Aura Story

Aura Story
Salah Tingkah



...Maaf kalo typo dan ada kata yang berulang ulang....


Aura dan Faris baru saja sampai di halaman rumah mereka. Setelah empat hari di rawat di rumah sakit, akhirnya Aura diperbolehkan untuk pulang.


Faris melirik Aura yang kini tertidur menyandar di bahunya. Pria itu menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah istrinya.


"Capek banget ya? Jarang-jarang kamu ketiduran di mobil" Lirih Faris sambil mengelus rambut Aura.


Faris sebenarnya tidak tega untuk membangunkan Istrinya itu. Tapi harus gimana lagi. Ia belum berani menggendong Aura untuk masuk ke dalam rumah. Membawa mobil saja Faris masih belum memberanikan diri lagi.


"Ra. Bangun sayang. Ra" Ucap Faris menepuk pelan pipi Aura.


Aura mengerjap, dia segera tersadar dari tidur nyenyaknya. Aura mendongak, menatap Faris. Kemudian gadis itu menegakkan tubuhnya duduk yang benar di samping Faris.


"Nyenyak banget sih tidurnya" Ucap Faris.


"Ngantuk. Hehehe" Sahut Aura cengengesan.


"Maaf ya aku bangunin. Aku masih takut gendong kamu. Nanti dilanjutin lagi ya tidurnya di dalam" Ucap Faris.


"Iya nggak papa kok" Sahut Aura.


Pasangan suami istri itu segera berjalan keluar dari dalam mobil setelah membayar Taxi yang mereka tumpangi. Karena supir pribadi di rumah mereka masih pulang kampung bersama istrinya Bi Anis. Farrel juga sudah menyuruh mereka menunggu dirinya, tapi Aura sudah sangat tidak sabar untuk pulang kerumah. Memutuskan Faris untuk memanggil Taxi saja.


Faris dan Aura berjalan cukup mesra dengan tangan Faris tak terlepas dari pinggang istrinya, begitu juga sebaliknya.


"Assalamu'alaikum" Ucap Faris dan Aura bersamaan setelah pintu rumah mereka terbuka saat Faris menekan beberapa tombol di sana.


Faris dan Aura berjalan memasuki kamarnya segera. Rumah pasangan suami istri itu tampak sepi karena tidak ada Bi Anis.


Aura duduk di tepi ranjang diikuti oleh Faris. Pria itu menatap istrinya sembari meraih tangan Aura untuk ia genggam.


"Masih ngantuk?" Tanya Faris.


"Udah enggak" Sahut Aura.


"Kak. Kak Faris lapar nggak?" Tanya Aura.


"Hmm enggak. Kamu?" Tanya Faris balik.


"Enggak juga sih kak. Tapi aku mau ke dapur dulu ya. Nyiapin makanan buat makan malam" Ucap Aura.


"Enggak. Nggak boleh" Larang Faris.


Kening Aura tertaut menatap Faris. "Kenapa?" Tanya Aura.


Faris memutar tubuhnya menjadi berhadapan dengan Aura. Pria itu memegang pundak istrinya itu dan menatap mata Aura lekat.


"Sayang. Mulai sekarang kamu nggak usah ngerjain pekerjaan rumah lagi ya. Aku tamabah pembantu aja khusus buat masak. Karena aku juga kasihan kalo Bi Anis ngelakuin semuanya. Tapi aku juga nggak mau kamu kecapek an lagi kaya kemaren"


"Kamu fokus aja nulisnya. Nggak usah mikirin pekerjaan rumah lagi" Sambung Faris.


"Kak, udah kewajiban aku sebagai istri masakin suami aku kak. Aku nggak mau. Lagian di rumah ini memang Bi Anis kan yang ngerjain semuanya. Aku cuma masak aja kak. Aku nggak mau kak Faris makan masakan orang lain selain aku. Kecuali dalam kondisi tertentu" Ucap Aura protes.


"Kamu ingat nggak kata dokter kamu kaya ginu karena apa? Karna kamu kecapekan kan?"


"Ya tapi..."


"Kak, aku cuma masak. Aku nggak akan ngerjain kerjaan yang lain" Mohon Aura.


Faris menghela nafas. Jujur saja, sebenarnya masakan Aura memang paling Faris suka selain masakan Yasmin sang Mama. Tapi Faris tidak ingin istrinya itu sakit lagi seperti saat ini.


