
...Maaf kalau ada typo ataupun kesalahan lainnya...
Aura dan Faris kini sedang berbaring di atas tempat tidur. Sedari tadi, Aura tampak sibuk membaca Novel kesukaannya tanpa memperdulikan sang suami. Gadis itu sedari tadi hanya mengabaikan Faris yang setia berada di sampingnya.
Namun, tiba-tiba saja perut Faris terasa terguncang. Sesuatu terasa mengganjal di tenggorokan dan ingin segera ia keluarkan.
Uekkkkk
Suara itu terdengar dari mulut Faris. Pria itu segera berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan apa yang ada di dalam perutnya.
Kening Aura tertaut. Gadis itu memperhatikan pintu kamar mandi, kemudian Aura bejalan ke dalam sana. Aura seketika tersadar, entah apa yang membuat dirinya kesal pada Faris padahal pria itu tidak salah apa-apa.
Fikiran Aura kini dihantui oleh fikiran-fikiran negatif. Gadis itu teringat kembali bagaimana dirinya menginginkan Faris sehat dan selalu bahagia saat pria itu sakit dan hanya duduk lemas di atas kursi roda. Tapi sekarang? dia telah melukai hati suaminya yang tidak bersalah itu.
Aura merasa khawatir. Seketika ia merasa khawatir dan takut jika Faris kenapa napa.
"Kak. Kak Faris kenapa?" Tanya Aura sembari mengusap punggung suami yang sedang mencoba mengeluarkan isi perutnya di depan wastafel.
Faris tak menjawab. Pria itu masih saja berusaha mengeluarkan apa yang ia rasa mengganjal. Setelahnya, Faris kembali berkumur kumur dan mencuci mulutnya.
Pria itu tampak ngos ngosan. Keringatpun tampak bercucuran di dahi Faris. Faris memutar tubuhnya ke arah belakang. Kemudian ia mengenggam tangan Aura erat. Pria itu menatap lekat mata istrinya.
Faris menatap wajah Aura yang jelas terlihat khawatir. "Kakak nggak papa? Kita ke rumah sakit sekarang ya?" Ajak Aura.
Faris tersenyum, kemudian mengusap lembut rambut sang istri. "Nggak usah sayang. Aku rasa aku cuma masuk angin" Jawab Faris.
Tanpa aba-aba, Aura seketika memeluk suaminya itu erat. "Maafin aku kak. Aku nggak akan marah-marah lagi sama kak Faris. Kak Faris nggak boleh sakit. Aku nggak mau itu semua sampai terjadi kak" Ucap Aura di dalam pelukan suaminya itu. Dan itu berhasil membuat Faris kembali melebarkan senyumannya.
"Gitu dong. Jangan marah-marah nggak jelas lagi. Aku nggak papa kok. Sekarang kita tidur ya" Faris mengsap rambut sang istri. Kemudian menggenggam tangan Aura erat untuk segera kembali ke dalam kamar.
Pasangan suami istri itu membaringkan tubuh mereka di kasur empuk tersebut dengan posisi saling berhadapan. Faris menutupi tubuh istrinya dengan selimut.
"Jangan liatin aku kaya gitu sayang. Aku nggak papa" Ucap Faris saat pria itu menyadari istrinya sedari tadi tidak berhenti menatap Faris khawatir.
"Tapi kalo besok masih kaya gini kita ke rumah sakit ya. Aku nggak mau kak Faris kenapa-napa. Serius aku nggak mau..." Ucap Aura dengan mata berkaca-kaca. Sungguh gadis itu sekarang parnoan sekali.
"Iya sayang iya. Aku nggak kenapa kenapa kok. Aku sehat-sehat aja. Aku nggak akan ninggalin kamu" Ucap Faris kemdian mendekat dan mengecup kening, pipi dan bibir sang istri. Kemudian Faris merengkuh dan memeluk gadis itu erat dengan menenggelamkan kepala Aura di dada bidangnya.
"Good Night sayang." Lirih Faris kemudian semakin mengeratkan pelukannya hingga pasangan suami istri itu terhanyut ke alam mimpi.
