
Setelah perdebatan antara Aura dan Tasya dua minggu yang lalu, akhirnya keluarga besar itu memutuskan untuk melangsungkan pernikahan Aura dan Faris terlebih dahulu. Lebih tepatnya pernikahan mereka di langsungkan dua minggu sebelum pernikahan Tasya dan Kevin.
Sepasang manusia itu terpaksa mengalah dan membiarkan Aura dan Faris lebih dulu melangsungkan pernikahan mereka karena Aura benar-benar tidak mau kalah dan tidak mau mengalah hingga Tasya lelah melayani wanita itu untuk berdebat hingga akhirnya pasrah.
Dua minggu? Iya. Waktu dua minggu tentu saja tidak sulit bagi keluarga Yasmin dan juga Anita untuk memeprsiapkan segalanya. Maklum saja orang kaya. Apapun bisa mereka lakukan dalam sekejap mata. Dalam waktu dua minggu, mereka bisa menyiapkan semuanya. Segala keperluan untuk acara pernikahan Faris dan Aura yang memiliki konsep yang sama dengan pernikahan mereka yang batal sebelumnya.
Senyum Aura tak berhenti terlukis di bibir mungilnya sedari tadi. Pandangan gadis itu tak terlepas dari Faris yang kini tengah duduk di samping dirinya di atas pelaminan yang cukup begah tersebut. Aura benar-benar merasa bahagia. Gadis itu sangat sangat bahagia. Aura bahkan tidak puas puas untuk menatap pria yang sudah berstatus menjadi suaminya dari tiga jam yang lalu itu.
"Jangan diliatin terus" Ucap Faris saat pria itu menyadari bahwa sedari tadi Aura tak berhenti menatapnya.
"Suamiku" Rayu Aura cengengesan. Hal itu sukses membuat pipi Faris merona. Beginilah jadinya jika pria kalem disatukan dengan gadis bar-bar. Jika biasanya pengantin pria yang selalu menggoda wanita, namun hal itu tidak terjadi di antara mereka berdua, namun justru sebaliknya.
Faris benar-benar merasa malu sekaligus bahagia saat Aura berusaha merayunya.
"Nggak usah malu juga kali." Ledek Aura.
"Siapa yang malu?" Biasa aja" Sahut Faris songong.
"Itu pipi kenapa merah merah gitu?" Rayu Aura.
"Jangan rayu aku terus ih" Ucap Faris salah tingkah. Hal itu membuat Aura tertawa bahagia di atas sana melihat tingkah Faris saat ini.
Dari atas pelaminan, sepasang manusia yang kini sudah berstatus sebagai suami istri itu, tampak tengah sibuk melayani para tamu yang tak henti memberikan kata selamat sedari tadi.
Begitu banyak orang yang mendo'akan mereka. Mulai dari teman masa kuliah Aura, teman kantor Faris, dan rekan-rekan bisnis orang tua mereka.
Seluruh keluarga Faris dan Aura juga ikut merasa bahagia melihat mereka dari bawah sana. Termasuk Sabilla yang bahagia melihat sahabatnya yang kini sudah mendapatkan pendamping hidup yang sangat menyayangi Aura seperti keinginan gadis itu pada saat mereka masih kuliah. Akhirnya, setelah kesedihan yang mereka alami, kini disusul dengan kebahagiaan tiada tara.
***
Aura dan Faris kini sudah berada di kamar mereka. Kamar yang sudah dihiasi dengan dekorasi pengantin baru yang didominasi dengan warna putih dan pink tersebut. Aura dan Faris memang memutuskan untuk langsung tinggal di rumah mereka berdua yang telah dibeli oleh Faris sendiri. Dan, kamar mereka memang terletak di lantai bawah mengingat kondisi Faris saat ini.
Sepasang suami istri itu tampak benar-benar kelelahan. Aura dan Faris memang sudah mengganti pakaian pengantin mereka dari dua jam yang lalu setelah mereka kembali ke rumah. Rumah yang kini akan menjadi tempat tinggal mereka berdua dan anak-anaknya kelak.
Faris tampak masih duduk di kursi roda. Sementara Aura, gadis itu baru saja keluar dari kamar mandi. "Kak Faris laper nggak?" Tanya Aura saat gadis itu mendekat ke arah Faris.
Faris menggeleng. "Enggak" Sahutnya.
"Beneran? Kalo laper biar aku siapin makanan dulu sebelum kita istirahat" Tawar Aura.
"Enggak usah sayang. Aku capek mau istirahat aja" Sahut Faris.
