Aura Story

Aura Story
Kenapa Seperti Ini?



Aura kini sedang berada di sebuah Coffe Shop yang terletak tidak terlalu jauh dari rumahnya. Gadis itu tampak tengah duduk sembari memainkan ponselnya menunggu Coffe yang barusan ia pesan di ruang tunggu pemesanan take away.


Tak berselang lama, Aura menerima pesanannya. Gadis itu memutar tubuhnya hendak pergi dari Coffe Shop yang terlihat sangat ramai dengan ramaja tersebut. Namun, langkah Aura terhenti, saat gadis itu melihat seorang pria yang sangat dirinya kenal tengah berdiri dengan jarak yang begitu dekat.


Aura terdiam di tempat, gadis itu mematung memperhatikan pria tersebut dengan raut wajah datar. Lagi, Aura bertemu kembali dengan Kevin untuk yang kedua kalinya semenjak pria itu kembali.


Mereka saling menatap satu sama lain. Jelas, kini terlihat ada sesuatu yang ingin Kevin katakan. Aura bisa tahu, saat gadis itu menatap mamik mata Kevin yang terlihat sendu.


"Kak Kevin" Lirih Aura pelan. Jantung Aura seketika berdetak tidak karuan. Tangannya dingin, ada apa ini? Aura tidak mengerti.


Ini bukan kemauan Aura. Aura sangat mencintai Faris, kini hanya Faris yang ada di hatinya. Tapi kenapa? kenapa jantung Aura masih berdetak setiap kali wanita itu melihat Kevin di hadapannya?


"Aura..." Panggil Kevin.


Aura memalingkan pandangannya segera. Gadis itu sebisa mungkin menghindar dari Kevin. Aura segera mempercepat langkah kakinya berjalan mendahului Kevin. Gadis itu benar-benar tidak ingin berurusan lagi dengan Kevin, pria yang telah melukai hatinya, pria yang selama ini tidak pernah menganggap dirinya ada. Aura juga tidak ingin melukai Faris.


"Ra..., Aura tunggu..." Kevin menarik pergelangan tangan Aura, menghentikan langkah gadis itu.


Aura masih menunduk sambil memegang Coffe yang ada di tangannya. Gadis itu tidak berani memalingkan pandangannya pada Kevin.


"Aura, aku mau ngomong sama kamu. Sebentar aja" Pinta Kevin masih belum melepaskan pergelangan tangan Aura.


"Kak Kevin mau ngomong apa? Ngomong aja disini!" Sahut Aura dingin.


"Bisa kita duduk di sana sebentar?" Pinta Kevin.


"Enggak, aku nggak ada waktu!" Tolak Aura. "Kalau kak Kevin mau ngomong, ngomong aja disini, telinga aku masih bagus dan masih bisa dengar suara kak Kevin dengan jelas tanpa harus duduk di sana" Ketus Aura.


Kevin menghembuskan nafas pasrah, pria itu memejamkan matanya sejenak sebelum memulai berbicara.


"Aku mau minta maaf sama kamu..."


"Minta maaf buat apa?" Sahut Aura dingin.


"Maaf karena aku udah..."


"Oke, Sebelumnya aku yang mau minta maaf duluan ya kak Kevin. Diantara kita itu nggak pernah ada hubungan apa-apa. Aku bahkan hanya perempuan bodoh yang masih sulit untuk melupakan seseorang yang bahkan nggak pernah menganggapku ada."


"Kita nggak sedekat itu untuk saling mengucapkan kata maaf. Aku sadar aku bukan siapa-siapa. Lantas, apa yang harus dimaafkan?" Potong Aura sebelum Kevin melanjutkan ucapannya barusan. Aura melangkahkan kakinya hendak meninggalkan Kevin disana.


"Kalo gitu kita buat semuanya ada apa-apanya mulai dari sekarang. Kita mulai semuanya dari awal. Kita buat diri kita sedekat mungkin" Sorak Kevin.


Langkah Aura terhenti, gadis itu tersenyum miring. Aura memutar tubuhnya kembali ke arah belakang. Kini, Aura berani menegakkan pandangannya. Gadis itu berjalan perlahan mendekat ke arah Kevin yang masih mematung sembari memperhatikan Aura di tempat yang sama.


"Dulu kak Kevin seenaknya acuh. Mengabaikan rasa yang membuat aku benar-benar tersiksa. Tapi sekarang? Kak Kevin seenaknya kembali dan bilang kita akan memulai semuanya dari awal? Sementara dulu kak Kevin nggak pernah menganggap aku ada!" Aura tersenyum miring.


