Aura Story

Aura Story
Bonus Chapter (Nyebelin)



Kevin buru buru keluar dari kantor saat meeting baru saja selesai. Pria itu sudah menyerahkan pekerjaan lainnya pada sekretaris pribadinya.


Kevin bergegas turun dari lift dan menuju lobby, mengambil mobil di parkiran untuk segera pulang. Tidak lupa Kevin membeli makanan terlebih dahulu untuk sang istri.


"Assalamu'alaikum" Sorak Kevin saat baru saja sampai di depan rumah. Pria itu melenggang masuk ke dalam sana saat pintu terbuka lebar.


"Wa'alaikum salam" Sahut Kinan dari dalam sana.


"Tasya mana?" Tanya Kevin tanpa basa basi pada Kakak satu satunya itu.


"Di atas lagi tidur" Sahut Kinan kemudian duduk di sofa yang ada di ruang tengah sambil menghidupkan Televisi.


Tanpa memperdulikan sang kakak, Kevin buru buru berlari menaiki tangga menuju lantai atas. Membuka pintu kamar tidak sabar bertemu dengan istri kecilnya itu.


Hingga, pandangan Kevin kini fokus pada wanita yang tengah tertidur membelakangi pintu tersebut.


Kevin masuk ke dalam sana pelan pelan karena tidak mau mengganggu tidur Tasya.


Pria itu segera berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelahnya mengganti baju di di walk in closet yang ada di kamar mereka.


Setelah selesai, Kevin kini berjalan menuju tempat tidur, Kevin pelan pelan membaringkan tubuhnya di samping Tasya. Pria itu memeluk Tasya dengan sangat hati hati dari belakang.


"Kak Kevin" Panggil Tasya saat mencium aroma khas sang suami.


Tasya memutar tubuh ke belakang.


"Kenapa bangun?" tanya Kevin.


"Udah pulang dari kapan?" Bukan menjawab pertanyaan Kevin, Tasya justru bertanya balik.


"Yee orang nanya malah balik nanya nih bocah" Kevin mencubit hidung Tasya gemas. "Aku baru pulang. Kamu udah makan?" Tanya Kevin kemudian.


Tasya menggeleng. "Belum" Lirihnya pelan.


"Loh, kok belum?" Tanya Kevin.


"Nggak selera."


"Sayang. Kamu harus ingat dong. Sekarang ada anak kita di perut kamu. Kalo kamu nggak makan gimana nanti sama pertumbuhan anak kita?" Ucap Kevin sambil mengelus perut Tasya yang masih rata.


"Tapi aku kalo makan bawaannya mau muntah terus kak" Adu Tasya.


"Yaudah, kalo muntah di keluarin aja. Yang penting kamu makan."


"Di suapin boleh nggak?" Tanya Tasya.


"Ya boleh lah. Bentar ya aku ke bawah dulu."


Tasya mengangguk sembari menatap punggung Kevin yang keluar dari kamar untuk mengambil makanan di bawah.


Beberapa saat kemudian, Kevin kembali membawa nampan yang sudah berisikan sop masakan Kinan dan juga segelas susu ibu hamil yang sudah Kevin beli sepulang dari kantor barusan.


"Enak banget ini" Ucap Kevin.


"Aaa" Kevin membuka mulutnya seperti akan menyuapi anak kecil.


Tasya membuka mulutnya, menerima suapan demi suapan dari Kevin.


"Itu nggak mual" Ujar Kevin.


"Ya belum" Sahut Tasya.


"Karena disuapin aku pasti ini" Ucap Kevin percaya diri.


"Eleh. Pede sekali anda" Celetuk Tasya masih sambil menerima suapan suapan dari Kevin. Mereka kini tampak seperti kakak yang sedang menyuapi adiknya yang sedang sakit.


"Udah. Pinter banget Mama Tasya makannya" Goda Kevin mengacak acak rambut Tasya setelah gadis itu menghabiskan makanannya.


"Udah dibilangin jangan panggil Mama. Aku belum jadi Mama kak" Protes Tasya.


"Ih suka suka aku dong. Mulut mulut aku. Kamu kan Mama dari anak aku" Sewot Kevin.


"Nyebelin" Celetuk Tasya cemberut.


"Canda deng canda. Sekarang minum susunya dulu" Ucap Kevin sembari mengambil segelas susu yang tadi ia taruh di atas nakas kemudian memberikan pada Tasya.


