Aura Story

Aura Story
Bonus Chapter (Bocah)



Waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Mata Aura mengerjap saat indra pendengarannya mendengar dengan jelas suara tangisan dari box bayi yang ada di samping tempat tidurnya.


Dan, benar saja, Zhio yang mungkin saja kehausan tengah menangis di dalam sana. Dengan cepat, Aura bngkit dari tidurnya. Wanita itu mengangkat Zhio ke pangkuannya.


"Cup cup cup sayang Mama haus ya" Ucap Aura mengajak bayi mungilnya itu berbicara. Tanba apa apa lagi, Aura segera menyusui Zhio segera. Senyum Aura tak berhenti sedari tadi. Aura benar benar senang ketika melihat hangatnya wajah Zhio yang mirip sekali dengan Faris, papanya.


"Kamu bangun kenapa nggak bangunin aku sih sayang" Faris tiba tiba saja memeluk Aura dari belakang. Menyandarkan kepalanya di bahu sang istri.


"Kak Faris kenapa bangun?" Tanya Aura.


"Gimana nggak bangun kamu dari tadi krasak krusuk aja."


"Ya. Namanya aku lagi nyusuin Zhio" Sahut Aura.


Namun, di tengah berbincang bincang dengan Faris, suara tangisan Zhea juga terdengar dari dalam sana. Dan Faris, tentu saja buru buru turun dari tempat tidur untuk mengangkat bayi mungil itu ke dalam gendongannya.


Faris menggoyang goyangkan tubuhnya menenangkan Zhea. Niatnya ingin memberikan pada Aura untuk segera di berikan Asi setelah Zhio. Namun, bayi mungil itu justru berhenti menangis saat di gendongan Faris.


Zhea kembali terlelap di pelukan Faris.


"Oo pengen di peluk Papa ya?" Ucap Faris sembari mengecup kening Zhea gemas.


"Mereka tidur sama kita aja ya, nggak usah di kembaliin ke box" Ucap Aura pada Faris.


"Iya Mama sayang" Rayu Faris yang membuat Aura malu sendiri. Pasalnya, gadis itu masih belum terbiasa di panggil dengan sebutan Mama oleh Faris. Tapi, sebisa mungkin Aura harus membiasakannya.


Kini, Zhea dan Zhio tertidur begitu lelap di antara Mama dan Papanya.


"Tidur lagi sayang" Ucap Faris.


"Iya bentar" Sahut Aura masih sibuk tersenyum memperhatikan bayi bayi mungilnya yang sedang terlelap.


"Mereka lucu ya" Ucap Aura masih dengan tatapan pada Zhea dan Zhio.


"Iya, kaya kamu. Lucu" Rayu Faris.


"Aishh. Jangan di gombalin mulu. Aku malu ka-- . Hehehe Pa" Ucap Aura cengengesan.


"Pinter" Faris mengacak acak rambut Aura. "Yaudah ayok tidur sayang. Selagi anak anak tidur" Ucap Faris.


"Iya iya sayang" Sahut Aura kemudian memejamkan matanya.


***


Pagi hari, kediaman Aura-Faris sudah terlihat ramai dengan kedatangan Farrel and Family plus pasangan Tasya-Kevin.


"Papa au iat dede (Papa mau liat dede)" Ucap Sanni putri pertama Farrel yang sudah mulai aktif tersebut. Sanni menarik narik lengan baju Farrel yang kini duduk di sofa ruang tengah.


"Bentar lagi ya sayang. Dedenya lagi bobo" Jawab Farrel mencoba memberi pengertian. "Mending kamu main sama dede Shena aja" Usul Farrel yang dengan cepat diberikan gelengan oleh Sanni.


"Ng au. Dede na dah sar (Nggak mau, dede Shena udah besar)" Sahut Sanni yang sukses saja membuat Farrel tersenyum miring.


"Oo jadi kakak Sanni mau dede bayi lagi? Yang kaya dede Zhea Zhio?" Tanya Farrel sembari melirik ke arah Sabilla.


"Nggak usah mulai deh" Potong Sabilla yang sudah langsung saja mengerti dengan maksud ucapan Farrel.


"M a m p u s" Ejek Kevin.


"S i a l a n lo Vin" Umpat Farrel kesal.


