
...Maaf kalo banyak typo dan kata berulang-ulang....
Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Aura tampak tertidur saking kelelahan dan mengantuk mendengar cerita Faris bagaimana pria itu bisa berjalan.
Faris kini duduk di kursi yang ada di samping Aura. Pria itu sedari tadi tak mengalihakan pandangan dari istri cantinya itu. Faris mengelus lembut rambut Aura hingga membuat gadis itu makin lelap dalam tidurnya.
"Kenapa kamu gemes banget sih sayang" Lirih Faris dengan bibir tersenyum. Ia menatap wajah polos istrinya itu. Kemudian Faris mengecup tangan dan puncak kepala istrinya itu. Sekarang, Faris benar-benar merasa bahagia. Entahlah, rasanya hati pria itu kini sudah tenang.
Beberapa saat setelahnya. Aura mengerjap. Gadis itu bangun dari tidurnya. Kini, giliran Aura yang mendapati suminya tertidur sambil duduk di kursi yang ada di samping brankarnya sambil menggenggam tangannya.
Bibir Aura melengkung, dia tersenyum. Aura mengelus rambut Faris dengan tangannya satunya lagi.
"Kenapa nggak dari dulu aja aku jatuh cinta sama kak Faris. Untung aku belum terlambat" Lirihnya.
Merasa sesuatu di kepalanya, Faris terbangun. Pria itu menoleh ke arah Aura.
"Kamu udah bangun?" Tanya Faris.
"Udah" Sahut Aura.
"Dari kapan? kenapa nggak bangunin aku? Kamu butuh sesuatu?" Tanya Faris beruntun.
"Aku nggak mau ganggu kak Faris tidur. Aku juga nggak butuh apa-apa. Aku cuma butuh kak Faris."
"Aduh. Aku mau terbang" Ucap Faris tertawa.
"Kalo terbang jangan lupa bawa aku. Aku nggak mau sendiri" Sambung Aura.
"Siap bos"
Seketika Faris teringat akan sesuatu. "Oiya, kamu belum makan siang. Makan dulu ya." Ucap Faris.
Aura menggeleng. "Nanti aja kak. Aku belum lapar" Tolak Aura.
"Sayang. Kamu itu lagi sakit. Kamu harus makan biar cepat pulang. Ya" Bujuk Faris.
"Tapi kak..."
"Jangan nolak please. Aku nggak mau kamu kenapa-napa. Aku suapin" Ucap Faris.
Aura pasrah. Dia akhirnya mengikuti kemauan Faris. Faris segera membantu istrinya itu untuk duduk dan menyandar ke belakang. Detik kemudiana, Faris mengambil bubur yang memang sudah di siapkan oleh pihak rumah sakit di atas nakas.
Bukan karena mereka tidak mampu membeli makanan sendiri. Tapi karena memang dokter menyarankan Aura untuk memakan makanan dari pihak rumah sakit terlebih dahulu yang gizinya sesuai kebutuhan selama di rawat.
"Aaaa" Ucap Faris menyuruh Aura membuka mulutnya.
Gadis itu menurut. Faris tampak menyuapi Aura dengan telaten.
"Kak aku udah kenyang" Ucap Aura saat gadi itu baru saja memakan beberapa sendok.
"Dikit lagi sayang. Dikit lagi" Ucap Faris. Aura pasrah, gadis itu akhirnya menuruti ucapan uaminya.
Setelah selesai menyuapi Aura. Faris menaruh kembali piring tersebut di atas nakas. Ia kini memberikan minuman pada sang istri tercinta.
"Udah kenyang?" Tanya Faris sembari menaruh kembali minuman di atas nakas.
"Udah" Sahut Aura.
"Kak Faris nggak makan juga?" Tanya Aura.
"Aku bisa makan nanti" Sahut Faris tersenyum.
"Lah, kok curang?" Aura cemberut.
"Iya nanti aku makan sayang kalo Mami udah nyampe sini. Aku nggak mau ninggalin kamu sendiri."
"Kak, aku nggak papa. Kak Faris makan dulu aja. Aku nggak mau nanti kak Faris sakit juga"
Aura cemberut. "Dahlah, kak Faris curang. Kalo gitu aku nanti juga nggak usah makan. Nggak minum obat aja sekalian" Ancam Aura.