"Tadi pulang dari kantor langsung aku beli. Dari pada nyampe rumah harus bolak balik keluar lagi." Jawab Kevin.


"Lah, kemaren kan katanya sama aku. Sekalian beli Ice cream juga"


"Kamu ini Ice cream aja terus. Udah sekalian aku beliin tadi. Tapi cuma satu"


"Yahhh kok cuma satu?"


"Terus kamu maunya berapa? sepuluh?"


"Iya iya sepuluh bagus" Jawab Tasya antusias.


"Tidur dulu sono. Aku kasih seratus dalam mimpi" Ucap Kevin yang tentu saja membuat senyum Tasya menyurut.


"Nyebelin" Celetuk Tasya memutar tubuhnya kemudian tidur membelakangi Kevin.


"Tuh kan ngambek." Kevin melingkarkan tangannya di perut Tasya. "Sayang, akutu nggak bolehin kamu makan ice banyak banyak demi kamu juga. Sekali kali bakal aku kasih juga kok. Ya" Bujuk Kevin.


"Bodo amat"


"Mama Tasya jangan ngambek dong. Kasian Papa Kevinnnya" Ucap Kevin menirukan suara anak kecil.


"Kamu beneran ngambek nih sama aku? Yaudah kalo gitu aku balik ke kantor aja ya." Kevin melepaskan tangannya dari pelukan Tasya. Dia hendak berdiri, namun Tasya dengan cepat kembali menarik tangannya.


"Ihh jangan pergi" Ucap Tasya manja.


"Kamu sih pake acara ngambek ngambek segala"


"Aku mau dipeluk terus kaya gini. Anak aku nggak mau jauh jauh dari papanya" Tasya melingkarkan tangannya di pinggang Kevin, kemudian menenggelamkan kepalanya di dada bidang suaminya itu.


Kevin tersenyum senang. Tangan pria itu kini mengelus rambut Tasya. "Bilang aja Mamanya yang mau, pake jual nama anaknya segala"


"Tau ah. Mau tidur"


"Yaudah tidur" Kevin mengeratkan pelukannya, memeberikan kehangatan serta kenyamanan pada istri tersayangnya itu.


Namun, selang lima menit, Tasya kembali membuka matanya.


"Kak Kevin" Panggil Tasya.


"Iya" Sahut Kevin.


"Kata kak Aura sama kak Sabil, kalo lagi hamil itu enak ya kalo punggung ibunya di elus elus gitu. Cobain dong." Ucap Tasya yang membuat Kevin seketika tertawa.


"Kalo mau di elus, ngomong aja. Nggak usah pake bawa bawa nama Aura sama Sabil segala"


"Idih, siapa yang bawa bawa. Memang bener kok. Kak Sabil sama kak Aura bilang gitu. Aku juga penasaran aja. Pengen tau juga iya apa enggaknya. Kalo nggak mau yaudah sih nggak papa."


"Oo gitu ya. Yaudah deh. Aku capek. Lagian kamu cuma penasaran kan ya. Bukan pengen. Anggap aja dulu yang dibilang Aura sama Sabil itu bener, kalo nggak serching aja di google pasti kamu nemu jawabannya.


"Ihh kak Kevin kenapa jadi nyebelin banget sih?"


"Lah, kok jadi nyebelin. Kan kamu bilang cuma pengen tau doang karena Sabil sama Aura bilang gitu. Yaudah, kalo cuma mau tau benar apa enggaknya di google kan juga bisa di searching."


"Tapi aku mau di elus juga. Mau ngerasain juga"


"Makannya nggak usah gengsi gengsian. Sok sokan nggak mau, sok sokan bilang kata Sabil sama Aura lagi" Ucap Kevin mencubit gemas pipi Tasya. Sebenarnya dari tadi Kevin juga memang sengaja menjahili istrinya itu.


"Iya iya maaf" Jawab Tasya cemberut.


"Jadi di elusin nggak nih?" Goda Kevin.


"Ihh pake nanya lagi. Kalo ditanya terus kan aku jadi malu jawabnya"


"Salah siapa sama suami sendiri malu" Kevin kemudian memeluk Tasya sembari menglus punggung sang istri. Dan benar saja, tidak sampai lima menit, bumil muda itu tertidur begitu saja setelah tak berhenti mengoceh sedari tadi.


.


.


.