
Waktu terus berjalan. Dua minggu telah berlalu. Hari ini, adalah hari dimana Faris dan Aura akan melangsungkan pernikahan mereka. Aura kini tampak duduk manis dan tengah di rias oleh MUA terkenal yang ada di kotanya.
Gadis itu tampak sangat anggun menggunakan gaun putih yang kini melekat di tubuhnya. Gadis itu tersenyum menatap tubuhnya dari pantulan kaca.
"Aiiihhhh akhirnya sahabat gue nikah juga" Ucap Sabilla yang baru saja datang dari ambang pintu. Ibu satu anak itu benar-benar merasa sangat bahagia melihat Aura yang akhirnya akan menjadi seorang istri.
"Aa makasih Mama mud" Sahut Aura memeluk Sabilla bahagia.
"Nanti kalo udah langsung gass aja ya. Biar anak gue ada temannya" Ucap Sabilla merayu Aura.
"Lo beneran Sabil yang gue kenal nggak sih? Otaknya nih udah dicuci sama kak Farrel" Celetuk Aura
"Lo kaya nggak tau laki gue gimana aja." Sahut Sabilla tertawa.
"Aishhh" Kedua gadis itu tertawa bahagia di dalam sana. Sementara Baby Sani, sangat nyaman tertidur di pelukan Tasya yang juga berada di sana.
***
Di kediaman Yasmin dan Asep, Farrel baru saja datang dari rumahnya. Pria itu memang sengaja menyuruh Sabilla ke rumah Aura terlebih dahulu. Sedangkan Farrel, pria itu segera menyusul kakaknya yang baru saja menelfon.
"Ma, kak Faris mana?" Tanya Faris yang baru saja datang dengan tergesa-gesa.
"Ada di kamar, lagi ganti baju siap-siap" Sahut Yasmin. Tanpa berfikir panjang, Farrel segera bergegas menuju kamar atas untuk menyusul kakaknya. Yasmin dan Asep hanya memperhatikan Farrel dengan bingung.
Farrel membuka kamar yang biasa di tempati oleh kakaknya itu dengan kasar. Pria itu masuk terburu-buru dan menggeledah seisi kamar. Dan benar, Farris sudah tidak ada lagi disana.
"Aissshhh" Pria itu mengusap rambutnya kasar.
"Lo **** kak. **** banget sampe ngambil keputusan kaya gini" Lirih Farrel.
Yasmin dan Asep yang mendengar suara itu, segera bergegas naik ke atas. Mereka kira Faris dan Farrel tengah bertengkar. Namun, ternyata saat mereka memasuki kamar putra sulungnya itu, hanya Farrel yang mereka lihat disana.
"Kamu kenapa dek?" Tanya Yasmin dan Asep yang berdiri di ambang pintu.
"Kak Faris bodoh. Kak Faris bodoh Ma" Seketika air mata Farrel menetes mengingat kakaknya.
"Kenapa sih dia harus nyakitin dirinya sendiri? Kenapa kak Faris dari dulu selalu ngalah sama orang lain? Nggak sama aku, nggak sama teman-temanya, nggak sama siapapun, kenapa dia harus selalu ngalah dan lebih mentingin perasaan orang lain daripada perasaan dia sendiri?
"Kenapa Mama harus ngelahirin anak sebaik dia?" Ucap Farrel menangis terisak mengingat kakaknya yang sedari kecil itu memang selalu mementingkan perasaan orang lain daripada perasaannya sendiri. Dan dibalik semua itu, Farrel sangat tau jika Faris selama ini diam-diam juga memendam lukanya sendiri."
"Dek maksud kamu apaan sih?" Tanya Yasmin mendekati Farrel.
"Kak Faris pergi Ma. Dia beneran pergi. Tadi kak Faris telfon aku. Dia bilang dia nggak akan datang ke acara pernikahan ini. Kak Faris suruh aku untuk bilang ke Kevin, dan kak Faris suruh Kevin buat gantiin posisi dia hari ini. Kak Faris udah gila Ma! Dia rela tersakiti demi orang lain. Anak mama itu selalu aja kaya gitu!" Kesal bercampur prihatin kini Farrel rasakan jika mengingat saudaranya itu.
Yasmin syok. Wanita itu terdiam sesaat. "Terus sekarang kakak kamu ada dimana?" Desak Yasmin yang tidak mampu lagi menahan air matanya.
"Aku nggak tau. Kak Faris bahkan nggak bilang dia pergi kemana Ma" Ucap Farrel dengan suara datar. Pandangan pria itu terlihat gelisah.
"Tapi tadi Mama baru aja nemuin kakak kamu. Dia masih ada di sini" Isak Yasmin.
"Aku rasa kak Faris memang sengaja pergi sebelum aku nyape disini, saat Mama sama Papa sibuk siap-siap di kamar lirik Farrel"
Brukkkk
Yasmin seketika pingsan. "Ma, mama..." Panggil Farrel dan Asep mencoba membangunkan Yasmin.
