Aura Story

Aura Story
Tidak Terima



Aura kini tengah duduk melamun menatap kosong di depan jendela kamarnya. Kamar yang sudah dihiasi dengan dekorasi pengantin baru tersebut. Kamar yang sehasnya sudah menjadi miliknya dan juga Faris.


Gadis itu kini memang sudah mengganti kembali pakaiannnya dengan pakaian rumah setelah Aura memutuskan untuk tidak akan melanjutkan pernikahannya bersama Kevin.


Begitu juga Kevin. Pria itu juga tidak bisa menerima begitu saja keputusan Faris. Karena Kevin benar-benar sudah mengikhlaskan Aura dan tidak akan mengganggu hidup gadis itu lagi. Namun, mengapa Faris justru melakukan ini semua?


Sedari tadi, air mata Aura tak berhenti menetes. Gadis itu kini nenoleh ke arah belakang, memperhatikan kamarnya itu dengan dada yang terasa sangat sesak.


"Kenapa kak Faris? Kenapa kak Faris ngelakuin ini semua? Apa salah aku? Harusnya kak Faris omongin ini baik-baik jika memang aku ngelakuin kesalahan. Bukan kaya gini caranya kak. Kakak dulu yang selalu menghapus air mata aku saat aku sedih, tapi kenapa sekarang kak Faris justru sekarang yang bikin aku terluka kaya gini" Lirih Aura dalam hati menahan tangisnya.


Hingga suara ketukan pintu, membuyarkan lamunan Aura. Gadis itu menoleh ke arah belakang kala Anita tampak masuk ke dalam kamarnya. Wanita itu, wanita itu benar-benar merasa kasihan pada putrinya itu.


"Sayang" Lirih Anita.


"Mi..." Panggil Aura yang tidak mampu lagi menahan tangisnya. Gadis itu segera memeluk Anita erat. Aura menangis terisak di pelukan sang Mami.


"Kamu sabar ya sayang. Yasmin, Asep sama Farrel lagi nyari Faris. Secepatnya kita akan omongin ini semua baik-baik. Mami yakin, Faris juga nggak tega melakukan ini semua sama kamu. Mami yakin, pasti ada alasan kenapa Faris bisa memutuskan ini semua" Ucap Anita mengelus lembut rambut putrinya.


"Apa mungkin ini semua karena kesalahan aku Mi? Apa karena selama ini aku terlalu mengabaikan kak Faris? Makannya kak Faris lelah sama aku Mi? Tapi kak Faris bahkan terlihat biasa biasa aja Mi. Aku bahkan nggak kepikiran bahwa kak Faris bakalan ngelakuin ini semua sama aku"


"Begitulah manusia sayang. Sampai kapanpun, kita nggak akan pernah bisa liat isi hati dan kepala seseorang. Mungkin diluar orang itu terlihat baik-baik saja. Tapi siapa yang tau, bahwa sebenarnya dia sangat rapuh menahan lukanya sendiri yang bahkan nggak diketahui orang lain"


"Tapi aku sayang sama kak Faris Mi. Aku pengen sama kak Faris, aku cuma mau kak Faris" Lirih Aura masih menangis.


"Iya sayang Mami tau. Mami tau apa yang kamu rasakan. Mami juga tau kalo Faris juga menyayangi kamu. Tapi kita nggak tau apa yang sebenarnya tejadi sama Faris. Mami yakin, Faris nggak mungkin ngelakuin ini semua tanpa sebab"


"Sekarang kamu tenang dulu ya sayang. Setiap masalah pasti akan ada solusinya kok. Mami yakin, setelah ini kebahagiaan sedang menunggu kalian. Dalam hidup ini nggak selalu berjalan mulus dan sesuai dengan rencana kita sayang. Tapi percayalah, semua akan indah jika saatnya sudah tiba." Ucap Anita lembut. Wanita itu mengusap air mata yang mengalir di pipi putrinya.


"Mi, aku mau kesana sekarang" Lirih Aura.


***


Anita, Aura, dan Rendy baru saja sampai di gedung tempat dimana acara resepsi Aura dan Faris yang semestinya akan di langsungkan. Gadis itu segera turun dari mobil dengan langkah yang sangat berat.


Aura melangkahkan kaki masuk ke dalam gedung tersebut dengan langkah yang sangat berat. Tubuh Aura terlihat bergetar, gadis itu memperhatikan setiap sudut tempat yang sudah di dekorasi dengan indah. Aira mata sedari tadi tak mampu lagi Aura tahan. Sungguh, sangat sulit untuk Aura menerima ini semua. Rasanya benar-benar menyesakkan dan menyakitakan. Hari yang seharusnya menjadi hari yang paling membahagiakan, berubah menjadi hari yang paling menyedihkan dalam sekejap mata.


"Kak Faris...." Aura bersorak histeris di dalam gedung tersebut. Gadis itu menangis terisak menahan dadanya yang terasa begitu sesak.


