Aura Story

Aura Story
Kesal



Pagi hari, silau matahari yang berhasil menyusup ke celah-celah fentilasi kamar, membuat Aura tersadar akan tidur pajangnya. Kening gadis itu tertaut dalam saat dirinya mencoba membuka mata, menghalangi silau matahari agar tidak menembus mata indahnya.


Setelah berhasil mengumpulkan kesadaran, Aura seketika menyadari bahwa ini sudah terlalu pagi. Gadis itu bahkan tidak menyadari saat dirinya semalam tertidur lelap setelah berfikir panjang akan hubungan Faris dan juga Carrien.


Detik kemudian, Aura segera mendudukan tubuhnya dengan paksa, meskipun rasanya ia sangat enggan untuk beraktifitas. Namun, mata gadis itu membulat seketika saat dirinya melihat jam beker yang terletak di atas nakas sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi.


Tubuh Aura melemas, gadis itu memejamkan mata sesaat, diikuti dengan hembusan nafas yang terdengar pasrah keluar dari hidungnya.


"Telat lagi" Satu kata yang terlintas di benak Aura. Ya, gadis itu memang selalu lupa waktu jika tidur dalam kondisi banyaknya beban fikiran. Tanpa berfikir panjang, Aura segera berlalu menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri.


***


Aura keluar dari kamar saat gadis itu sudah selesai membersihkan diri dan berdandan senatural mungkin. Tujuan utama Aura saat ini adalah meja makan. Karena tidak bisa dipungkiri, saat ini Aura benar-benar merasa lapar.


Meskipun begitu, Aura masih tampak was-was dan memperhatikan suasana sekitar dari ambang pintu kamar. Memastikan akan keberadaan Faris yang ia rasa dari semalam begitu menyebalkan.


Aura masih terlihat bengong saat dirinya sudah berhasil sampai di tempat yang ia tuju. Kepala gadis itu tampak masih berputar kesana kemari, mencari keberadaan Faris yang sama sekali belum ia dapati sedari tadi.


Hingga tak berselang lama, kening Aura tertaut dalam saat dirinya mendapati selembar kertas kecil yang terletak di atas meja makan. Aura meraih kertas tersebut dengan ragu, membuka beberapa lipatan serta membaca tulisan yang ada disana perlahan.


"Aku udah berangkat kerja Ra. Tadinya aku mau bangunin kamu, mau sarapan bareng, tapi kayanya kamu tidur nyenyak banget. Aku nggak mau ganggu. Kalo kamu udah baca kertas ini, jangan lupa makan, semuanya udah aku siapin. Dan satu lagi, jangan kemana-mana sebelum aku pulang. Aku nggak mau kejadian kemaren sampe terulang lagi" ~ Faris.


"Ck" Salah satu sudut bibir Aura terangkat. Gadis itu menyeringai, serta memutar bola matanya malas. "Sosoan" Satu kata itu berhasil lolos dari bibir mungil Aura.


Semenjak kejadian semalam, terlebih lagi semenjak Faris mengatakan bahwa dirinya sudah memiliki calon istri, entah mengapa rasanya Aura merasa sangat kesal pada Faris. Entahlah, Aura sendiri tidak mengerti dengan apa yang ia rasakan saat ini.


Aura menaruh kembali kertas kecil tersebut di sembarang tempat. Gadis itu segera menarik salah satu kursi yang ada di meja makan, mendudukkan tubuhnya sembari memperhatikan beberapa makanan yang tampak sangat menggugah selera serta sudah tertata rapi di meja makan.


Netra Aura sungguh terkesiap saat dirinya mendapati hidangan yang benar-benar tampak lezat dan tidak sabar untuk ia santap.


"Boleh juga nih" Lirih Aura tersenyum girang. Tanpa berfikir panjang, gadis itu segera menyantap makanan yang benar-benar terlihat sangat lezat tersebut, makanan yang tentunya dimasak oleh tangan Faris sendiri. Karena memang, masakan Faris Maupun Farrel memang tak akan ada yang bisa menandingi.


