
Seperti biasa Axel memerintahkan April untuk mendatangi kantor Alina, kali ini Axel meminta April mengantarkan sebuah bingkisan yang di kemas rapi di dalam sebuah paper bag untuk Alina.
Dengan langkah terburu-buru April menjinjing paper bag itu menuju ke kantor Alina.
Hingga saat baru sampai di halaman kantor Alina, April tak sengaja melihat pria paruh baya yang merintih kesakitan memegangi bagian perutnya.
"Bapak kenapa?" ucap April panik dan segera menghampiri laki-laki tua paruh baya itu.
"Sepertinya sakit saya sedang kambuh," ucap bapak itu lemah.
April langsung meminta bantuan satpam yang berjaga di kantor itu, dengan segera bapak-bapak tadi di bawa ke rumah sakit tak terkecuali April yang mengikutinya hingga dia melupakan tugas dari Axel.
Dering ponsel membuat April tersadar akan tugas, yang di berikan bos nya kepada nya.
"Mati aku," ucap April sambil menepuk jidatnya saat melihat layar ponselnya yang ternyata panggilan dari Axel.
"Halo..." ucap April ragu.
"Kamu dimana?" ucap suara di seberang sana.
"Saya di rumah sakit bos," jawab April.
"Kamu sakit?" jawab suara di seberang sana.
"Bukan saya bos," jawab April namun sambungan terputus karena paket data April telah habis, dan lupa mengisi nya.
April hanya mampu menatap laki-laki tua yang tergeletak lemas diatas ranjang rumah sakit.
"Bapak ini pasti seumuran Papah Farhan," batin April menatapnya.
Tak selang beberapa lama langkah kaki terdengar mendatangi ruangan di mana laki-laki itu.
"Papah," ucap seseorang sambil menangis, masuk menghampiri ranjang.
"Bu Alina," batin April ketika menatapnya.
"Papah tidak apa, nak," ucap laki-laki itu lemah.
Alina menangis kemudian memeluk pria itu, singkat cerita ayah dari Alina ini menderita penyakit ginjal.
"Ucapkan terimakasih kepadanya, dia telah menolong papah," ucapnya sambil menunjuk ke arah April yang juga berada di ruangan itu.
"Terimakasih kau telah menolong ayahku," ucap Alina lembut, April tak menyangka Alina yang selama ini sangat ketus kepadanya bisa selembut itu dengannya.
"Sama-sama Bu Alina, kalau begitu saya izin untuk kembali bekerja," sahut April.
"Silahkan," jawab Alina sambil tersenyum membuat April semakin kaget karena ini pertama kali Alina tersenyum kepadanya.
Saat April hendak akan melangkah dia baru mengingat paper yang telah dia bawa tadi, entah dimana dia telah meninggalkannya saat menolong ayahnya Alina tadi karena panik.
"Ada apa?" tanya Alina yang melihat April terlihat sangat bingung.
Dengan ucapan terbata April mencoba menjelaskan semuanya kepada Alina, di luar dugaan Alina tidak marah sama sekali bahkan dia meminta April berbicara kepada Axel bahwa paper bag itu sudah di terima nya dengan baik walau sebenarnya hilang entah kemana.
"Terimakasih Bu Alina, sekali lagi tolong maafkan saya," ucap April sambil berlalu meninggalkan kamar rawat rumah sakit itu.
"Siapa gadis itu, sorot matanya mengingatku kepada seseorang," batin Aji (ayah Alina).
Tiba-tiba wajah Aji murung ketika mengingat seseorang dari masa lalunya, April telah membuatnya kembali mengingat kenangannya.
"Ada apa Pah, apakah masih sakit?" tanya Alina lembut.
"Tidak, Nak," ucap Aji mencoba menyembunyikan perasaannya.
Dengan langkah terburu-buru April kembali ke kantornya, kali ini dia bisa bernafas lega karena Axel tidak memarahinya walau dia terlalu lama meninggalkan kantor.
...****************...