
Aura dan Faris baru saja sampai di sebuah rumah sakit yang cukup terkenal di kota mereka. Aura tampak benar-benar sabar dan hati-hati menjaga Faris. Kini, tampak mendorong kursi roda Faris menuju Lobby.
Senyuman Faris tak pernah surut sedari tafi. Pria itu masih teringat akan suasana di kamar mandi barusan saat Faris menjahili Aura. Rasanya benar-benar sangat puas saat melihat gadis itu salah tingkah.
Sebenarnya, Faris memang bisa saja mandi sendiri. Pria itu hanya butuh bantuan untuk sampai ke kamar mandi. Tidak harus di mandikan seperti anak kecil. Karena yang tidak bisa bergerak hanya kaki Faris, bukan seluruh tubuhnya.
Namun, keusilan pria itu mampu membuat Aura menghilangkan segala rasa malunya dan memberanikan diri untuk mengurus Faris. Bukankah seharusnya memang seperti itu?Faris masih ingat betul bagaimana salah tingkah istrinya itu tadi pagi saat memandikan dirinya. Hal itu benar-benar membuat Faris merasa puas.
"Nggak usah senyum-senyum terus" Sindir Aura jutek saat gadis itu menyadari bahwa sedari tadi Faris tak berhenti menertawakannya.
"Kamu itu lucu tau nggak sih" Sahut Faris.
"Enggak! Biasa aja" Sahut Aura memutar bola matanya malas.
"Padahal kamu sendiri yang bilang dengan percaya dirinya mau ngelakuin apapun untuk aku. Karena sekarang kamu udah jadi istri aku. Tapi kenapa..."
"Kak Faris bisa nggak usah bahas itu lagi. Pleas jangan bikin aku malu"
"Lah, kalau kamu bilang harus terbiasa sama aku karena kita udah suami istri, kamu juga harus terbiasa dong..."
"Iya iya harus harus terbiasa" Potong Aura sebelum Faris melanjutkan ucapannya. Jujur saja, karena ini adalah kali pertamanya, wajar saja gadis itu masih merasa canggung dengan hal seperti itu.
"Jangan ngambek dong. Aku cuma becanda, kalo kamu nggak mau nggak papa kok besok-besok aku mandi sendiri aja" Faris memulai drama.
Aura yang termakan akan omongan Faris, seketika merasa bersalah. Gadis itu melirik Faris dengan tatapan iba.
"Kak, maksud aku bukan gitu..."
"Nggak papa kok Ra. Memang seharusnya aku berusaha mandiri dan nggak usah bergantung pada orang lain"
"Kak..."
"Ayok jalan lagi..." Ucap Faris dengan raut wajah datar.
Aura merasa bersalah, Aura fikir saat ini hati Faris benar-benar terluka karena dirinya. Padahal, pria itu lagi dan lagi hanya mengusili Aura.
"Kak Faris jangan kaya gini dong. Aku nggak suka kalo sikap kakak kaya gini. Aku minta maaf kalo ucapan aku menyinggung kak Faris, tapi aku nggak ada maksud apa-apa kak. Aku malu hanya karena aku belum terbiasa, bukan berarti aku nggak mau bantuin kak Faris" Jelas Aura dengan suara manja, berharap Faris memaafkannya.
***
Di dalam ruangan itu, Faris tampak bersusah payah untuk berdiri di arahkan oleh dokter yang ahli di bidang tersebut.
Aura yang berada tidak jauh dari sana, rasanya tak kuasa melihat Faris seperti sekarang ini. Nafas pria itu tampak ngosngosan karena terjatuh beberapa kali saat berusaha untuk berdiri.
Ingin rasanya Aura mendekat, membantu pria itu untuk berdiri, tapi itu semua tidak mungkin. Karena Aura sudah menyerahkan semuanya pada dokter dan harus mematuhi peraturan yang ada demi kesembuhan suaminya yang meskipun katanya sangat sedikit kesempatan untuk Faris bisa jalan lagi.
Sementara Faris, pria itu tak sengaja menoleh ke arah Aura saat dirinya berusaha berdiri kembali. Faris melihat wajah Aura yang tampak khawatir. Pria itu menatap mata istrinya yang terlihat berkaca-kaca. Faris tau wanita itu bersedih. Hal itulah yang membuat Faris gigih dan semangat untuk kembali berjalan. Meskipun sebenarnya ia tahu, ini semua sangat kecil kemungkinan.
