Aura Story

Aura Story
Kak Faris Kenapa?



Aura baru saja sampai di depan rumah mewah kediaman Sabilla dan juga Farrel. Gadis itu kini berdiri di depan rumah mewah tersebut. Aura melirik ke atas, menghembuskan nafas, gadis itu segera berjalan berjalan masuk ke rumah yang ditempati oleh sahabatnya itu.


Aura memang sengaja datang sepagi ini kerumah Sabilla dan juga Farrel atas permintaan sepasang suami istri itu. Entah mengapa mereka tiba-tiba memaksa Aura agar datang ke rumah mereka sepagi ini. Mengingat, sekarang masih jam 7 pagi.


Aura dan Sabill kini tengah berada di ruang tengah. Mereka tertawa bermain dengan Baby Sani yang semakin hari semakin terlihat menggemaskan.


Detik kemudian.


"Bil, lo ngapain sih suruh gue kesini pagi-pagi gini? Gue tau lo tiap hari kangen mulu sama gue. Tapi ya..."


"Gue sama kak Farrel mau ngasih kejutan buat lo Wa" Potong Sabilla sebelum Aura melanjutkan ucapannya. Sabilla tersenyum menatap Aura dengan tatapan yang tidak dapat di artikan.


"Kejutan? Tumben banget lo sama kak Farrel ngasih gue kejutan." Sahut Aura cengengesan.


"Karena kita mau kalian bahagia. Karena kita nggak mau lihat kalian saling menyakiti lagi" Sahut Sabilla tersenyum.


Sabilla meraih tangan Aura yang kini berada di hadapan dirinya. Sabilla menggenggam tangan sahabatnya itu erat.


"Gue harap, setelah lo liat dan tau semuanya, perasaan lo akan tetap sama dan nggak akan pernah berubah Wa" Ucap Sabilla tersenyum penuh arti.


Kening Aura tetaut. Gadis itu merasa bingung. Aura kesulitan mencerna ucapan Sabilla. Entah apa yang dimakud oleh sahabatNya itu. "Maksud lo?" Tanya Aura.


"Kalo lo mau tau. Mending lo tanya aja sama kak Farrel langsung. Kak Farrel ada di atas, di balkon" Jelas Sabilla.


"Haduh.. Rada rada menakutkan juga nih" Ucap Aura cengengesan.


"Udah cepetan sana." Sabilla mendorong tubuh Aura agar gadis itu segera pergi dari sana.


"Yaelah. Sabar kenapa sih maemunah" Celetuk Aura memutar bola matanya malas. Gadis itu segera berjalan menuju lantai atas rumah Sabilla.


Detik kemudian, setelah tubuh Aura tak terlihat lagi di sana, Farrel tampak baru saja datang dari arah dapur menemui Sabilla.


Pria itu duduk di sofa yang ada di depan Televisi, tepat di samping sang istri. "Semoga Aura masih tetap dengan pendiriannya setelah tau kondisi kak Faris sekarang" Ucap Farrel dengan tatapan sendu. Pria itu benar-benar merasa iba dan sedih setiap kali mengingat nasib kakaknya yang selalu saja malang dari dulu.


Sabilla tersenyum. Gadis itu meraih tangan Farrel. Sabilla menggenggam tangan suaminya itu erat. "Aku tau Aura sayang. Aura nggak akan mungkin goyah hanya karena dia mengetahui segalanya. Cinta Aura sama kak Faris itu dalam. Aku bisa mastiin itu semua, karena aku sahabatnya" Jelas Sabilla meyakinkan.


Farrel mentap bola mata istrinya itu dengan tatapan sendu. Sabilla mengangguk, sebelum wanita yang sudah memiliki satu anak iti membawa sang suami ke dalam pelukannya


"Kak Farrel tenang aja. Aku yakin dan aku bisa mastiin semua akan baik-baik aja." Lirih Sabilla.


***


Aura tengah berjalan santai di lantai dua rumah Sabilla. Gadis itu kini berjalan menuju balkon hendak menemui Farrel. Namun, langkah Aura tehenti tatkala dirinya melihat seseorang yang sangat tidak asing bagi dirinya. Seseorang yang tampak tengah duduk di kursi roda sembari menatap kosong ke arah depan.