"Aduh ngacem nih istri" Ucap Faris menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sementara Aura memalingkan pandangannya kesal.
"Iya iya. Aku makan. Aku pesan makanan aja ya nggak usah keluar" Tawar Faris.
"Ya terserah. Yang penting kak Faris makan" Ucap Aura dingin.
Faris tersenyum. "Iya iya bawel" Ucapnya sembari mengambil ponsel yang berada di kantong celana. Faris segera memesan makanan dari sana.
***
Bumi tak berhenti berputar. Kini, siang sudah berganti menajadi malam. Di ruang perawatan Aura. Hanya ada Faris dan Aura di dalam sana. Karena setelah mengunjungi Aura ramai-ramai tadi siang, keluarga mereka segera kembali pulang ke rumah karena besok harus bekerja.
Faris masih setia duduk di kursi yang ada di samping brankar Aura. Pria itu bahkan tidak mau berpindah tempat. Aura sudah berkali-kali menyuruh Faris untuk beristirahat di sofa bed yang ada di sana. Tapi Faris selalu saja menolaknya.
"Kak Faris, jangan duduk disini terus. Kaki kak Faris nggak pegel apa?" Tanya Aura.
"Enggak sayang. Jangan usir aku terus. Aku mau disini sama kamu" Ucap Faris.
"Yaelah kan kita masih di ruangan yang sama kak. Kakak harus istirahat juga" Ucap Aura.
"Tapi aku ngggak mau jauh-jauh dari kamu sayang" Sahut Faris cemberut.
Aura menghembuskan nafas. "Yaudah kalo gitu kak Faris tidur disini aja sama aku" Aura menggeser tubuhnya ke samping. Kemudian menepuk kasur di sampingnya.
"Boleh? Kamu nggak sempit?" Tanya pria itu penuh semangat. Faris hanya saja tidak mau munafik karena ia memang ingin dekat-dekat terus dengan sang istri.
"Enggak. Ayok sini. Nggak capek apa duduk disana dari tadi" Ucap Aura.
"Kamu juga nggak nawarinnya dari tadi" Sahut Faris cengengesan.
Aura tersenyum. "Dasar" Ucapnya.
Faris naik ke atas brankar Aura. Pria itu membaringkan tubuhnya di samping sang istri. Faris memeluk Aura dan menjadikan tangannya sebagai bantal Aura.
"Aduh. Dari tadi kek kaya gini" Canda Faris mengeratkan pelukannya pada Aura. Membuat gadis itu tersenyum dan ikut melingkarkan tangannya di pinggang Faris.
Malam itu, mereka tertidur bergitu mesra. Aura dan Faris menghabisakan waktu malamnya untuk bercerita apa saja. Berbagi apapun yang belum mereka ketahui tentang rahasia masing-masing.
Mereka juga tidak lupa membahas perihal bagaimana perencanaan kehidupan mereka kedepannya. Apa yang akan mereka lakukan. Apa saja yang akan mereka rencanakan. Dan masih banyak lagi yang pasutri itu berbincangkan sambil mendekap satu sama lain, di pelukan orang yang sama-sama mereka cintai.
Faris dan Aura juga sesekali tertawa akan hal yang mereka anggap lucu.
"Udah. Udah malam. Kamu harus tidur. Ingat kata dokter, harus istirahat yang cukup" Ucap Faris membenamkan kepala istrinya itu di dada bidang Faris.
"Yaelah, daritadi kan kak Faris juga yang ngajak aku ngomong. Sebagai istri yang baik ya aku harus ladenin" Protes Aura.
"Iya sayang. Iya. Sekarang tidur ya."
Faris semakin mengeratkan pelukannya. Pria itu mencium kening Aura cukup lama.
"Good Night sayang" Ucap Faris.
Aura mendongakkan kepalanya sedikit ke atas. Ia melihat Faris sudah memejamkan matanya.
"Night to sayang. Tidur nyenyak ya kak" Ucap Aura mengelus pipi Faris kemudian mengeratkan pelukannya. Beberapa saat kemudian, pasangan itu sudah berada di alam mimpi, tertidur mesra saling memeluk erat.
.
.
Udah seneng belum nih? Heheh