"Seru juga nih kalo gue punya suami kaya gini. Pintar masak, rapi, mandiri, meskipun orang kaya tapi nggak manja" Ucap Aura cengengesan sendirian sembari menikmati makanan. Namun, raut wajah gadis itu seketika berubah datar, tatapan mata Aura berubah lurus tak berkedip, sebuah kekesalan kembali terlihat jelas dari sana. Bayangan Carrien dan Faris semalam, kini terlintas seketika di benak Aura. Dan sungguh, Aura benar-benar merasa kesal.


"Pembohong" lirih Aura sebelum dirinya kembali menikmati makanan yang ada di hadapan dirinya itu dengan lahap.


***


Dan lagi, kekesalan kembali terlihat jelas dari raut wajah Aura, saat gadis itu masih belum mendapati Faris pulang bekerja.


Hingga detik jam terus berputar. Tak terasa, lelah dan bosan seharian hanya menonton televisi dan menghabiskan banyak makanan yang ada di kulkas, Aura kembali menoleh ke arah jam yang terpajang jelas di dinding. Kali ini waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 malam.


Raut wajah tak suka serta amarah kembali terlukis jelas di wajah Aura. Sejenak Aura menoleh ke arah pintu, memastikan akan kepulangan Faris yang sebenarnya sedari tadi ia tunggu. Hingga lagi dan lagi, hanya kekesalan yang Aura dapati saat gadis itu sama sekali belum mendapati Faris sedari tadi.


Dengan sangat memelas, Aura segera bangkit dari sofa bed yang ada di depan televisi, gadis itu berjalan menuju kamar, mengambil ponsel yang semula terletak di atas nakas.


Detik kemudian, Aura kembali ke ruang tengah, membaringkan tubuhnya di sofa bed yang sangat empuk tersebut.


Jemari lentik Aura kini terlihat lihai mengotak atik mencari nama Faris di layar ponsel. Dua menit berlalu, Aura hanya menatap layar ponsel yang bertuliskan nama 'Kak Faris' tersebut. Bingung, itulah yang saat ini Aura rasakan.


Di satu sisi, rasanya gadis itu ingin sekali menghubungi Faris saat itu juga, menanyakan dimana pria itu saat ini berada. Namun disisi lain Aura juga terlalu memikirkan egonya. Gadis itu hanya tidak ingin Faris menjadi besar kepala dan terlalu percaya diri saat Aura menghubungi dirinya.


"Aishhhhh" Aura mengacak-acak rambutnya frustasi.


"Kalo gue telfon kak Faris, ntar dia kegeeran" Lirih Aura. "Tapi kalo nggak gue telfon, gue juga nggak bakalan tau sekarang kak Faris ada dimana!" Sambung gadis itu dengan raut wajah cemberut serta frustasinya. Merasa kesal, Aura melempar ponselnya ke sembarang arah.


"Apa jangan-jangan sekarang kak Faris..." Mata Aura membulat tidak percaya, gadis itu seketika terduduk paksa dari tidurnya saat bayangan wajah Carrien saat ini terlintas jelas di benaknya. Raut wajah Aura terlihat benar-benar tak ramah. Remot tv yang semula ia pegang, sekarang Aura genggam erat, untuk melepaskan rasa kesal yang ia rasakan akan bayangan Carrien dan Faris yang saat ini menari-nari di fikirannya.


Dengan cepat, Aura kembali meraih ponsel yang terletak di sembarang tempat. Gadis itu tampak mengotak atik layar ponsel, menuliskan sebuah pesan yang bermaksud untuk ia kirimkan pada Faris. Namun, lagi dan lagi, setelah berfikir panjang, yang Aura lakukan adalah menghapus kembali pesan yang sudah ia tulis panjang lebar tersebut tampa mengirimkan kepada Faris yang Aura tidak tahu sekarang pria itu berada dimana.


.


.


.


.


.


Maaf kalo masih banyak typo. Karena udah lama nggak nulis. Jangan lupa like, komen, dan vote ya. Jangan lupa Follow ig aku juga @Afrialusiana. Makasih banyak :) Yang mau join grup Wa link nya ada di bio instagram aku ya :)