
Setelah mengantar April, Arya sibuk bermain HP di kamar yang telah dia pesan.
"Baru 36 hari sudah tancap gas sama selingkuhannya," ucap Arya sambil menggeleng gelengkan kepala sambil menggeser-geser HP-nya dan membuka akun media sosial milik Dirga yang mengunggah foto hari di mana istrinya melahirkan. Setelah kecelakaan itu, komunikasi Arya dan Dirga terputus, jadi Arya hanya bisa menyimak dari Instagram milik Dirga.
Setelah bersiap, Arya menuju kamar April untuk mengajaknya makan malam.
"April," ucap Arya sambil memperhatikan sekeliling ruangan hotel.
"Apa April belum keluar kamar mandi?" ucap Arya mulai khawatir dan bergegas menuju kamar mandi.
Arya terus memanggil nama April, tapi tidak ada jawaban. Arya semakin khawatir karena pintu kamar mandi dikunci dari dalam. Dengan sekuat tenaga, Arya mendobrak pintu kamar mandi. Saat pintu berhasil terbuka, Arya sangat cemas menemukan April tidak sadarkan diri di lantai kamar mandi dengan handuk terlilit di tubuhnya. Tanpa pikir panjang, Arya mengganti pakaian April dan bergegas membawanya ke rumah sakit.
Setelah melewati pintu keluar area hotel, mobil Arya dihentikan oleh seseorang yang tidak lain tidak bukan selingkuhan Kirana yang dia temui di hotel tadi. Dia meminta tumpangan kepada Arya karena mobilnya mogok, dan karena hujan deras, tidak ada taksi yang lewat. Arya mengiyakan karena mereka satu tujuan. Ryan, selingkuhan Kirana, juga hendak membawa Kirana ke rumah sakit yang juga tidak sadarkan diri.
Sesampainya di rumah sakit, April dan Kirana mendapatkan kamar satu ruangan karena kamar sedang penuh, sehingga mereka mendapatkan layanan di kelas tiga. Ryan, yang mengaku sebagai teman Kirana, meminta perawat untuk menghubungi keluarganya Kirana dan beranjak pergi setelah Kirana sadar.
"Aku di mana?" ucap April yang mulai sadar.
"Kamu sudah sadar. Maafkan aku karena tidak bisa menjaga kamu dengan baik," ucap Arya yang duduk di samping ranjang tempat April berbaring.
"Aku..." April tidak melanjutkan kata-katanya ketika melihat siapa pasien yang berbaring di ranjang sebelah.
Melihat wajah April yang gelisah, Arya memegang tangan April untuk menenangkannya.
...****************...
"Suara itu," batin April. Suara yang tidak asing baginya, suara Dirga yang selalu dia rindukan.
April memilih tidur membelakangi ranjang Kirana, dia tidak ingin Dirga melihatnya, sementara Arya yang izin ke toilet belum juga kembali.April, yang pura-pura tidur, berusaha menahan air matanya agar tidak menetes. Dia mendengar percakapan mesra Dirga dan istrinya.
"Secepat itu dia melupakan aku? Apa tidak ada aku sedikit saja dalam pikirannya?" batin April yang dadanya mulai sesak, merasakan kecemburuan.
Di kantin rumah sakit...
Arya menemui Oma karena mengetahui Kirana dan April dirawat di rumah sakit yang sama. Arya yang masih punya kontak ponsel Oma menghubungi Oma dan membuat janji bertemu dengannya.
"Jadi, apa yang kamu mau?" ucap Oma menatap Arya dengan serius.
Arya menyerahkan sebuah berkas kepada Oma. Oma langsung membukanya, sebuah surat gugatan cerai yang sudah ditandatangani oleh April.
"Oma mengerti maksudmu. Oma akan berusaha mendapatkan tanda tangan Dirga bagaimanapun caranya. Selanjutnya, Oma akan serahkan semuanya kepada pengacara Oma agar mengurus semuanya sampai selesai, tapi Oma ada satu permintaan." Ucap Oma.
"Permintaan?" Ucap Arya meminta penjelasan.
"Jika kamu bertemu Dirga, tolong berpura-pura tidak mengenalnya." Jelas Oma.
"Baik, Oma," ucap Arya singkat. "Apa maksud Oma?" (Batin Arya).
...****************...