik dengan laki-laki manapun. Namun, beruntung gadis itu masih memiliki keluarga dan juga sahabat yang selalu mendukungnya.


Hari demi hari. Aura selalu mencoba menguatkan hati. Gadis itu sama sekali tidak melupakan Faris. Aura bahkan setiap saat tak henti berharap akan kedatangan Faris yang sampai sekarang tidak tau ada di mana.


Kini gadis itu tampak melamun di depan laptop yang ada di hadapannya. Selama kepergian Faris, Aura sebisa mungkin menyibukkan dirinya untuk menulis, menulis, dan terus menulis. Jika sebelumnya gadis itu hanya menulis ketika bosan, namun sekarang Aura menjadilan menulis sebagai prioritasnya, menuangkan kisahnya bersama Faris hingga menjadi sebuah Novel.


Kini, Novel pertama Aura akan segera terbit. Novel yang menceritakan bagaimana perjalannya dari awal bertemu dengan Faris hingga terjadi kesalah pahaman di antara mereka seperti saat ini.


Aura mencurahkan semuanya di sana. Bagaimana gadis itu teramat sangat menyayangi Faris Ananda Putra. Aura harap, suatu saat Faris membacanya dan segera pulang, kembali kepelukannya. Aura rasa, hanya itulah satu-satunya cara untuk menjelaskan pada Faris yang tidak tau ada di mana. Aura benar-benar berharap Faris akan menemukan Novelnya dan membacanya.


"Udah enam bulan kak Faris. Udah enam bulan kak Faris pergi. Kak Faris ada dimana? Apa kak Faris udah makan? Apa kak Faris baik-baik aja? Apa kak Faris nggak sakit? Apa kak Faris nggak merindukan aku?"


"Kak Faris, setiap detik dan setiap saat. Aku selalu merutiki diri aku sendiri yang terlambat menyadari bahwa kak Faris begitu berarti. Aku bodoh telah menyia nyiakan kak Faris selama ini"


"Kak, sampai kapanpun aku akan menunggu kak Faris kembali. Aku ingin semuanya kembali seperti dulu. Aku ingin sama-sama terus sama kak Faris. Aku rindu kak Faris. Aku ingin liat kak Faris tersenyum lagi, tertawa dan bahagia"


"Aku ingin genggam tangan itu lagi. Aku ingin peluk tubuh itu lagi, aku ingin mencium aroma itu lagi. Aku ingin semuanya, apapun itu yang berhubungan dengan kak Faris"


"Kak. Dimanapun kak Faris berada, aku harap kakak baik-baik aja. Aku benar-benar merindukan Kak Faris. Aku hanya ingin kak Faris cepat pulang. Aku ingin kita selesaikan semua ini. Kita akan sama sama lagi. Aku nggak akan lepasin kak Faris dan nggak akan bikin kak Faris sakit hati lagi"


"Kak. Aku rindu"


"Apa kakak tau, satu bulan lagi kak Kevin dan Tasya bakalan menikah. Tasya juga udah wisuda dua bulan setelah kak Faris pergi. Sani? bayi mungil itu udah berusia enam bulan. Bayi itu sekarang udah tmbuh semakin menggemaskan. Apa kakak nggak pengen liat dia?"


"Kak, aku juga udah bisa mewujudkan keinginan aku saat aku nggak tau harus ngapain setelah wusuda. Buku pertama aku bakalan di terbitkan. Buku yang aku tulis tentang perjalanan kita. Aku harap kakak menemukannya dan membacanya."


"Kak Faris, kembalilah. Udah terlalu banyak momen penting yang kak Faris lewatkan. Kak aku kesepian. Aku rindu kak Faris. Aku ingin kita sama sama terus"


"Kak Faris, harusnya kita sekarang udah bahagia. Harusnya sekarang kita masih bersama. Kak Faris, setelah kita ketemu lagi, aku nggak akan ngelepasin kak Faris. Aku berjanji akan hal itu"


Aura benar-benar tak mampu lagi menahan air matanya. Gadis itu kini munutupi wajahnya dengan kedua tangan. Aura menangis terisak mengingat Faris yang sampai saat ini belum ia ketahui berada di mana.


Sungguh, Aura benar-benar merindukan pria itu. Aura rindu senyumnya, Aura rindu canda dan tawanya.


***


Orang itu melamun menatap kosong ke arah depan. Entah apa yang saat ini ia fikirkan. Hingga suara seorang pria lain dari arah belakang membuyarkan lamunan orang yang duduk di kursi roda tersebut.


"Jangan nyiksa diri lo sendiri"


Orang yang di atas kursi roda itu menghadap ke arah belakang. Matanya mengikuti seorang pria yang kini berdiri di samping dirinya sembari menatap ke arah depan.


"Lo yakin ini keputusan yang baik? Lo nggak ingin nemuin dia dan bicara baik-baik?" Tanya pria tersebut pada orang yang tengah duduk di kursi roda.


Pria yang duduk di kursi roda itu mendongakkan kepalanya menatap seorang pria yang kini berdiri di samping dirinya.


"Gue nggak mungkin nemuin dia dalam kondisi seperti ini. Gue nggak mau menyusahkan dia." Sahut orang yang duduk di kursi roda.


"Tapi yang kalian lakuin sekarang ini sungguh konyol. Lo menyakiti diri lo sendiri dan juga dia"


"Tapi gue nggak tau, apakah dia masih bisa nerima gue dalam kondisi seperti ini. Kalo gue nemuin dia, gue hanya akan menambah benannya. Gue hanya akan menyusahkan dia. Dan gue nggak mau liat dia capek karena gue"


Pria itu menoleh, ia memegang pundak pria yang tengah duduk di kursi roda. "Kalian saling mencintai. Nggak ada alasan bagi dia buat nggak nerima lo lagi. Dia juga nggak mungkin menganggap lo menyusahkan. Dia pasti senang sekalipun liat kondisi lo kaya gini"


"Dia pasti bahagia banget. Setiap hari dia nangis mikirin lo. Berharap lo kembali. Apa lo nggak kasihan? Apa lo tega? liat orang yang lo cintai setiap hari menderita.


"Mending lo buang ego lo jauh-jauh. Gue yang jamin, dia nggak akan marah sama lo. Dia akan tetap nerima lo gimanapun kondisi lo saat ini. Karen gue yakin, dia mencintai lo lebih dari apapun."


"Gue bisa liat dari matanya. Mata mengandung banyak kesedihan, mata itu mengandung kerinduan, mata itu juga mengandung penyesalan yang teramat dalam."


"Tapi gue..."


"Kalo lo benar-benar cinta sama dia. Lo nggak akan tega biarin dia terpuruk kaya gini. Lo nggak akan tega liat dia nangis setiap hari.


.


.


.


Jangan lupa like, komen, dan vote yah. Jangan lupa follow ig aku juga ya @Afrialusiana. Makasih banyak😍😍 Ada yang sama nggak sama Aura? Ada yang pengen Faris cepat balik nggak? Kalo aku sih pengen banget Faris pulang biar cerita ini cepat selesai. wk wk wk wk