Mereka segera mengangkat Yasmin ke atas tempat tidur. Hingga pandangan Farrel teralih ke atas nakas. Beberapa surat tampak di sana.
Farrel mengambil surat tersebut. To Mama & Papa, To Farrel, To Aura, To Kevin. Farrel mengambil surat tersebut. "Lo beneran ngelakuin ini kak. Lo nggak mikirin gimana Mama" Lirih Farrel menatap surat-surat itu.
***
Namun, ponsel Sabilla terjatuh begitu saja sesaat setelah gadis itu mendapat kabar buruk tersebut dari suaminya.
"Lo kenapa Bil?" Tanya Aura.
"Kak Sabil kenapa?" Tanya Tasya yang juga sudah berada di sana.
Begitu juga dengan keluarga Aura. Pandangan mereka seketika teralih pada Sabilla.
Sabilla menoleh ke arah Aura yang masih terlihat bingung.
"Wa.." Lirih gadis itu.
"Apa bil? Lo kenapa?" Tanya Aura tidak sabar menunggu jawaban dari sahabatnya itu.
"Kak Faris pergi." Lirih Sabilla.
"Apa?" Sahut Aura tidak percaya.
"Kak Faris pergi dan dia menginginkan Kak Kevin buat gantiin posisi dia hari ini" Semua yang ada di sana kaget mendengar ucapan Sabilla termasuk Anita, Rendy, dan juga adik dan kakak Aura.
"Enggak enggak. Jangan becanda Bil. Candaan lo nggak lucu" Ucap Aura berusaha menahan air matanya.
Sabilla memegang bahu Aura. "Wa..."
"Nggak bil enggak. Kemaren gue sama Kak Faris masih baik-baik aja. Kak Faris nggak ada bilang apa-apa sama gue. Dia bahkan ngajakin gue jalan-jalan, ngasih gue berlian. Nggak mungkin kak Faris ngelakuin itu semua. Lo pasti becanda kan Bil? Enggak nggak ini nggak lucu Bil. Ini semua nggak lucu. Hari ini gue bakalan nikah sama Kak Faris, bukan kak Kevin" Lirih Aura dengan suara yang sudah mulai berat.
Aura segera mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas kamar yang sudah terhias ala kamar pengantin tersebut. Tangan Aura bergetar mencari nama Faris di layar ponsel.
Gadis itu segera menyambungkan panggilan telfon pada Faris. Namun, hanya operator yang menjawab bahwa ponsel pria itu tidaklah aktif.
Aura tidak percaya. Gadis itu mencoba berulang kali menelfon Faris. Namun, lagi dan lagi hanya operator yang menjawabnya. Tubuh gadis itu semakin bergetar dan melemah. Aura tidak percaya jika Faris benar-benar melakukan ini semua.
"Enggak. Kak Faris enggak. Jangan lakuin ini kak. Aku mohon" Ucap Aura saat air mata gadis itu tak lagi terbendung. Tubuh Aura seketika melemas, gadis itu segera duduk di atas tempat tidur.
Sabilla segera mendekati Aura, sementara Tasya, gadis itu sedari tadi berusaha menenangkan Babyi Sani yang tak henti menangis.
"Wa. Lo tenang dulu ya. Kita bakalan cari kak Faris dang omongin ini semua baik-baik" Bujuk Sabilla.
"Kenapa kak Faris ngelakuin ini Bil? Kenapa? Kak Faris bahkan nggak ngasih gue tanda-tanda apapun. Kenapa kak Faris harus pergi saat gue udah benar-benar mencintai dia" Aura terus menangis terisak. Sabilla yang tidak tega melihat hal itu, segera memeluk sahabatnya itu.
Sementara Anita dan Rendy, mereka segera menghubungi Yasmin dan juga Asep untuk menanyakan kepastian dari orang tua calon menantunya itu.
.
.
.
Hai hai gimana nih? Pasti ada yang kesel. Heheh maaf ya. Sebelumnya juga udah ada beberapa yang nebak di kolom komentar kalo Faris bakalan ngasih Aura ke Kevin. Awalnya aku berniat buat ganti alur karena udah ketebak sama pembaca..
Tapi setelah aku fikir-fikir lagi. Udah biarin aja aku tulis sesuai apa yang udah aku rencanain dari awal. Soalnya kalo aku ubah lagi bakalan bikin aku pusing nantinya buat menyesuaikan cerita. Jadi aku nulis sesuai apa yang udah aku rancang dari awal aja ya.
Maaf banget nih banyak yang kecewa. Nikmati alurnya dulu ya. Karena inilah konflik yang sebenarnya hihi. Masalahnya di si Faris yang terlalu baik sih. Mikirin orang lain tapi nggak mikirin diri sendiri.
Duh mau ngomong apa nih sama Faris?
Jangan lupa tinggalin jejak like, komen, dan vote ya.