
Siang itu, Faris dan Aura baru saja sampai di sebuah butik langganan Yasmin. Dan kebetulan owner butik tersebut juga teman baik Mama Faris dan Farrel yaitu Yasmin.
Faris dan Aura tersenyum senang saat masuk ke dalam butik tersebut. Mata Aura membulat saat melihat deretan gaun pengantin nan sangat indah berjejeran di dalam sana.
Benar, dua minggu lagi, Aura dan Faris akan melangsungkan pernikahan mereka. Setelah kedua keluarga bertemu lebih kurang satu bulan yang lalu, akhirnya mereka memutuskan untuk segera melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius yaitu pernikahan. Dan tanpa terasa waktu berjalan, hanya tinggal dua minggu lagi untuk Faris dan Aura mengubah status mereka menjadi sepasang suami istri.
"Hallo cantik, ganteng" Sapa seorang perempuan yang baru saja datang dengan antusias. Perempuan itu berjalan mendekat pada Faris dan juga Aura. Benar, perempuan itu adalah Sari, Sari yang dulunya juga menyiapkan gaun pengantin untuk Aura dan Farrel. Sari yang pada saat itu ikut merasa sedih saat dirinya sudah mendengar nasib Sabil dari Yasmin.
Kini, Yasmin kembali mempercayakan sahabatnya itu untuk mengurus gaun pernikahan anak dan calon menantunya.
"Hai tante" Sapa Faris dan Aura tersenyum balik.
"Aduh. Anak Yasmin yang tampan-tampan udah besar aja ya dua duanya. Yang satu udah nikah duluan, yang satu lagu juga udah mau nyusul" Ucap Sari tersenyum.
"Hehe iya nih tante" Sahut Faris sungkan.
"Mantu Yasmin juga cantik-cantik ya. Gimana nih cara dapetinnya, kasih tante tips dong buat anak tante" Bisik Sari menggoda Faris.
"Ah tante bisa aja" Sahut Faris tersenyum malu.
"Oiya, gimana kabar adik kamu Farrel sama istrinya? Kata Mama kamu udah mau lahiran ya?" Tanya Sari.
"Alhamdulillah mereka baik kok tante. Baru tiga hari yang lalu Sabil lahiran" Sahut Faris.
"Wah udah lahiran ya ternyata. Tante kira masih sekitar seminggu lagi gitu. Selamat ya, bilangin sama Mama kamu juga. Tante belum sempat berkunjung nih lagi sibuk banget soalnya"
"Iya tante nggak papa kok"
Setelah selesai bercerita, Aura dan Faris kini mencocokkan baju mereka masing-masing yang memang di design khusus oleh Sari.
Kini, mereka berdiri di depan cermin berukuran besar sambil menatap pantulan tubuh masing-masing. Kedua manusia itu sudah tampak serasi serasi layaknya pengantin baru. Hanya saja kurang make up di wajah Aura.
Aura tersenyum senang melirim ke arah Faris, begitupun sebaliknya.
"Cantik" Ucap Faris.
"Maksih" Sahutnya Aura malu.
***
Sepasang kekasih itu baru saja keluar dari butik milik sahabat Yasmin tersebut. Faris merangkul pundak Aura, bibir mereka sedari tadi tak berhenti melukiskan senyuman manis. Faris dan Aura segera masuk kembali ke dalam mobil.
"Kita makan dulu ya" Ucap Faris melirik ke arah Aura yang kini duduk di samping kursi kemudi, tepat di sebelah dirinya.
Aura mengangguk. "Iya, sahutnya"
"Habis itu kita jalan-jalan mau?" Tanya Faris.
"Jalan - jalan kemana?" Tanya Aura.
"Kemana aja, yang penting sama kamu" Sahut Faris yang membuat pipi Aura merona.
"Udah pinter gombal sih sekarang" Sahut Aura malu. Gadis itu terlihat salah tingkah.
Sementara Faris, pria itu tersenyum dengan tatapan masih fokus pada Aura sebelum pria itu menancap gas mobilnya untuk segera pergi dari sana.
***
Faris dan Aura kini berada di sebuah taman yang terletak di pusat kota. Setelah selesai makan barusan, mereka memutuskan untuk jalan-jalan di pusat keramaian tersebut. Disana benar-benar terlihat ramai dengan orang-orang yang menghabiskan waktu mereka bersama orang tersayang.
"Jangan diliatin terus anak orang" Ucap Faris.