Bayangan Faris kini menari-nari di kepala Aura. Sebuah kaset seperti berputar di benaknya. Bayangan saat-saat bersama Faris benar-benar menghantui Aura. Gadis itu mengingat semuanya dari awal. Aura mengingat bagiamana pertama kali dirinya mengenal Faris.


Aura teringat bagaimana Faris pertma kali mengatakan cinta pada dirinya. Aura teringat saat-saat kebersamaan mereka di London. Aura teringat akan Faris yang selalu sabar menghadapi dirinya, Aura teringat akan Faris yang selalu membuatnya tersenyum dan tertawa bahagia. Dan... Aura teringat akan satu minggu ini. Aura fikir mereka benar-benar akan bahagia sebelum sah menjadi suami istri. Tapi ternyata, Faris sengaja melakukan itu semua untuk menghabiskan waktunya bersama Aura sebelum dirinya pergi.


Sungguh, ini semua terasa menyesakkan. Nafas Aura terasa sesak. Gadis itu benar-benar tidak bisa menerima kenyataan. Aura menangis sejadi jadinya hingga


Brukkkkk


Gadis itu ambruk begitu saja di lantai. Anita dan Rendy yang sedari tadi hanya memperhatikan gadis itu dari belakang segera berlari mengejar Aura.


"Wa...Bangun sayang" Panggil Anita menepuk pipi putrinya itu.


"Wa.. Bangun Wa" Ucap Rendy ikut membangunkan Aura.


Kini, Aura tengah terbaring lemah di atas tempat tidur. Anita benar-benar merasa khawatir. Tapi Wanita itu tidak bisa marah pada siapapun. Anita bahkan tidak mampu marah pada Faris maupun keluarganya. Karena Anita tau, ini tidak sepenuhnya salah Faris. Anita juga sadar bagaiman dulu putrinya menyia nyiakan pria itu. Dan Anita yakin, Faris pasti memiliki alasan dibalik ini semua.


"Kak Faris... "


"Kak Faris..."


Racau Aura dalam tidurnya. Gadis itu seketika membuka mata dan terduduk tanpa aba-aba. Keringat dingin kini bercucuran di dahi Aura.


Aura segera mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas dengan tergesa-gesa. Gadis itu mencoba menghubungi kembali nomor ponsel Faris. Namun, tetap saja, nomor pria itu masih belum aktif.


Gadis itu kembali menangis. Hingga suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Aura. Aura menoleh, gadis itu mendapati Sabilla yang baru saja datang bersama Farrel di ambang pintu.


"Wa..." Panggil Sabilla segera memeluk sahabatnya itu. Sabilla tau bagaimana terlukanya perasaan Aura saat ini.


"Lo kuat Wa. Lo kuat. Kak Faris bakalan kembali. Kak Faris pasti kembali." Lirih Sabilla mengusap lembut punggung Aura.


"Gue mau kak Faris Bil"


"Iya gue tau. Lo pasti bisa lewatin ini semua. Kak Faris pasti kembali secepatnya"


Pandangan Aura kini beralih ke arah Farrel yang tengah menggendong Sanni di depannya. Gadis itu seketika melepaskan pelukannya dengan Sabilla dan menarik kaki Farrel.


"Kak Farrel aku mohon. Aku mohon kak Farrel, bilangin sama kak Faris jangan kaya gini. Ini nggak lucu sama sekali. Aku mohon. Kak Faris bilang, dia sayang sama aku, tapi kenapa kak Faris ngelakuin ini semua" Gadis itu tampak memohon pada Farrel.


Sementara Farrel dan Sabilla, mereka melirik satu sama lain. Farrel segera memberikan Sanni yang belum genap berusia satu bulan itu pada Sabilla.


Farrel mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang gadis itu.


"Wa. Kak Faris pasti bakalan pulang. Kita pasti bakalan nemuin kak Faris secepatnya. Kamu sabar ya. Aku tau, kak Faris juga sebenarnya nggak ingin melakukan ini semua."


"Kak Faris pasti cuma salah paham, karena dari dulu, kak Faris memang selalu menyimpan apa yang dia rasain sendiri. Kak Faris nggak pernah banyak omong dan membuat masalah. Dari dulu kak Faris memang selalu memilih mengalah daripada memperkeruh masalah"


"Termasuk dalam hal ini apakah kak Faris juga harus mengalah? Gimana mungkin kak Faris rela melepaskan aku bersama kak Kevin? Bagaimana mungkin kak Faris ngelakuin itu semua? Apa kak Faris nggak mikirin gimana terlukanya aku?"


Aku rasa selama ini ada kesalah pahaman Wa. Hingga kak Faris memutuskan untum seperti ini. Kamu tenang ya. Kak Faris secepatnya akan kembali"


"Maksu kak Farrel?"


"Ini" Farel memberikan surat yang ditinggalkan oleh Faris di dalam kamarnya pada Aura.


.


.


.


Jangan marahin aku sama Faris. Mo nangis nih😭😭