
"Minum dulu, nanti kepala kamu sakit. Jangan nangis terus, nggak ada gunanya juga. Dia bahkan nggak peduli sama sekali" Ucap seseorang yang baru saja datang di depan Tasya. Tangannya terulur memberikan sebuah minuman pada gadis tersebut.
Tasya mendongakkan kepalanya ke atas, gadis itu segera menghapus sisa air mata yang masih melekat di pipinya. Tasya menatap pria itu dengan raut wajah bingung.
"Kak Kevin bukan?" Tanya Tasya.
Pria yang benar adalah Kevin, tidak menyauti ucapan sepupu temannya itu. "Cowok brengsek kaya gitu nggak usah di perjuangin. Udah biarin aja. Nggak guna, buang buang waktu plus buang tenaga." Ucap Kevin ikut mendudukkan tubuhnya kursi besi di samping Tasya.
"Jawab dulu pertanyaan aku. Kamu kak Kevin kan? temannya kak Farrel? yang dulu sukanya sama kak Sabil? sampe nyakitin kak Aura?" Tanya Tasya tanpa jeda. Tasya jelas mengetahui segalanya. Apalagi saat Aura benar-benar galau berat ketika Kevin pergi.
"Iya, aku Kevin" Sahutnya singkat.
"Kenapa kak Kevin ada disini?" Tanya Tasya bingung.
"Aku tadi cuma nggak sengaja liat kamu di Cafe lagi berantem sama cowok, dan aku juga nggak sengaja denger percakapan kalian. Aku tau, kamu adik Farrel. Makannya aku ngikutin kamu sampe kesini karena aku takut kamu bakalan bunuh diri" Ucap Kevin menjelaskan.
"Aku nggak nanya itu. Aku nanya, kenapa kak Kevin bisa kembali lagi? Selama ini kak Kevin kemana aja?"
Kening Kevin tertaut. "Kenapa dia nanya seolah lagi mengintrogasi pacarnya? Gumam Faris dalam hati. "Kenapa kamu nanya gitu?" Tanya Kevin.
"Ya jelas. Kak Kevin udah bikin kak Aura sedih, dan sakit hati karena kak Kevin. Makannya aku nanya, aku butuh penjelasan"
"Kenapa jadi dia yang butuh penjelasan?" Lirih Kevin dalam hati.
Kevin tak menyauti pertanyaan Tasya. Pria itu yang kini memakai sweetwer hitam itu hanya diam sembari menatap lurus ke depan seolah memikirkan sesuatu.
"Aku nggak ngerasa nyakitin siapa-siapa. Aura juga bukan pacar aku. Jadi kenapa kamu bisa ngomong kaya gitu sama aku?" Sahut Kevin tanpa merasa bersalah. "Lantas, apa masalahnya jika aku pergi?" Sabung Kevin.
"Cih, dasar ya laki-laki" Tasya tersenyum miring. Gadis itu menatap Kevin dengan tatapan kesal dan tidak suka. "Ternyata semua cowok sama aja ya. Egois, cuma mikirin diri sendiri, nggak punya perasaan dan hati nurani tau nggak?" Sambung Tasya kemudian.
"Kamu kenapa jadi marah sama aku? Yang salah itu pacar kamu, eh mantan kamu. Bukan aku.!" Sahut Kevin tak terima saat Tasya justru kini menyalahkan dirinya.
"Iya, dia memang salah. Dan aku lihat kak Kevin nggak ada bedanya sama dia. Aku tau, kak Kevin bukan pacar kak Aura. Tapi seenggaknya kak Kevin tau kalo kak Aura punya perasan sama kak Kevin. Seenggaknya kak Kevin tau kalo kak Aura menyukai kak Kevin. Tapi kak Kevin nggak bisa sedikit aja berbaik hati pada dia."
"Padahal kak Aura gadis yang baik, tapi kak Kevin tega melukai hati Kak Aura. Aku juga tau kak Kevin juga suka sama kak Sabil. Tapi kak Kevin harusnya sadar, kak Sabil sampai kapanpun nggak akan bisa kak Kevin miliki. Kak Kevin udah nyia nyiain orang yang tulus sama kak Kevin. Apa susahnya sih membuka hati untuk kak Aura?"
