
Pasangan suami istri itu baru saja selesai makan dari beberapa menit yang lalu. Mereka tampak masih duduk berdua di atas sofa.
"Kak Faris nggak lanjut kerja lagi?" Tanya Aura.
"Bentar lagi yang" Sahut Faris.
"Oo aku telfon Kang Mamang dulu" Ucap Aura hendak mengambil ponsel dari sling bag nya. Namun, Faris mencegah tangan gadis itu untuk menghentikan Aura.
"Ngapain kamu telfon kang Mamang?" Tanya Faris.
"Mau minta jemput lah kak Faris sayang..."
"Nggak. Nggak udah jemput" Ucap Faris.
Kening Aura tertaut. Gadis itu memperhatikan suaminya dengan tatapan bingung. "Kenapa?" Tanya Aura penasaran.
"Kamu pulang sama aku aja" Ucap Faris.
"Lah, kak Faris mau pulang juga? Kan kerjaan kak Faris belum selesai" Sahut Aura bingung. Pasalnya, hari baru jam dua siang dan perkerjaan Faris belum selesai semuanya.
"Bukan sekarang sayang. Tapi nanti. Kamu disini dulu. Nggak usah pulang. Nanti kita pulang sama-sama" Jelas Faris.
"Lah. Aku ngapain kak disini?" Tanya Aura.
"Salto yang. Salto" Sahut Faris sambil menghembuskan nafas.
"Salto? Ngapain aku salto segala di kantor kamu?" Tanya Aura bingung.
Faris tertawa melihat raut wajah konyol istrinya yang ia rasa begitu lucu tersebut. "Kamu polos, apa pura-pura polos sih yang?" Tanya Faris masih tertawa.
"Ya nggak mungkinj juga aku suruh kamu salto disini. Nggak ada faedahnya juga. Udah jelas aku suruh kamu disini buat temanin aku yang" Ucap Faris.
"Hadeuh. Dasar. Aku kira beneran disuruh salto" Ucap Aura memutar bola matanya malas.
Faris kembali tertawa. "Ya enggak lah. Nggak mungkin juga aku suruh-suruh istri aku salto." Pria itu menarik Aura ke dalam pelukannya segera.
"Pulangnya nanti aja sama aku ya." Ucap Faris di dalam pelukannya.
Aura mengangguk. "Yaudah deh." Sahutnya pasarah. Karena jujur saja, Aura juga merasa bosan di rumah.
"Yaudah. Aku kerja dulu ya" Ucap Faris mengusap rambut Aura lembut, kemudian memberikan ciuman di puncak kepala istrinya itu sebelum Faris kembali ke meja kerjanya.
Aura mengangguk. Gadis itu kini duduk di sofa sambil memanikan ponselnya sembari menunggu Faris pulang bekerja.
***
Sudah satu jam Aura hanya fokus di layar ponselnya. Menonton drama korea kesukaannya. Kini, mata gadis itu terasa sangat berat. Aura menguap beberapa kali. Hingga akhirnya gadis itu tertidur begitu saja di sofa yang ada di ruangan Faris.
Faris yang merasa suasana di ruangannya itu kini hening. Menoleh ke arah belakang. Pasalnya, sedari tadi ruangan itu terasa bising dengan tawa istrinya yang hanyut dalam drama yang ia tonton. Tapi, kini tidak ada lagi suara melengking gadis itu terdengar.
Faris tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala saat melihat istrinya itu sudah tertidur begitu saja di sofa. Sekarang bukan Aura lagi yang menonton drama korea, tapi merekalah yang menonton Aura yang tengah tertidur lelap.
Faris beranjak berdiri. Pria itu melangkahkan kakinya menuju istri cerewetnya itu. Faris berjongkok di tepi sofa. Ia menatap lekat wajah Aura yang begitu menggemaskan, apalagi ketika tidur seperti sekarang ini.
"Dasar. Nggak sakit apa pinggangnya tidur kaya gini" Ucap Faris sambil mengecup bibir sang istri. Kemudian Faris menggendong istrinya itu ala Bridal Style style menuju kamar yang ada di ruangan tersebut. Kamar yang biasa digunakan oleh Faris untuk beristirahat yang ada di ruangan itu.
