
April ditemani suaminya memasuki ruangannya setelah memperkenalkan diri kepada para karyawannya tak terkecuali Ivan dan Nadira yang sudah di kenalnya lama.
"Dulu aku sering bercanda dengannya di ruangan ini," batin April duduk di sofa.
"Lho Ibu CEO, kenapa tidak duduk di singgasananya?" ledek Dirga membuyarkan lamunan April.
"Apa aku Pantas?" ucap April merasa minder.
"Pantas atau tidak Kamulah sekarang pemilik sah dari perusahaan ini," ucap Dirga meyakinkan.
"Entahlah Mas untuk sementara tolong Mas yang menghandle semuanya bersama Ivan, aku mau fokus ke kehamilan aku dulu," ucap April.
"Mas siap bantu kamu, kamu tidak usah khawatir,"
"Tentunya aku khawatir karena mantan pacar mas berada disini," sahut April yang membuat Dirga tertawa.
"Mas lupa menceritakan ke kamu, Nadira sudah menikah belum lama ini."
"Kok Mas tau? berarti Mas masih ada kontak sama dia," ucap April cemburu lalu meninggalkan ruangan kantor.
"Ibu hamil memang susah di tebak moodnya, tentunya aku masih menyimpan kontaknya untuk menanyakan kabar Prilly," Batin Dirga lalu mengikuti istrinya.
"Sayang tunggu," panggil Dirga.
April tidak memperdulikan suaminya dan terus melangkah hingga dia tak sengaja menabrak seseorang yang membawa tumpukan Map.
"Maafkan saya Ibu April," ucap Nadira sambil membereskan Mapnya yang berceceran. Sebenarnya Nadira merasa canggung memanggil April dengan sebutan "Bu".
"Sayang kamu jalanya hati-hati," ucap Dirga sambil menggenggam tangan Apri.
"Mas belain Nadira?" ucap April tambah manyun dan kembali berjalan menjauhi Dirga.
"Maaf ya Nad, perempuan hamil memang sensitif," ucap Dirga kepada Nadira sambil bergegas mengejar istrinya.
"Nggak papa ko Dir," ucap Nadira sambil tersenyum menatap kepergian sepasang suami istri itu.
...****************...
"Mas anak kamu menendangnya makin kencang," ucap April kepada Dirga disampingnya.
"Anak ayah sudah nggak sabar pengen main bola," ucap Dirga sambil menempelkan wajahnya di perut April sambil sesekali menciumnya.
Tak selang beberapa lama Mbok Darti datang membawa nampan berisi segelas susu, segelas teh dan kue. untuk di nikmati majikannya di ruang tengah sambil menyaksikan siaran televisi.
"Silahkan Tuan dan Nyonya," ucap Mbok Darti sambil menaruh nampan itu diatas meja.
"Kok panggil Nyonya sih Mbok, berasa tua?" canda April karena biasannya di panggil Nona.
"Kan sebentar lagi sudah mau jadi Ibu, jadi harus ganti nama panggilan," canda Mbok Darti lagi.
"Dari dulu sudah ibu, ibunya Bintang," sahut April mengingatkan.
Dirga yang sedang meminum teh itu, tiba-tiba menyemburkan minumannya.
"Mas hati-hati," ucap April sambil mengelap baju Dirga yang basah dengan tisu tanpa mencurigai sebenarnya ada yang Dirga sembunyikan.
"Mbok tolong buatkan lagi," ucap April kepada Mbok Darti.
"Baik, si mbok permisi sebentar," pamit Mbok Darti dan bergegas menuju ke dapur.
"Oiya Mas, ngomong-ngomong soal Bintang Oma sudah 1 bulan nggak ngasih kabar, nomor yang biasa di pakai untuk mengabari kita juga susah di hubungi, nggak pernah nyambung," keluh April.
"Kamu jangan berpikiran macam-macam, percayakan semuanya sama Oma," Jawab Dirga.
"Setelah aku melahirkan pokoknya kita harus segera menyusul Oma dan Bintang keluar negri Mas," rengek April.
Dirga hanya mengangguk mengiyakan keinginan yang sama selama 9bulan terakhir.
...****************...