"Kak Faris" Panggil Tasya yang baru saja keluar dari kamar Aura setelah selesai membantu Aura memandikan Zhia dan Zhio menyita perhatian mereka semua.


"Apa?" Sahut Faris.


"Di kulkas ada ice crema nggak?" Tanya Tasya.


"Nggak ada. Kenapa?" Tanya Faris.


"Dasar bocah lo nggak ilang ilang juga ya udah punya suami juga" Sembur Farrel sang musuh bubuyutan Tasya.


"Diem lo beruang kutub" Ketus Tasya memutar bola matanya malas.


"Yang. Jangan gitu" Kevin membuka suara.


Tasya mendengus, kemudian mendekat ke arah Kevin. Gadis itu kini duduk di samping Kevin, menyandarkan kepalanya di dada bidang Kevin.


"Kak Kevin keluar ayok beli ice cream" Pinta Tasya manja.


"Yang, sehariii aja nggak makan Ice cream gimana sih?" Tanya Kevin. "Tadi di rumah kamu udah makan banyak lo" Sambung pria itu kemudian.


Tasya sontak menjauhkan tubuhnya dari Kevin. "Pelit banget sih. Yaudah kalo nggak mau nggak papa bisa beli sendiri" Tasya bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju pintu utama kediaman Aura Faris.


"Ma m pus lu di repotin bocah" Sembur Farrel.


"Sabar Vin, memang begitu kok dari orok" Timpal Faris mengusap punggung Kevin sebelum pria itu menyusul Tasya keluar rumah.


"Jangan lo apa apain adek gue woi" Sorak Farrel.


"Udah keburu gue apa apain coba. Istri gue" Sahut Kevin masih melanjutkan langkahnnya keluar dari rumah.


"Yang."


"Sayang" Panggil Kevin, pria itu kini mengejar Tasya yang berjalan sendiri menuju minimarket dekat komplek. Gadis itu bahkan tidak menghiraukan panggilan Kevin sedari tadi.


"Tasya"


"Bocah"


Langkah Tasya terhenti saat kata bocah terdengar jelas oleh pendengarannya. Mata Tasya kini bekaca kaca.


Kevin segera berlari saat mendapati Tasya sudah berhenti. Pria itu kini berdiri tepat di hadapan Tasya.


"Lah, kok nangis?" Tanya Kevin. Dia sama sekali tidak merasa menyinggung Tasya. Tapi siapa sangka, akhir akhir ini gadis itu justru sensitif sekali mendengar kata bocah.


"Kamu marah aku bilang bocah?" Tanya Kevin.


"Iya aku tau, aku bocah. Aku belum dewasa. Aku belum pantas jadi istri, aku anak manja" Tasya sontak saja berlari meninggalkan Kevin.


"Tasya jangan lari lari dong sayang" Bujuk Kevin. Namun sama sekali tidak di hiraukan oleh Tasya.


Tin


Tin


Tin


Tin


"Tasya awassss" Kevin dengan cepat menarik tangan Tasya sebelum mobil yang yang ada di depan Tasya menabrak Tasya begitu saja.


Kini Tasya berada di pelukan Kevin. Detak jantung keduanya benar benar kencang. Tubuh Tasya bergetar, begitu juga dengan Kevin.


Kevin sontak saja memeluk Tasya erat. Sementara Tasya sudah menangis ketakutan.


"Please sayang jangan kaya gini. Jantung aku mau copot ini" Ucap Kevin dengan suara bergetar di pelukan Tasya.


"Maafin aku kak" Lirih Tasya dengan suara tak kalah bergetar.


Kevin menangkup kedua pipi Tasya. "Ayok, kita beli ice cream, tapi jangan lari larian lagi." Bujuk Kevin.


Tasya mengangguk. Kemudian mereka berjalan memuju minimarket yang ada di depna komplek kediaman Aura-Faris. Faris merangkul Tasya sangat erat seolah tak ingin melepaskan. Sungguh, jantung Kevin hampir saja copot mengingat kejadian barusan.


Kevin tidak bisa membayangkan jika tadi dirinya terlambat menolong Tasya sedikit saja. Mungkin istrinya itu... Ah sudahlah, Kevin tidak bisa membayangkannya.