Aura Story

Aura Story
Kak Faris



Aura mendongakkan kepala ke atas. Menatap pria yang saat ini berdiri dengan jas kerja di hadapan matanya. Mata gadis itu membulat, bibirnya sedikit terbuka dengan raut wajah datar.


"Kak Faris" Sorak Aura antusias.


Tanpa berfikir panjang, gadis itu berdiri memeluk Faris erat. Seketika, air mata Aura kembali lolos dari kelopak matanya membasahi pipi mungilnya. Karena sejujurnya gadis itu benar-benar merasa ketakutan.


"Kak Faris, ini beneran kak Faris kan?" Tanya Aura dengan posisi masih memeluk Faris erat, gadis itu membenamkan kepalanya di dada bidang Faris.


Faris masih terdiam, pria itu terlihat bingung. Senang dan tidak percaya bercampur menjadi satu. Di satu sisi Faris benar-benar merasa senang jika gadis yang ada di depan dirinya ini benar-benar Aura dan bukan halusinasi semata. Karena sejujurnya, saat ini Faris memang merindukan gadis tersebut.


Tapi disisi lain, Faris juga merasa tidak percaya, bagaimana mungkin ini adalah Aura? Karena ini London, bukan Indonesia. Fikirnya.


Faris yang sedari tadi belum membalas pelukan Aura sama sekali, perlahan mulai menggerakkan tangannya. Mencoba memegang kepala gadis yang tengah memeluk dirinya itu.


"K-kamu beneran Aura? Apa aku mimpi? atau aku salah liat? atau justru berhalusinasi?" Pertanyaan itu terlontar dari bibir Faris.


Aura kembali mendongakkan kepalanya yang semula ia sembunyikan di dada bidang Faris. Gadis itu menatap Faris dengan seksama, sementara tangan Aura masih setia melingkar di pinggang Faris.


Detik kemudian, Aura melepaskan pelukannya dari tubuh Faris dengan raut wajah kesal. Bibir Aura cemberut seketika, gadis itu mengambil kopernya yang berada tidak jauh dari sana.


"Baru juga tiga bulan udah lupa" Celetuk Aura menatap kesal ke arah Faris sebelum gadis itu bejalan mendahului Faris.


Hingga seketika, senyuman merekah dengan sempurna terpancar dari bibir Faris. Rasanya pria itu benar-benar merasa bahagia. Karena sudah lama Faris tidak melihat Aura bertingkah manja.


Faris melangkah lebih cepat mengejar Aura yang sudah berjalan lebih dulu dari dirinya sambil menarik koper dengan raut wajah cemberutnya.


"Hm ngambek nih ceritanya?" Sorak Faris mengikuti Aura dari belakang dengan senyum manis terlukis jelas dari raut wajahnya.


Aura sama sekali tak menghiraukan ucapan Faris. Gadis itu masih berjalan sembari menarik kopernya.


"Disini bahaya lo, orang-orang kaya tadi itu disini nggak cuma satu geng, tapi banyak, pake banget malahan" Sambung Faris masih mengikuti Aura dari belakang, namun Aura masih tak mengubrisnya.


"Hm, yaudah, kayaknya kamu udah tau jalanan ini. Dan kayaknya kamu juga udah tau tujuan kamu kemana. Kalo gitu aku pergi dulu ya" Ucap Faris yang membuat Aura sontak menoleh ke arah belakang.


Raut wajah gadis itu seketika berubah, tatapan terlihat tidak ramah. Aura memperhatikan punggung Faris yang mulai berjalan melangkah menjauh dari dirinya.


"Dasar nggak peka banget sih jadi cowok" Sorak Aura sekeras mungkin. Dan itu tentu saja didengar jelas oleh Faris. Namun, pria itu tak menghiraukan sama sekali dan justru melanjutkan langkah kakinya.


"Ck" Menghentakkan kaki sesaat, Aura berlari mengejar Faris dan gadis itu tidak segan-segan memeluk Faris dari belakang. Hingga seulas senyuman terlukis jelas di wajah Faris.


"Jangan tinggalin aku disini, aku takut" Ucapan itu keluar dari bibir Aura saat gadis itu menyandarkan kepalanya di punggung Faris.


Faris memegang tangan Aura dari depan. Detik kemudian, pria itu memutar tubuhnya menghadap ke belakang hingga saat ini posisi mereka saling berhadapan.


Faris tersenyum, pria itu menangkup kedua pipi Aura yang raut wajahnya saat ini terlihat cemberut.


"Kenapa kamu bisa ada disini?" Tanya Faris.


"Nggak usah nanya kalo udah tau jawabannya" Celetuk Aura memutar bola matanya malas.


"Lah, kalo udah tau ya aku nggak mungkin nanya Aura bawel" Faris mencubit hidung Aura gemas.


"Yaaa, kali aja kak Faris udah tau tapi masih aja pura-pura ****"


Faris tertawa kecil. "Yaudah, kamu kesini sama siapa?"