Faris juga memang sudah bisa mengangkat tubuh istrinya itu karena kakinya juga sudah cukup kuat setelah kembali ke rumah sakit untuk memeriksakan semuanya setelah pria itu bisa berjalan.
Faris membaringkan tubuh istrinya itu perlahan. Kemudian ia menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Aura. Faris menatap wajah itu lekat. Ya, pria itu tak pernah merasa bosan untuk menatap istrinya itu. Tidak lupa juga Faris meninggalkan ciuman di kening sang istri sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya yang hampir selesai
***
Aura dan Faris baru saja turun dari lift untuk segera pulang. Faris sedari tadi tak melepaskan genggaman tangannya dari tangan sang istri. Pria itu terus menggenggam kuat tangan Aura sambil berjalan menuju lobby.
Di sepanjang perjalanan, tak sedikit karyawan yang memperhatikan mereka berdua. 'Sangat serasi' itulah kata yang terlontar dari bibir mereka semua. Mereka sungguh iri melihat kemesraan Bos dan istrinya ini. Cantik dan tampan, sama sama baik hati.
"Kamu mau langsung pulang atau jalan-jalan dulu?" Tanya Faris menoleh ke arah sang istri.
"Hmm. Jalan-jalan di taman kota waktu itu aja gimana?" Tawar Aura.
Faris tersenyum. "Boleh" Sahutnya.
Mereka segera menaiki mobil. "Kang, kita ke taman kota dulu nggak papa kan?" Tanya Faris pada kang Mamang.
"Nggak papa Den" Sahut Kang Mamang tersenyum.
"Oke mang" Sahut Faris.
Aura menyandarkan kepalanya di bahu Faris. Mereka menikmati perjalana menuju taman kota yang tidak cukup jauh.
Beberapa menit di perjalanan, Aura dan Faris telah sampai di tempat keramaian tersebut. Dan kebetulan, kang Mamang menghentikan mobil tepat di depan Aura dan Faris kecelakaan.
Aura memperhatikan tempat itu dengan mata berkaca-kaca. Kemudian ia memperhatikan kaki suaminya yang kini sudah bisa berdiri lagi. Setiap saat, Aura tak pernah berhenti bersykur dengan apa yang terjadi dalam hidupnya. Aura bersyukur, dengan mukjizat yang telah diberikan Tuhan pada mereka. Hingga sekarang mereka bisa kembali bahagia bersama.
Faris sedari tadi juga memperhatikan tatapan Aura. Pria itu sangat tau apa yang saat ini difikirkan oleh istrinya itu.
Faris merangkul Aura. "Jangan sedih, semuanya udah berlalu" Ucap Faris menenangkan sang istri.
Aura menoleh ke samping dan sedikit mendongak.
"Aku nggak tau ternyata waktu itu kak Faris beneran ada di sini. Entah kenapa, waktu itu yakin banget kak Faris ada di sini karena ini adalah tempat terakhir kali kita bertemu." Ucap Aura.
"Sebenarnya bukan kebetulan kita dipertemukan disini sayang. Waktu itu aku sebenarnya nggak ada di sini. Tapi aku ada dimanapun kamu berada. Sebenarnya aku nggak pernah pergi jauh dari kamu, aku diam-diam selalu ngikutin kamu, mastiin kamu baik-baik aja."
"Waktu itu aku ada di halaman rumah kamu. Aku liat kamu lari-lari sambil nangis, terus aku ngikutin kamu sampai kesini. Aku selalu ada di belakang kamu pada saat itu. Hingga... Ya, begitulah. Aku minta maaf ya, udah ninggalin kamu waktu itu" Lirih Faris memegang kedua pipi istrinya.
"Semua udah berlalu kak. Yang terpenting sekarang, jangan pernah tinggalin aku lagi. Aku nggak mau sendiri. Aku nggak akan bisa ngebayangin gimana kalau kejadian itu terulang lagi. Aku nggak bisa ngebayangin gimana aku hidup tanpa kak Faris. Kakak harus janji nggak akan ngelakuin itu lagi. Setiap ada masalah, kita harus ngomongin baik-baik dan selesaian bersama. Ya" Ucap Aura dengan air mata yang sudah menetes di pipinya.
"Aku nggak akan ninggalin kamu lagi. Aku janji sayang. Apapun yang terjadi, kita akan selalu sama-sama" Lirih Faris memeluk istrinya itu sangat erat.
.
.