"Oh, oke. Mungkin perasaan memang nggak bisa di paksakan. Tapi seenggaknya kak Kevin menghargai perjuangan kak Aura selama ini. Sedikitttt aja. Kak Aura bahkan masih nungguin kak Kevin di hari wisudanya. Dia nggak pernah maksa kak Kevin juga suka sama dia. Tapi kak Aura cuma pengen kak Kevin bersikap baik sama dia. Itu aja udah cukup, tapi kak Kevin justru ngilang gitu aja."
Kevin hanya diam mendengar ocehan Tasya yang panjang lebar. Jujur saja, pria itu sedikit merasa bingung. Disini yang sedang bermasalah adalah dirinya dan mantan kekasihnya. Tapi mengapa justru Kevin yang jadi imbasnya? Fikir Kevin seperti itu. Namun, pria itu berusaha untuk memaklumi, mungkin ini adalah efek dari patah hati.
***
"Biar aku anterin kamu pulang" Ucap Kevin.
"Nggak mau, aku nggak mau dekat-dekat sama laki-laki jahat dan nggak punya hati kaya kak Kevin" Ketus Tasya menepis tangan Kevin dan kembali melanjutkan langkahnya.
"Tasya, ini udah malam. Aku akan nganterin kamu pulang"
"Enggak, nggak usah!" Tolak Tasya mentah mentah. Gadis itu masih terus berjalan dan hendak menyebrangi jalan. Hingga....
"Tasya awas..."
Jantung Tasya berdetak kencang. Gadis itu kaget saat Kevin tiba-tiba menarik dan memeluknya ke pinggir jalan. Nafas Kevin juga terpacu cepat saat pria itu berusaha menyelamatkan Tasya dari sebuah mobil yang hampir saja menabrak gadis tersebut.
Tasya perlahan mendongakkan kepalanya ke atas. Gadis itu menatap Kevin dengan raut wajah datar. Sungguh, jarak mereka saat ini begitu dekat.
"Udah aku bilang. Suasana hati kamu itu lagi nggak baik. Fikiran kamu belum tenang dan masih nggak fokus. Jangan pulang sendiri, bisa bisa kamu kena bahaya. Untung aja kamu selamat. Jangan bandel, kalo Farel tau, dia pasti marah besar. Cepat, aku akan anterin kamu pulang"
"Tapi..."
"Nggak usah pake tapi..."
Sesungguhnya Tasya juga merasa ketakutan. Benar yang dikatakan Kevin. Gadis itu sebenarnya sedang merasa tidak baik. Tasya bisa saja lebih celaka karena tidak fokus jika Kevin meninggalkan dirinya. Sejujurnya gadis itu juga merasakan, bahwa hatinya sangat kacau. Aura bahkan sebenarnya tidak tahu harus kemana dan bahkan harus berbuat apa. Hingga akhirnya gadis itu terpaksa mengikuti tawaran Kevin.
***
Tasya dan Kevin kini sudah berada di dalam mobil. Memang, sebelum menghampiri Tasya di taman, Kevin sudah memarkirkan mobilnya terlebih dahulu di seberang sana.
Sedari tadi, Tasya tidak lagi berbicara. Gadis itu tidak lagi mengoceh. Ia hanya diam, memfokuskan pandangan ke samping. Menatap jalanan dengan tatapan sendu. Bayangan Alvin kembali menari-nari di fikiran Tasya. Tasya bahkan berharap ini semua hanyalah mimpi. Karena sungguh, Tasya masih belum bisa menerima kenyataan. Kenyataan akan kehilangan Alvinnya, cintanya, dan pangerannya dari masa SMA.
"Kalo mau nangis, nangis aja. Nggak usah di tahan" Ucap Kevin sesekali melirik Tasya ke samping.
Seketika, tangisan Tasya memecah keheningan di dalam mobil. Gadis itu terisak. Kevin mengulurkan tisyu pada Tasya, kemudian kembali fokus akan kemudinya. Sepanjang perjalanan, Kevin membiarkan Tasya melepaskan segala sesak di dadanya.
.
.
.
Jangan lupa vote yang kenceng ya. Makasih yang udah selalu setia nunggu aku up dan udah ngasih semangat. Love you💕💕