"Sendiri!" Sahut Aura santai.


"Sendiri?" Tanya Faris kaget.


"Iya sendiri? Why?"


"Kamu becanda?"


"Ya kali aku becanda"


"Kenapa bisa?"


"Mami Papi kamu tau nggak?"


"Ya tau lah kak Faris sayanggg. Kalo nggak tau ya mungkin sekarang aku nggak akan ada disini"


"Tadi kamu ngomong apa?" Perhatian Faris teralih saat mendengar kata sayang yang baru saja terucap dari bibir Aura. Hingga ia lupa prioritas utamanya adalah menanyakan kenapa gadis itu bisa berada disana.


"Nggak ngomong apa-apa" Sahut Aura santai.


"Itu, coba diulang lagi"


"Yang mana? Apanya yang mau diulang? orang dari tadi aku diem aja"


Faris tersenyum. Pria itu mengacak-acak rambut Aura gemas. Entah kenapa hati Faris ikut bahagia, saat melihat Aura sudah kembali ceria meskipun pria itu sama sekali belum mendapatkan jawaban kenapa gadis itu bisa ada di sana. Di negara yang benar-benar jaraknya cukup jauh dari Indonesia.


Entahlah, Faris rasa saat ini hal itu tidaklah penting. Karena melihat Aura saat ini saja rasanya Faris sangat bahagia hingga tak mampu ia ungkapkan dengan kata-kata. Seketika rindunya terobati. Faris justru mendapatkan hal yang sama sekali tidak pernah ia sangaka. Karena Faris fikir, butuh waktu bertahun-tahun agar dirinya kembali bertemu dengan Aura. Tapi ternyata semua diluar dugaannya.


"Terus sekarang kamu mau kemana? Kamu kesini mau ngapain?" Tanya Faris.


Aura melotot. "Ck! Pake acara pura-pura **** lagi. Mau apalagi coba gue datang jauh-jauh dari Indonesia jika bukan buat nyari dia" guman Aura dalam hati.


"Mau cari suami." Jawab Aura santai.


Kening Faris tertaut. "Cari suami? Haruskan sejauh ini?" Tanya Faris polos.


Aura kembali menatap Faris kesal dengan kening tertaut. "Iya! Harus! Karena orangnya kabur kesini" Sahut Aura jutek.


"Oo gitu, apa perlu aku bantu nyari orangnya?" Lagi-lagi Faris bertanya dengan polosnya.


"Ck! Kak Faris memang **** apa pura-pura **** sih? Masa nggak ngerti-ngerti juga aku kesini mau ngapain?"


"Ya aku memang gatau, karena kamu nggak ngasih tau. Aku memang nggak ngerti, karena kamu juga nggak jelasin" Jawab Faris bingung.


"Ah, yaudahlah, kalo gitu mending sekarang aku telfon Mami aja. Mau balik ke Indonesia malam ini juga"


"Lah, kan calon suami kamu belum ketemu?"


"Aishhhh Kak Faris **** apa pura-pura **** sih? Aku kesini mau nyari kak Faris. Kenapa daritadi nggak ngerti-ngerti juga?" Sorak Aura yang benar-benar merasa kesal.


"Lah, kok jadi aku yang salah? Orang kamunya nggak ngomong" Kening Faris tampak tertaut bingung.


"Emang harus diomongin dengan jelas ya?"


"Ya harus. Karena sesuatu itu harus dijelasin dengan jelas biar nggak salah paham" Sahut Faris datar.


"Aishh" Aura mengacak rambutnya kasar. Raut wajah gadis itu benar benar terlihat tidak ramah.


Detik kemudian, Faris memegang pundak Aura. Pria itu menatap lekat mata Aura seolah ingin mengatakan sesuatu.


"Beneran, kamu kesini nyari aku?" Tanya Faris memastikan dan mulai terlihat serius.


"Tau ah" Sahut Aura memalingkan pandangan.


Tanpa berfikir panjang, Faris memeluk tubuh Aura erat. Entahlah, entah keajaiban apa yang saat ini Faris rasakan. Sejujurnya Faris benar-benar tidak percya, namun inilah adanya. Seorang Aura saat ini berada di hadapan matanya dan dalam dekapannya. Sungguh, Faris benar-benar merasa bahagia.


.


.


.


.


Kalo suka ceritanya jangan lupa like, komen dan vote ya. Share juga ke teman-teman biar banyak yang baca. Makasih.


Jangan lupa follow instagram aku juga ya. Supaya tau info2 dari sana. Kadang aku telat up karena sistem review yang kadang2 mendadak lama dari pihak NT. Atau memang ada urusan yang nggak bisa aku tinggalin. Kadang aku bingung juga mau ngasih infonya kemana. Jadi yang mau tau info-info seputar karya silahkan follow akun aku aja IG : Afrialusiana. Terimakasih :)