
"Tolong maafkan aku," ucap Airlangga disebuah taman saat bertemu dengan April setelah kejadian tak menggenakan beberapa waktu lalu.
April hanya diam seribu bahasa tak menjawab ucapan Airlangga.
"Kamu ingin aku melakukan apa agar kamu bisa memaafkan aku?" ucap Airlangga lagi.
"Namaku April, panggil aku April," sahut April.
Airlangga memang sempat membaca nama wanita dihadapannya saat pertama kali bertemu dan mendapatkan sebuah kartu nama, tapi dia tidak terlalu mempedulikan apa yang dibacanya, hingga sekarang baru menyadari kalau nama wanita itu sama dengan nama ibunya.
"Namamu sama dengan nama ibuku?" ucap Airlangga.
"Benarkah?" ucap April sedikit kaget.
"Benar," jawab Airlangga sambil menatap ke arah April.
"Lalu kenapa kau murung disini?" ucap Airlangga lagi.
"Papaku akan menjodohkan aku dengan anak temanya, aku tidak mau," ucap April dengan mata berkaca-kaca.
"Di Jaman sekarang masih ada perjodohan?" sahut Airlangga kaget.
"Karena aku tidak pernah memiliki pacar, jadi ayah berniat menjodohkan ku," ucap April sedih.
"Kalau kau bersedia aku akan berpura-pura menjadi pacarmu agar Papamumu tidak menjodohkan mu."
"Kamu serius?"
"Paling tidak sampai kamu menemukan pujaan hatimu yang sebenarnya kita bisa mengakhiri semuanya," jelas Airlangga.
"Sudah berapa lama kamu mengenal anak saya?" ucap Farhan kepada Airlangga yang telah datang dirumahnya.
"Baru sebulan terakhir, Om," sahut Airlangga tenang walaupun hanya berpura-pura entah mengapa dia juga merasa gemetar.
Ketegangan di ruangan itu seketika sirna, disusul canda tawa. karena Airlangga sangat pandai mengambil hati Farhan. April dan Nadira ibunya juga tengah selesai menyiapkan makan siang, dan segera memanggil mereka untuk makan siang bersama.
"Mama panggil adikmu dulu," ucap Nadira sambil berlalu ke kamar Luna.
"Iya, ma," ucap April sambil membalik piring Airlangga.
Tak selang beberapa lama Nadira kembali keruang makan disusul oleh Luna yang masih menguap karena bangun tidur. Luna duduk di hadapan pria yang pernah di tolaknya itu.
"Kenapa dia disini? dia bisa bicara sama Nathan kalau sebenarnya aku ini kere," batin Luna kaget.
"Ternyata dia adiknya April, dan rumah yang waktu itu hanyalah pura-pura. sepertinya laki dan perempuan sama saja, tukang ngaku sok kaya," batin Airlangga yang mulai hilang respek kepada Luna.
"Aku permisi dulu," pamit Luna kembali ke kamarnya, karena merasa tak enak hati kebohongannya telah terbongkar di depan Airlangga.
"Lho Lun tadi katanya lapar," ucap Nadira bingung.
"Sudahlah Ma dia kan sudah besar," ucap Farhan.
Mereka segera menikmati hidangan makan siang yang telah tersaji, sesekali di sela aktivitas makan mereka Nadira meledek Airlangga dan juga April. Melihat kebahagiaan yang terpancar di raut kedua orang tuanya sebenarnya membuat April merasa sedih karena semua ini hanya kebohongan belaka yang telah dia rencanakan bersama Airlangga.
April mengantarkan Airlangga hingga ke pagar depan seperti pacar sungguhan pada umumnya, Airlangga juga semakin senang menjalankan perannya apalagi setelah mengetahui bahwa Luna ternyata adalah adiknya April. Sedangkan Luna sendiri ketar-ketir di dalam kamarnya, Takut Airlangga akan menyampaikan semuanya kepada Nathan.
...****************...