Jantung Aura berdetak seketika berdetak kencang. Gadis itu kini mematung di tempat. Mata Aura telihat berkaca-kaca, bibirnya bergetar, Aura tidak percaya. Gadis itu yakin bahwa orang itu adalah orang yang selama ini dirinya cari.


"Kak Faris..." Lirih Aura dengan suara bergetar.


Rungu pria yang tidak lain adalah Faris, mendengar jelas suara seseorang tengah memanggil namanya. Pria itu perlahan menoleh ke arah belakang. Hingga benar, gadia yang sangat ia cintai dan sangat ia rindukan itu kini tengah berada di depan matanya.


Deg


Jantung Aura berdetak kuat, bulir bening itu kini menetes begitu saja di pipinya. Gadis itu benar-benar tidak percaya bahwa orang yang ada di hadapannya saat ini benar-benar orang yang selama ini dirinya cari. Orang yang sangat Aura cintai. Aura benar-benar tidak percaya. Aura harap ini benar-benar nyata dan bukan hanya halusinasi semata.


"Kak Faris..." Lirih Aura sekali lagi. Tanpa berfikir panjang, gadis itu segera berlari ke arah Faris. Aura memeluk pria itu sangat erat hingga tubuh Farris sedikit terguncang.


Faris masih terdiam, tangan pria itu perlahan bergerak membalas pelukan Aura.


"Kak Faris, bilang sama aku kalo ini beneran kak Faris. Ini bukan mimpi kan?" Tanya Aura dalam Isak tangisnya di pelukan Faris.


"Ra..." Panggil Faris.


Aura meregangkan pelukannya. Gadis itu kini menatap lekat mata Faris dari jarak yang sangat sangat dekat.


"Ini beneran kak Faris kan? Aku nggak mimpi kan kak?" Tanya Aura memastikan.


Tangan Faris perlahan bergerak. Pria itu menuyapu air mata yang menetes di pipi Aura.


"Jangan nangis" Ucap Faris.


"Aku kangen kak Faris." Ucap gadis itu sendu.


"Iya aku tau" Sahut Faris tersenyum.


"Setiap hari aku selalu berharap agar kak Faris cepat kembali. Kak Faris kemana aja selama ini?" Tanya Aura.


"Jangan nangis Ra. Aku nggak mau liat kamu nangis" Ucap Faris.


"Kak, kenapa kak Faris ngelakuin itu semua?Aku sayang sama kak Faris, aku nggak pernah..."


"Sttt" Faris menghentikan cictan Aura dengan meletakkan jari telunjuknya di bibir gafis itu


"Aku udah tau semuanya. Jangan nangis lagi ya. Aku minta maaf"


"Tapi kak Faris nggak tau gimana hidup aku tanpa kak Faris. Aku kesepian, aku hancur kak. Aku..."


"Iya aku tau sayang. Maafin aku ya. Aku bodoh, aku terlalu gegabah dalam mengambil keputusan. Maafin aku udah bikin kamu nangis setiap hari. Akun fikir kepergian aku bakal bikin kamu bahagia bersama orang yang kamu cintai, tapi ternyata aku salah. Aku justru bikin kamu semakin sedih..."


"Gimana mungkin aku bisa bahagia sementara orang yang aku cintai adalah kak Faris. Kak Faris udah salah paham selama ini kak. Aku mohon maafin aku, jangan kaya gini kak, jangan tinggalin aku..." Gadis itu tak henti menangis terisak.


Dengan segera, Faris kembali membawa Aura ke dalam pelukannya. Gadis itu kini menangis terisak, melepaskan segala kerinduan dan sesak di dada yang selama ini ia pendam di dalam pelukan orang yang sangat dirinya cintai itu.


"Maafin aku sayang..." Lirih Faris mengelus rambut Aura.


Tiba-tiba, Aura melepaskan pelukannya. Pandangan gadis itu kini terfokus pada Faris yang baru saja ia sadari tengah duduk di kursi roda.


"Kak Faris kenapa?" Tanya Aura melirik Faris.


"Aku nggak papa kok" Sahut pria itu tersenyum. Faris mengusap kedua pipi Aura lembut.


.


.


.


Jangan lupa like, komen, dan vote ya. Makasih :)