Aura yang tidak kuasa melihat Faris, segera keluar dari ruangan tempat Faris terapi. Gadis itu menangis di kursi tunggu. Rasanya sangat sulit bagi Aura bersikap biasa biasa saja sementara orang yang sangat ia cinta itu berjuang sendiri untuk bisa berjalan kembali.
"Maafin aku kak" Lirih gadis itu dalam isak tangisnya.
***
Aura dan Faris kini sudah berada di dalam mobil untuk segera kembali ke rumah. Mereka kini duduk di belakang kursi kemudi. Sedari tadi, gadis itu hanya diam. Aura tidak lagi berbicara. Pandangan Aura sedari tadi hanya fokus pada jalanan. Gadis itu berusaha menyembunyikan mata sembabnya dari Faris.
Faris merasakan perubahan sikap istrinya itu, memegang bahu Aura dari samping. Faris tau gadis itu baru saja menangis.
Aura menoleh. Raut wajah gadis itu terlihat datar. Aura menatap mata Faris dengan tatapan sendu.
"Kenapa?" Tanya Faris lembut.
Aura tak menjawabnya. Pria itu menatap mata istrinya lekat, begitu juga dengan Aura.
"Jangan sedih. Aku nggak papa, beneran" Ucap Faris ketika pria itu berhasil merengkuh tubuh istrinya. Pria itu memeluk Aura erat. Tidak lupa pula Faris mengecup puncak kepala istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Kak. Apa kakak nggak kesal, saat mau ngelakuin sesuatu, tapi nggak bisa?" Tanya Aura dalam pelukan suaminya itu.
Faris menangkup kedua pipi Aura. "Enggak, aku nggak pernah merasa kesal. Kan ada kamu." Sahut Faris tersenyum.
"Ra, kamu udah janji kan nggak akan sedih lagi, kenapa sekarang jadi cengeng?" Faris menyapu air mata yang menetes di pipi istrinya itu. "Aku masih bisa beraktifitas seperti biasa sayang. Jangan sedih terus. Kita harus terbiasa dengan ini, kan aku udah pernah bilang. Aku nggak papa, karena masih untung saat ini aku masih hidup. Kita harus mengambil hikmahnya juga sayang, jangan buruknya aja." Ucap Faris meyakinkan.
"Tapi aku udah hancurin semuanya. Karier kak Faris juga. Sekarang kak Faris nggak bisa ke kantor lagi. Padahal, dari dulu..."
"Aku sama sekali nggak masalah. Papa sama Farel juga udah ngatur semuanya kok. Aku bisa ngerjainnya dari rumah sayang. Nanti kalo ada perlu apa-apa, Farel yang bakal ngurus semuanya. Kamu nggak perlu khawatir soal itu."
"Kamu bilang, kamu juga mau lanjutin Novel kedua kamu kan? Dengan begini, kita bisa sama sama terus, kita bisa kerja bareng dirumah. Hal ini justru bikin kita lebih memiliki banyak waktu untuk bersama." Ucap Faris tersenyum.
"Maafin aku ya kak" Lirih Aura sebelum gadis itu kembali membenamkan kepalanya di dada bidang Faris. Jujur saja, bahwa yang dikatakan oleh Faris ada benarnya. Setiap masalah yang kita hadapi, tidak melulu melihat dari sisi buruknya, karena dibalik semua itu pasti juga ada hikmahnya. Tapi tetap saja, sebagai manusia yang masih memiliki perasaan, Aura tetap saja merasa tidak tega melihat orang yang ia cinta terluka, apalagi karena dirinya.
"Jujur deh, aku nggak mau liat kamu sedih-sedih kaya gini. Nggak papa deh kamu marah-marah, nonjok aku sekalian, aku rela" Ucap Faris cengengesan.
"Iya, tapi sekarang belum mood marah-marah. Maunya kaya gini aja" Ucap Aura yang semakin mengeratkan pelukannya. Faris tersenyum, tidak lupa pria itu mengecup puncak kepala Aura dan juga ikut mengeratkan pelukannya.
.
.
.
Jangan lupa like, komen, dan vote ya. Makasih :)