"Cinta nggak sebercanda itu Kak Kevin. Aku tau, aku bodoh. Aku sangat bodoh karena seorang Kevin Bramasta. Tapi yang harus kak Kevin tau, itu hanyalah dulu. Karena sekarang, sekarang semuanya udah berubah. Semua udah nggak sama lagi!"


***


Aura bergegas masuk ke dalam kamar. Gadis itu memegangi dadanya yang terasa sangat sesak. Aura tak mampu lagi menahan air matanya. Gadis itu kini menangis terisak.


"Kenapa harus sekarang? Kenapa?" Teriak Aura melampiaskan emosinya.


"Aku benci semua ini. Aku benci keadaan ini. Aku mencintai kak Faris. Aku nggak mau kehilangan dia. Tapi kenapa, kenapa jantung ini masih berdetak setiap kali melihat kak Kevin? Kenapa tangan ini masih dingin ketika melihat kak Kevin? Kenapa aku belum bisa bersikap bisa aja saat ketemu sama kak Kevin? Rasa sakit itu benar-benar terasa nyata. Harusnya aku udah bisa bersikap biasa-biasa aja sama dia. Tapi kenapa? Kenapa harus kaya gini" Ucap Aura dalam isak tangisnya. Gadis itu tak berhenti memukul - mukul dadanya yang terasa benar-benar sesak akan situasi ini.


Pasalnya, Aura memang benar sudah mencintai Faris. Aura memang sangat merasa nyaman dan terlindungi ketika bersama pria itu. Aura memang merasa istimewa jika bersama Faris. Jika orang-orang berfikiran bahwa Aura bersama dengan Faris hanya karena sebuah pelampiasan? Itu salah besar. Aura benar-benar takut akan kehilangan Faris.


Tapi, kenapa sesuatu seperti ini sangat mengganjal di fikiran Aura? Aura sungguh tidak lagi menginginkan Kevin. Tapi mengapa? Mengapa salah tingkah itu masih saja sama. Apa ini hanya sebatas rasa penasaran yang dulu belum sempat terselesaikan saja? Entahlah! Aura sendiri merasa sangat bingung dengan apa yang saat ini dirinya rasakan.


Hingga suara dering ponsel yang terletak di atas nakas, membuyarkan lamunan Aura. Aura yang semula terduduk di lantai sambil memangku lututnya itu, kini berdiri untuk mengambil ponselnya.


Aura mengusap layar ponsel tersebut. Nama Faris Aura dapati tertera di sana tengan menelfon dirinya. Dengan cepat, gadis itu menghapus air matanya dan menyesuaikan suaranya.


"Hai kak Faris sayang" Sahut Aura girang dari seberang sana.


Faris tersenyum. "Hai sayang. Kamu dimana?" Tanya Faris. Mereka semakin hari memang sudah semakin dekat. Panggilan sayang dari Faris pun tidak terasa asing lagi bagi Aura.


"Aku di kamar. Kamu dimana?" Tanya Aura balik.


"Aku masih di kantor Papa. Bentar lagi pulang" Jawab Faris. "Kamu nangis?" Tanya Faris setelah menjeda ucapannya beberapa saat.


"Apa? Aku nggak nangis. Kenapa juga aku nangis?" Tanya Aura berusaha kuat. Karena gadis itu tidak ingin Faris tau apa yang kini ia rasakan. Aura tidak ingin Faris salah faham dan menganggap dirinya masih menginginkan Kevin.


"Jangan boong. Aku tau kamu habis nangis." Ucap Faris.


"Enggak. Aku nggak boong kak Farisku sayang"


"Yaudah kalo gitu turun ke bawah gih. Aku udah ada di bawah" Ucap Faris yang membuat mata Aura membulat seketika.


"Di bawah? Di rumah aku?" Tanya Aura antusias.


"Iya sayang. Cepetan" Ucap Faris dengan suara lembut.


"L-lima menit. Eh enggak enggak, sepuluh menit" Ucap Aura terbata bata. Gadis itu menaruh ponselnya di sembarang tempat. Aura segera bergegas menuju kamar mandi. Gadis itu membilas wajahnya beberapa kali dan segera memolesi make up lebih banyak dari biasanya untuk menutupi wajah usai menangis dirinya.


.


.


.


Kalau suka cerita Aura sama Faris, jangan lupa vote yang kenceng yah. Maunya sad ending apa happy ending nih? Hihi