
"Aku ingin mencoba menjalani hubungan yang serius denganmu bukan pura-pura lagi," ucap Airlangga dengan tubuh gemetar siang itu di kala sedang makan siang bersama April di sela-sela jam kantor.
"Kau yakin? aku lebih tua dua tahun darimu?" jawab April.
"Aku yakin asal kau mau menerima keadaanku yang hanya seorang karyawan," ucap Airlangga sambil menatap April.
"Itu tidak penting bagiku, yang penting kau mau bertanggung jawab," jawab April yang berarti mengiyakan ucapan Airlangga.
"Kau mau?" ucap Airlangga memastikan.
April hanya mengangguk kepalanya tanda setuju. Airlangga sangat senang dan tak mampu berkata-kata lagi.
"Maafkan jika aku harus mengatakan hal penting ini di sela jam kantor, tidak romantis bukan?" celetuk Airlangga.
"Datanglah ke rumah menemui papa dan mamaku," ucap April kemudian.
"Tentu aku akan datang," ucap Airlangga sambil tersenyum walau di dalam benaknya belum ada niat menjelaskan asal-usulnya yang sebenarnya kepada April.
"Apa aku menggangu kelian?" ucap Nathan yang tiba-tiba datang.
"Tidak," ucap Airlangga dengan wajah datar.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Nathan sambil menunjuk kearah April.
"denganku?" ulang April sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Tolong jangan katakan semuanya kepada Luna, aku akan mengatakannya di saat yang tepat nanti," ucap Nathan memohon.
"Kalaupun aku mengatakannya Luna juga tidak akan percaya dan akan menuduhku iri," batin April.
"Baiklah, tapi segeralah jujur," sahut Alia.
"Terimakasih," ucap Nathan sambil menarik tangan April kegirangan Hinga membuat Airlangga memukul tangan Nathan.
"Aww," rintih Nathan sambil memegangi tangannya.
"Jangan berani-berani kau menyentuhnya," ucap Airlangga terlihat cemburu yang membuat April menahan tawanya.
Malam harinya Nadira masak dengan sangat banyak karena calon mantu nya akan datang melamar putri sulungnya. April telah bersiap di kamarnya dan mempercantik diri.
Acara lamaran di gelar dengan sangat sederhana Airlangga hanya datang bersama sahabatnya Gani dan tidak melibatkan ayah dan ibunya dalam hal ini.
Airlangga tak menyangka awalnya dia ingin menjadikan April alat untuk membalas sikap sombong Luna kepadanya, malah dia terperangkap cinta April dan belum ingin membongkar identitasnya yang sebenarnya.
Acara lamaran berjalan degan lancar, April dan Airlangga juga bertukar cincin dengan prosesi yang sangat sederhana. Farhan dan Nadira tak henti memancarkan senyum bahagia mereka karena putri sulung mereka akan segera menikah.
"Selamat ya kak, semoga nanti suami kakak bisa buat kakak bahagia nggak kesulitan ekonomi setelah menikah," ucap Luna sinis di jawab tatapan mata tajam dari Farhan.
"Lun, sebaiknya kamu ke kamar," ucap Nadira.
"Baik ma," ucap Luna berlalu sambil menatap kearah April dan Airlangga sinis.
"Nak, maafkan atas sikap Luna," ucap Farhan merasa tidak enak kepada Airlangga.
"Tidak apa, Om," sahut Airlangga.
"Bagaimana nanti nasib Nathan sepertinya perempuan ini sangat matre," batin Gani yang duduk disamping Nathan.
Setelah menikmati jamuan di rumah April, Airlangga dan Gani segera berpamitan untuk pulang karena waktu juga sudah hampir larut malam.
"Sekali lagi maafkan sikap Luna," ucap April yang mengantar airlangga ke depan pagar.
"Tidak apa-apa," ucap Airlangga sambil menggenakan helm sedangkan Gani sudah bersiap duduk di motor.
"Kamu hati-hati," ucap April malu-malu.
"Iya, aku permisi dulu" ucap Airlangga kepada April sambil mengecup punggung tangan April yang membuat wajah April memerah.
"Serasa obat nyamuk," batin Gani yang menatap keromantisan dua sejoli itu dari pantulan spion motor.
...****************...