Aura menoleh ke samping dan sedikit mendongakkan kepalanya ke atas agar lebih leluasa menatap Faris. "Lucu nggak sih?" Sahut Aura tersenyum kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke arah anak kecil tersebut.
"Apanya nih yang lucu? Bapaknya?" Sahut Faris tertawa. "Hati-hati ntar emak anaknya marah lo sama kamu"
"Apaan sih kak Faris. Ya kali aku bilang bapaknya lucu. Lucuan juga calon suami aku" Ucap Aura manja, gadis itu menggandeng tangan Faris. Aura menyandarkan kepalanya di bahu Faris sambil menikmati perjalanan mereka.
Faris tersenyum. "Beneran?" Tanya Faris.
"Iya. Kak Faris nggak percaya sama aku?" Celetuk Aura cemberut. Gadis itu melepaskan tangannya dari Faris.
"Yah gitu aja ngambek. Sini-sini aku cuma becanda" Pria itu kembali merangkul pundak Aura. Mereka terus berjalan menyusuri taman tersebut sembari menikmati suasana malam itu.
Beberapa saat kemudian, langkah Aura terhenti, gadis itu melirik ke arah Faris dengan mendongakkan kepala sedikit ke atas.
"Kenapa?" Tanya Faris.
"Aku mau itu" Tunjuk Aura ke arah penjual Ice cream di pinggir jalan layaknya anak kecil. Padahal, usianya sudah akan menginjak 23 tahun.
"Astaga. Aku kira kenapa" Faris mengacak-acak rambut Aura.
"Heheheh" Aura cengengesan.
"Kamu tunggu disini ya. Biar aku yang beliin" Ucap Faris. Aura mengangguk. Sungguh, mereka seperti anak muda yang sedang kasmaran. Padahal, umur mereka tidaklah remaja yang berusia belasan tahun lagi. Mungkin ini semua karena keduanya sama-sama belum pernah pacaran.
Benar, Faris memang seumur hidupnya tidak pernah sekalipun berpacaran. Pria itu memang sangat berbeda dengan Farrel sang adik yang dari dulu, dari zaman sekolah terkenal Playboy.
Dari dulu, Faris memang lebih mementingkan pendidikannya. Pria itu selalu fokus belajar sekalipun banyak gadis yang mendekatinya. Hal itulah yang membuat Faris bisa menyelesaikan pendidikannya lebih cepat. Karena pria itu pernah masuk kelas akselerasi pada masa Sekolah Menengah Pertama yang hanya tamat dua tahun.
Hingga akhirnya, pertemuan dengan Aura lah yang membuat hati Faris bergetar untuk yang pertama kalinya.
Begitu juga dengan Aura. Meskipun gadis itu sedari dulu terlihat sangat centil dan cerewet, tapi tetap saja, Aura tidak pernah berpacaran selama hidupnya. Entahlah, padahal di masa putih abu-abu tidak sedikit yang menginginkan gadis itu, tapi Aura tidak bisa saja menerima, sampai akhirnya Aura terpesona dan dibuat bodoh oleh seorang Kevin saat gadis itu memasuki dunia perkuliahan.
***
Di sisi lain, Kevin benar-benar terlihat terpuruk. Beberapa hari ini pria itu hanya melamun, tanpa mau melakukan apa-apa.
Kinan yang sudah mengetahui masalah sebenarnya, menatap iba pada adik satu-satunya itu dari ambang pintu. Detik kemudian, Kinan berjalan mendekat ke arah Kevin. Gadis itu mendudukkan tubuhnya di samping ranjang, tepat di sebelah Kevin yang sedari tadi hanya menatap kosong ke arah jendela.
Kinan memegang bahu Kevin. "Lo yang sabar ya Vin. Gue yakin, diluar sana kebahagiaan yang sesungguhnya akan menanti lo. Jangan menyerah, lo harus lupain gadis itu" Ucap Kinan mencoba menenangkan adiknya.
Kevin menoleh ke arah Kinan tanpa bersuara. Pria itu menatap sang kakak dengan tatapan sendu. Kevin melihat sang kakak yang juga menatapnya iba pada dirinya. Tanpa ingin menjawab ucapan Kinan, Kevin kembali bergegas mengalihkan pandangannya ke depan.
Hingga detik kemudian, suara dering ponsel yang terletak di atas nakas terdengar berbunyi nyaring mengalihkan pandangan kakak adik itu.
Kevin meraih ponsel tersebut. Ia melihat panggilan masuk dari nama Tasya tertera di sana.
.
.
.
Jangan lupa like, komen, dan vote ya. Makasih :)