Aura mengerti. Gadis itu menatap wajah Faris. Aura tahu, pria itu kini merasa bingung karena tidak bisa bergerak sendiri. Selama ini, hidup Faris memang bergantung pada Farrel.
Namun, Aura paham. Gadis itu tentu saja paham dengan apa yang kini ada di di fikiran Faris. Aura segera mendekat ke arah Faris. "Ayok. Kita tidur" Ucap gadis itu tersenyum. Aura mendorong kursi roda Faris lebih dekat ke tepi ranjang. Gadis itu meletakkan tangan Faris di lehernya. Perlahan, Aura membantu Faris untuk bangkit dari kursi roda dan berbaring di tempat tidur.
Dan, memang inilah yang diinginkan oleh Aura. Gadis itu sengaja mempercepat pernikahannya karena ia ingin menjaga Faris seperti saat ini. Menjadi apapun yang tidak bisa Faris lakukan.
Setelah Faris berbaring di atas tempat tidur, kini giliran Aura yang ikut merangkak ke atas sana. Gadis itu ikut membaringkan tubuhnya di samping Faris.
Aura memang tidak lagi merasa canggung sedikitpun seperti pengantin baru lainnya. Karena cintanya dan keinginannya yang ingin menjaga Faris sudah melupakan semua rasa malu yang dimilikinya. Karena yang ada di fikiran gadis itu saat ini hanyalah menjaga menjaga dan menjaga Faris agar pria itu tidak kehilangan semangat untuk beraktifitas karena ada Aura di sampingnya.
Tidak ada lagi yang perlu Aura malukan. Toh, Faris juga sudah menjadi suaminya. Dan mereka mengenal dan bersama juga sudah cukup lama.
Aura dan Faris kini berbaring saling berhadap hadapan. Mereka kini menatap satu sama lain. Tidak bisa di pungkiri juga bahwa kedua manusia itu benar-benar merasa bahagia.
"Kalo kak Faris ada apa-apa dan perlu bantuan, ngomong aja sama aku yah. Jangan sungkan. Karena sekarang aku udah jadi istri kak Faris. Dan memang udah kewajiban aku untuk menjaga suami aku ya" Ucap Aura membuka suara.
"Harusnya aku yang menjaga kamu Ra. Bukan kamu" Sahut Faris dengan raut wajah datar menatap lekat mata Aura.
"Enggak kak. Nggak ada pake seharusnya seharusnya. Karena kita memang harus saling menjaga satu sama lain, bukan salah satu" Bantah Aura.
"Please kak. Aku bukan orang asing lagi. Sekarang aku istri kak Faris. Jadi aku mohon, kalo ada apa-apa jangan sungkan kak sama aku. Aku nggak mau kita kaya orang asing hanya karena kak Faris nggak mau ngerepotin aku. Aku ini istri kak Faris. Aku akan ngelakuin apapun yang kak Faris butuhkan."
"Sampai kapanpun aku nggak akan pernah ngerasa di repotkan kak. Aku justru senang kalau aku dibutuhkan oleh suami aku sendiri"
"Tapi kamu akan capek karena aku. Hidup aku sekarang bakalan bergantung sama orang lain"
"Nggak, nggak boleh bergantung sama ornag lain kak Faris. Harus bergantung sama aku aja. Oke"
"Iya maksud aku, hidup aku bakalan berantung sama kamu, dan aku bakalan bikin kamu susah"
"Aku udah bilang kak. Kita akan memulai semuanya dari awal. Kita harus terbiasa dengan kondisi ini sampai kak Faris sembuh. Kita nggak boleh menjadikan ini semua beban kak. Kita harus menikmatinya, dengan begitu kita akan tetap merasa bahagia sekalipun kita memiliki kekuranga"
"Semua akan terasa sempurna jika kita menerima dan menjalaninya dengan sabar dan ikhlas kak"
Faris tersenyum. Pria itu mencubit pipi Aura gemas. "Gadisku sekarang udah dewasa." Ucap Faris kemudian memeluk Aura dna menenggelamkan kepala gadis itu di dada bidangnya.
"Makasih ya Ra. Makasih udah nerima laki-laki seperti aku. Aku beruntung punya istri sebaik kamu" Lirih Faris kemudian mengecup puncak kepala Aura.
"Enggak kak. Kakak salah, akulah orang yang paling beruntung di dunia ini karena udah mendapatkan laki-laki sebaik kak Faris" Sahut Aura semakin mengeratkan pelukannya.
Hingga kedua manusia itu tertidur lelap di dalam dekapan orang yang mereka cintai. Rasanya damai dan tenang hingga membuat tidur mereka benar-benar terasa nyenyak.
.
.
.
Jangan lupa like, komen, dan vote ya. Makasih :)