
Setelah beberapa jam perjalanan, April sampai di kota itu lagi,tempat yang pernah menjadi tempat tinggalnya selama 1 tahun, dan juga kota yang menyimpan banyak kenangan pahit dalam hidupnya. Orang tua Arya tinggal di kota yang sama dengan Dirga, dan kini mereka sudah sampai di rumah orang tua Arya - sebuah rumah yang tak kalah besar dan megah dari kediaman Oma.
Arya membantu April untuk masuk ke dalam rumah dengan kursi roda. April memejamkan matanya dengan tubuh yang gemetaran, dia sudah mempersiapkan diri untuk apapun yang akan terjadi, termasuk jika orang tua Dirga menolaknya mentah-mentah.
"Bunda kangen," ucap Bunda Arya (Mona) sambil memeluk putranya yang sudah lama tidak ditemuinya karena tinggal di kota yang berbeda.
Setelah melepaskan pelukannya, Bunda Mona memandangi April yang duduk di kursi roda. April langsung menundukkan pandangannya karena merasa minder.
"Ini pasti Nak April," ucap Ibu Mona dengan sangat ramah, mendekati April dan duduk di sampingnya sembari memegang tangannya.
Mendengar ucapan Bunda Mona, April menatap Ibu Mona yang tersenyum ramah padanya, serta Ayah Arya (Wisnu) yang juga tersenyum memandanginya.
"April, Arya sudah banyak bercerita tentang kamu. Kami sangat senang sekali kamu mau main kesini. Bunda sudah nggak sabar ingin menjadikan kamu mantu," ucap Bunda Mona kembali tersenyum.
"Kamu jangan terlalu agresif begitu, nanti April jadi takut," timpal Ayah Arya.
Ketegangan di ruangan itu seketika saja memudar diselingi gelak tawa. April tidak menyangka bahwa orang tua Arya, yang dari kalangan atas, mampu menerimanya dengan baik. Bahkan Bunda Mona terus memberikan semangat dan motivasi untuk kesembuhan April.
Tak terasa, hari sudah menjelang magrib. Arya dan April pun pamit untuk menuju hotel tempat mereka menginap. Karena Arya ada pekerjaan yang harus diselesaikan di kota itu, mereka berniat menemui Oma untuk mengurus perceraian April dan Dirga.
Bunda Mona sebenarnya ingin mereka menginap, namun karena April belum resmi menjadi istri Arya, ia takut nantinya malah akan menjadi omongan tetangga.
"Owh, sorry," ucap wanita itu sambil menarik dress-nya. "Kirana," batin April yang sering melihatnya di sosial media.
"Ayo, sayang," ucap Kirana mengandeng pria itu lagi. Namun pria itu bukan Dirga.
"Itu kan istri Dirga," batin Arya sambil menatap mereka berlalu, dan kemudian memasuki kamar paling ujung. April dan Arya saling menatap satu sama lain. Mereka sedang memikirkan hal yang sama.
"Semoga yang aku pikirkan ini salah," batin April. Arya mengangkat April dari kursi rodanya ke atas ranjang.
"April," ucap Arya yang duduk di sampingnya, namun tidak dilanjutkan karena dihentikan oleh April. April menempelkan jarinya di bibir Arya.
Arya membantu April yang hendak duduk dan membangunkannya pelan-pelan. April banyak mengalami perubahan setelah 4 tahun pengobatan dan terapi. Dari hanya tidur terlentang, kini dia bisa duduk dengan baik.
"Tolong jangan bahas apapun, Mas. Aku ingin melupakan semuanya. Aku memang belum mencintaimu sekarang, tapi aku akan belajar mencintaimu," ucap April ibarat setetes air di musim kemarau bagi Arya.
Arya tidak mampu berkata-kata, ia tak sadar air matanya menetes. Perjuangannya selama ini mulai membuahkan hasil.
"Aku janji akan membahagiakan kamu," ucap Arya sambil mencium punggung tangan April.
...****************...