April

April
Kecemburuan Alina



April mulai bekerja kembali setelah kepulangannya dari kota B, walau badannya terasa capek karena perjalanan pulang pergi dari kota B hanya ditempuh dalam waktu sehari, dan sebenarnya dia membutuhkan waktu untuk beristirahat tapi dia tidak mau mengambil cuti untuk sehari saja.


"Hari Minggu yang melelahkan," ucapnya saat memulai menyalakan komputernya di kantor.


Tiba-tiba teleponnya di mejanya berdering nyaring membuat dirinya segera mengangkat gagang telepon itu dan menempelkan di telinganya.


Suara Axel di sebrang sana memintanya untuk segera datang ke ruangannya.


"Sudah ku duga itu dia," batin April sambil segera bergegas menuju keruangan Axel.


April Disambut lantai yang licin ketika memasuki ruangan Axel karena Axel tak sengaja menumpahkan kopinya di pagi itu.


Dengan spontan Axel menangkap tubuh April hingga jatuh di dalam pelukannya, Tak disangka bersamaan dengan itu Alina datang dengan maksud ingin memberikan kejutan untuk kekasihnya.


"Jadi seperti ini kalian di belakangku," teriak Alina marah ketika mendapati Axel memeluk wanita lain.


"Sayang, kamu salah paham," jawab Axel sambil melepaskan pelukannya.


"Iya ibu salah paham," sambung April.


"Dasar Asisten kurang Ajar," ucap Alina Semakin di kuasai emosi dan menjambak rambut April sambil menyeretnya ke luar ruangan Axel.


"Sakit Bu, lepaskan," Teriak April sambil memegangi rambut panjangnya yang di tarik paksa oleh Alina.


"Al lepaskan April," ucap Axel mengekor dibelakang sambil berusaha membantu April yang kesakitan.


"Kalian semua perhatikan perempuan murahan ini, berani-beraninya dia menggoda bosnya sendiri," ucap Alina di depan ruangan para staf.


Sedangkan Para staf yang lain merasa kaget dan bingung melihat kejadian ini, karena selama bekerja di kantor itu April adalah pribadi yang sangat baik.


"Buk, lepaskan April," ucap salah seorang staf yang merasa tak tega melihat April kesakitan karena dianiaya oleh Alina dan beberapa staf lain maju untuk membantu melepaskan April dari cengkraman Alina.


"Kamu keterlaluan Alina," teriak Axel sambil menampar pipi mulus di hadapannya.


"Jadi kamu lebih memilih Asisten kamu itu sel," ucap Alina dengan mata berkaca-kaca lalu beranjak meninggalkan kantor Axel.


Axel lalu mendekati April yang terlihat sangat menyedihkan dengan rambut yang acak-acakan dan air mata yang membasahi pipinya.


"Kamu bisa pulang dulu, biar sopirku yang akan mengantarmu," ucap Axel mencoba menangkan April.


April hanya mengangguk tanda mengiyakan ucapan bosnya, April memilih pulang untuk menangkan dirinya atas kejadian tak terduga tadi.


"Terimakasih pak," ucap April kepada sopir Axel ketika sudah mengantarkannya sampai dirumahnya.


"Lho April kok sudah pulang," batin Nadira yang sedang sibuk menyirami tanaman di teras rumah.


"Mama," ucap April sambil menangis memeluk ibunya di teras.


"ya ampun kamu kenapa, Nak," ucap Nadira kaget sambil membelai rambut Anaknya.


Nadira mencoba menenangkan April yang terus saja menangis, tanpa berbicara sepatah kata pun menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepadanya.


Sedangkan dari Arah sebrang seseorang di dalam mobil telah mengamati anak dan ibu itu, yang tak lain adalah Aji yang sudah keluar dari rumah sakit.


"Gadis yang menolongku waktu itu, apa hubungannya dengan Nadira? gadis yang mengingatkanku pada Nadira," batin Aji penuh tanda tanya.


"Apa dia anak Nadira dan suaminya atau kejadian di Malam itu?" batin Aji lagi yang membuatnya semakin gelisah.


...****************...