***
Siang hari, Aura baru saja sampai di depan kantor Faris. Untuk apa lagi jika bukan untuk mengantarkan makan siang pada suami manjanya itu.
Aura sudah sampai di depan ruangan Faris. Gadis itu segera masuk ke dalam sana setelah Faris menyautinya dari dalam.
Senyuman Faris mengembang ketika melihat wajah sang istri. Pria itu segera berdiri dari kursi kebanggaannya dan berjalan menghampiri Aura.
Faris merangkul Aura serta mengecup kening Aura terlebih dahulu.
Kini, pasangan suami istri itu sudah duduk di sofa tempat biasa saat Aura mengantarkan Faris makan siang. Benar, Aura memang sering mengantarkan makan siang untuk Faris atas permintaan suami manjanya itu.
Sedari tadi, Aura masih menatap Faris khawatir. "Kak Faris beneran udah nggak papa?" Tanya Aura.
"Yaudah kalo gitu kak Faris makan dulu. Kalo capek kerja istirahat ya." Ucap Aura yang seketika berubah perhatian setelah kemaren marah-marah pada suaminya yang tidak bersalah itu.
"Kok aku seneng liat kamu perhatian gini yang. Daripada marah-marah kaya kemaren" Rayu Faris.
"Iya. Aku minta maaf ya." Ucap Aura.
"Udah ah. Nggak papa kok sayang. Aku paham, perempuan itu susah di mengerti dan kadang mood nya juga berubah ubah" Sahut Faris.
***
Hari sudah beranjak sore. Faris dan Aura baru saja keluar dari ruangan Faris dan segera berjalan menuju lift. Sudah bisa di tebak, setiap kali Aura mengantarkan makan siang, Faris pasti tidak akan membiarkan istrinya itu pulang dan harus pulang bersama dirinya. Sementara Aura, gadis itu bisa apa selain mengikuti ucapan sang suami.
Faris berjalan sambil menggenggam tangan Aura erat. "Yang, kamu pernah makan masakan padang nggak?" Tanya Faris.
"Hm pernah. Kenapa?" Tanya Aura.
"Enak nggak?" Tanya Faris.
"Enak. Banget malahan. Ada khas tersendiri gitu" Sahut Aura tersenyum. "Kenapa kak?" Tanya Aura kemudian.
"Hm. Kenapa aku tiba-tiba jadi kepengen ya yang?" Ucap Faris.
Aura seketika tertawa. "Ya nggak masalah dong kak. Emangnya kak Faris belum pernah makan masakan Padang?" Tanya Aura.
"Hm belum sih. Biasanya aku cuma liat di jalanan aja gitu kalo ada yang jual masakan Padang. Tapi sekarang serius deh yang aku penasaran. Pengen ngerasain"
"Yaudah. Kalo gitu sekarang kita ke sana aja. Aku jamin makanannya enak-enak lo kak" Ucap Aura merekomendasikan.
"Serius yang?" Tanya Faris antusias.
"Ya serius lah. Ayok. Aku jug lagi mau" Ucap Aura kemudian menarik tangan Faris.
***
Aura dan Faris baru saja sampai di restoran masakan Padang. Sungguh, aroma makanan yang khas tersebut benar-benar menusuk ke indra penciuman Faris dan membuat pria itu tidak sabar memakannya.
Kini, pasangan suami istri itu sudah duduk di salah satu kursi yang ada di dalam sana. "Yang, makanan yang paling khasnya gitu rendang ya?" Tanya Faris.
"Iya. Nanti kak Faris cobain aja. Pasti nagih" Jawab Aura.
Dua puluh lima menit berlalu. Aura sedari tadi tidak bisa menyantap makanannya. Gadis itu kaget saat melihat Faris yang begitu lahap seperti orang belum makan satu bulan menyantap makanan di depannya.
Aura mengakui makanannya memang enak. Tapi Aura tidak menyangka Faris akan seperti orang rakus ini menikmatinya. Pria itu bahkan menghabisakan makanannya cepat-cepat. Padahal tidak ada yang akan meminta. Dan hal itu benar-benar membuat Aura terpelongo dan kaget melihat tingkah suaminya ini.
.
.
Jangan lupa like, komen, dan vote ya. makasih.