
"Ga tolong kamu datang ke alamat ini, tolong kamu ambil berkas ku yang tertinggal di rumah," ucap Alina sambil memberikan selembar kertas.
"Baik, Bu," ucap Airlangga sambil melihat selembar kertas itu.
"Mobil kantor sedang dipakai, kamu pakai motor kantor saja," ucap Alina.
Airlangga langsung beranjak mengemudikan motor menuju ke rumah Alina, tiba-tiba di perjalanan sebuah mobil yang melaju kencang menyenggol motor yang Airlangga gunakan hingg Airlangga jatuh dan terbentur membuatnya jatuh tak sadarkan diri.
"Airlangga, keponakan aunty," yang tak lain adalah Ayra ke luar dari mobil tadi.
Ayra bersama sopirnya langsung membawa Airlangga ke rumah sakit terdekat, tak lupa Ayra segera menghubungi April dan Dirga yang berada di kota B, mendengar semua itu Dirga dan April segera menggunakan jet pribadinya untuk menuju ke kota J.
Beberapa jam kemudian Airlangga mulai membuka kedua matanya karena sudah sadar mendapati tantenya sedang duduk di sampingnya menunggunya.
"Aunty Ayra," ucap Airlangga sambil memegangi kepalanya yang pening akibat terbentur tadi.
"Maafin sopir Aunty ya ga, Aunty buru-buru mau ke bandara jadi Aunty suruh sopirnya ngebut," jelas Ayra.
"Aunty tidak jadi pergi?" tanya Airlangga kembali.
"Aunty tunda ga sampai kamu membaik," sahut Ayra.
Ayra sudah mengganggap Airlangga seperti keponakan kandungannya sendiri setelah masa lalunya dengan April yang buruk.
"Kapan kamu datang ke kota J ga? Kenapa tidak mampir ke rumah Oma Mona?" tanya Ayra yang memang tidak mengetahui keberadaan Airlangga di kota J.
"Sudah beberapa bulan Airlangga di kota ini Aunty," jelas Airlangga sambil mengambil ponselnya dari saku celana yang tiba-tiba berdering.
"Ga, berkasnya mana?" ucap Alina dari sebrang telepon saat Airlangga mengangkat ponselnya.
"Saya kecelakaan," jawab Airlangga dengan masih menahan pusing.
Setelah mendapatkan Alamat rumah sakit tempat Airlangga dirawat Alina segera menyuruh Nathan untuk menemani sahabatnya itu, tak lupa Nathan mengabari April terlebih dahulu.
Dengan langkah gontai April sampai di rumah sakit tempat Airlangga di rawat, sambil menghapus air matanya yang terus mengalir April mencari ruangan suaminya dirawat.
"Airlangga," ucap April berlari memeluk ketika mendapati suaminya yang berbaring dengan selang infus di ranjang rumah sakit, tanpa memperhatikan orang-orang yang berada di sana menunggu suaminya.
"Kamu nggak apa-apa kan?" ucap April sambil terus menangis.
Tidak ada jawaban dari Airlangga karena dia sedang bingung apa yang hendak dia katakan, karena Ayah dan ibunya sedang ada di sana dan tidak dalam keadaan menyamar dan Airlangga juga tidak tau Ayah, ibunya dan juga April akan datang bersamaan.
Sedangkan Nathan yang lebih dulu datang ke rumah sakit dibandingkan April, hanya mematung dipojokan karena masih kaget dengan fakta yang baru dia ketahui bahwa ternyata sahabatnya itu anak orang kaya raya.
"Ibunya Airlangga Pakai baju mahal, berlian, bahkan tas branded ratusan juta?" batin April sambil menatap mertua perempuan itu dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Pak Dirgantara, kenapa ada disini?" batin April ketika mengalihkan pandangannya ke sebelah mertua perempuannya.
"Jelaskan?" ucap April lirih menatap kearah Airlangga yang terlihat ketar-ketir.
"Apa kalian semua telah menipuku selama ini?" ucap April lagi sambil menutup mulutnya.
"Mereka Ayah dan ibuku, tapi aku ini adalah Airlangga jika Ayah dan ibuku kaya itu harta milik mereka bukan milikku," ucap Airlangga mencoba menjelaskan.
"Tapi aku kan istrimu kenapa kalian harus menipuku? apalagi saat aku datang ke kota B, seolah-olah semuanya nyata," ucap April kecewa karena telah dibohongi suami dan mertuanya sendiri.
Dengan Air mata yang membasahi pipinya April berlari keluar dari ruangan itu, Airlangga ditemani Ayah dan ibunya yang sudah tau bahwa April telah resmi menjadi menantunya ikut mengejar April sampai dirumahnya.
April memilih pulang ke rumah orang tuanya untuk menenangkan diri, Farhan dan Nadira di buat bingung dengan April yang tiba-tiba datang dengan menangis dan langsung mengunci dirinya di dalam kamar. Diikuti Airlangga datang bersama kedua orang tuanya menyusul April.
"Airlangga ada apa ini? kamu kenapa?" ucap Nadira yang melihat menantunya kepalanya diperban.
"Kalian," ucap Nadira sambil menutup mulutnya ketika mendapati yang berdiri dibelakang Airlangga adalah April dan Dirga.
"Nadira," ucap April kaget.
"Apa dia Prilly?" ucap Dirga langsung menanyakan kebenaran perasaannya selama ini.
"Iya dia, Aprilya Ayu Raharja," ucap Nadira yang membuat Dirga menangis terharu karena bisa bertemu lagi dengan anak yang sempat dia rawat itu.
"Apa ayah mengenal Mama Nadira sebelumnya?" tanya Airlangga bingung mendengar obrolan mereka.
"Kami bersaudara di masa lalu," jelas April dewasa kepada anaknya sambil tersenyum.
"Dunia ini memang sangat sempit ternyata anak kita berjodoh," ucap Nadira sambil mempersilahkan besannya duduk.
Setelah mengobrol pangan lebar dan menjelaskan masalah yang terjadi antara April dan Airlangga, Nadira berjanji akan membujuk April Sedangkan Airlangga kembali di bawa ke rumah sakit karena mengeluh pusing.
"Ternyata dia orang kaya," ucap Luna meratapi kebodohannya.
"Makanya kamu itu kalau lihat orang jangan dari penampilan luarnya saja, Lun," ucap Nadira yang mendengar ucapan Luna.
"Mama apaan sih," batin Luna sambil berlalu ke ke kamarnya dengan wajah kesal.
...****************...