Namun, seketika Faris teringat. Aku kemaren kecapekan karena kemaren harus mengurus semuanya termasuk dirinya. Tapi sekarang Faris sadar, Ia tak akan lagi menyusahakan istrinya itu.


"Iya kak Faris bawel" Ucap Aura mencubit kedua pipi suaminya itu.


***


Aura kini sudah berada di dapur dengan pakaian santai ala rumahannya. Gadis itu kini tampak fokus menyiapkan makanan untuk makan malam mereka nanti.


Aura kaget saat tiba-tiba ada tangan yang melingkar di perutnya. Siapa lagi jika bukan Faris yang memeluk istrinya itu dari belakang. Faris menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Aura.


"Kak Faris ngapain kesini?" Tanya Aura sedikit menoleh.


"Mau nemenin kamu" Ucap Faris masih tak melepaskan pelukannya.


"Tapi aku lagi masak kak" Protes Aura.


"Yaudah sih masak aja. Aku nggak ganggu tangan kamu juga" Sahut Faris.


Aura menghentikan aktifitasnya sejenak. Gadis itu memutar tubuhnya ke arah belakang.


Aura menangkup kedua pipi Faris. "Manja banget sih sekarang" Ucap Aura. Tidak bisa di pungkiri, semenjak bisa berjalan kembali, sifat Faris memang berubah.


Pria yang awalnya selalu saja murung akan kondisisnya dan selalu memikirkan Aura itu. Kini sudah lebih bersemangat dan semakin manja dan tidak ingin jauh-jauh dari sang istri. Terkadang Aura merasa ini bukanlah Faris yang ia kenal. Faris yang selalu saja malu-malu. Tapi, bukankah seseorang bisa berubah kapan saja? Aura juga justru senang dengan suaminya yang tidak lagi kaku dan pemalu ini. Hidup harus ada perubahan.


"Nggak papa asal manjanya cuma sama kamu" Rayu Faris.


"Ck! Yailah harus sama aku doang. Awas aja sampe manja sama cewek lain" Celetuk Aura cemberut.


"Kalo sama Mama? Boleh?" Tanya Faris.


"Kalo Mama boleh lah." Ucap Aura cengengesan. Gadis itu segera melepaskan pelukannya dan menarik tangan Faris untuk segera duduk di meja makan.


"Kak Faris duduk manis disini dulu. Jangan gerak sampai aku siap masak. Oke" Ucap Aura melototkan mata pada suaminya itu. Dan bukan membuat Faris merasa takut, pria itu justru semakin merasa gemas.


Faris tertawa. Dan itu sontak membuat Aura kembali melototkan matanya.


"Jangan gerak!" Tekan gadis itu dengan mata masih melotot.


Kini Faris tak menjawab. Pria itu hanya diam menatap ke depan sambil menahan nafas.


Kening Aura berkerut melihat tingkah suaminya itu. "Kok nggak di jawab?" Tanya Aura.


"Tadi kamu bilang jangan gerak ya aku nggak gerak ini yang. Kenapa salah mulu sih?" Sahut Faris polos.


"Astaga" Aura menepuk jidatnya sendiri. "Sejak kapan sih kak jadi **** gini?" Tanya Aura.


"Sejak hatiku telah jatuh padamu" Rayu Faris tersenyum genit. Dan itu suksess membuat pipi Aura memerah salah tingkah. Faris tersenyum saat melihat istrinya itu blushing.


"Tau ah. Aku mau lanjutin masak dulu." Ucap Aura sambil berjalan meninggalkan Faris yang masih duduk di salah satu kursi yabg ada di meja makan. Gadis itu berjalan kembali menuju kompor yang semula sempat ia matikan untuk melanjutkan aktifitasnya yang terhenti oleh suaminya itu.


"Udah mulai nular nih gilanya kak Farel ke kak Faris" Lirih Aura pelan.


"Aku dengar loh yang." Sorak Faris tersenyum usil. Rasanya Faris benar-benar merasa bahagia bisa seperti sekarang ini. Tidak ada lagi kesedihan dan kekhawatiran seperti hari-hari sebelumnya.


Kini, Faris berjanji pada dirinya sendiri akan menjawa wanita itu sampai maut memisahkan mereka. Meskipun sebenarnya Faris juga sudah sering menjaga Aura. Tapi Faris saja yang tidak menyadarinya.


"Bodo amat" Jawab Aura ketus.


.


.


Jangan lupa like komen dan vote nya dong😭😭