
"Maah... Aku berangkat sekarang" teriak April dari luar rumahnya, yang sudah siap akan pergi kuliah, ia mengenakan tshirt gucci X Disney berwarna putih, jeans chanel , sepatu converse putih, dan totebag dari Soresore.
Bergegas ibunya mengahampiri, "tunggu" cegah ibunya, April membalikkan badannya, "kenapa?" tanyanya.
"Hari ini kamu diantar Davin" terang ibunya, April membelalakkan matanya, "Apa??!, Aku tidak mau!" tegas nya.
"Tapi kami sudsh berjanji" ujar ibunya.
"Kalian kenapa tidak bisa mengerti perasaan ku sedikit pun? harus berapa kali aku menjelaskan? Aku tidak menyukai laki-laki itu!" geramnya.
"Tapi ini juga untuk kebaikan mu April" ujar ibunya, mengelus wajah April, April menyingkirkan tangan ibunya itu, "Gimana mau bahagia, kalau aku gak cinta sama dia" jelasnya.
Tidak berapa lama, Davin datang, dan bersalaman dengan ibu April, "Mah, kami pergi sekarang ya" ucap nya tersenyum, namun langsung berubah jadi datar saat melihat April.
"Ciiih" ujar nya lalu mendengus kesal, ia langsung masuk mobil Davin.
Terlihat Davin yang menyusul nya masuk mobil, "dasar perempuan gak ada sopan santun" ketus Davin. April tidakĀ menghiraukan perkataan Davin, "masuk mobil orang sembarang" cela Davin.
"TURUNKAN AKU SEKARANG!" bentak April. Aku tidak mengharap apapun darimu, aku juga tidak ingin naik mobil orang sombong!" jelasnya tepat disamping telinga Davin.
"Heiii.! Kau pikir aku sejahat itu? Walau aku sangat-sangat membenci mu, tapi tidak mungkin aku menurunkan mu dijalanan" jelasnya.
"Aargghh aku tidak peduli! Turunkan aku sekarang!! atau..."
"Atau apa?" ujar Davin.
"Atau aku akan menabrakkan mobil mu ini" lanjut April dan mencoba meraih stir mobil, yang membuat mobil itu oleng seketika, "HEHHH PEREMPUAN GILA!! KAMU BISA CELAKA JUGA!!" teriak Davin.
"CEPAT TURUNKAN AKU!!!" pekik April.
Davin menginjak rem nya mendadak, membuat April yang tidak memakai sabuk hampir terlempar kedepan, "Huhhhh" dengusnya, lalu keluar dari mobil Davin, dan membanting pintu nya dengan kasar.
Mobil Davin melaju dengan cepat, "Hampir aja gue mati" gerutu Davin, sebenarnya ia tidak tega meninggalkan April sendirian dijalan menunggu taksi lewat, Davin mencoba balik ketempat ia menurunkan April, berharap April masih berdiri disana, dari kejauhan Davin melihat April yang sedang berjalan gontai seperti orang yang tidak semangat hidup.
Davin membunyikan klakson nya, sontak April menoleh, Davin membuka kaca jendela mobilnya, "naik!" ujarnya, April menuruti, "brugg" ia menutup pintu mobil dengan kencang, "pelan-pelan, bisa rusak mobil ku" ujar Davin lalu melirik April sinis.
"Apalagi hah?" ujar April sambil menatap jalanan di kirinya.
"Aku tidak ingin dicap sebagai laki-laki tidak bertanggung jawab oleh keluarga mu" jelas Davin.
"Bukan nya itu bagus? dengan begitu orang tua ku tidak akan meneruskan perjodohan ini" terang April.
"Tapi nama ku buruk" jawab Davin cepat.
"Gue gak peduli" sahut April menaikkan alisnya.
"Kamu perempuan tidak ada manis manisnya ya" ujar Davin kesal mendengar ucapan April.
"Lo berharap gue bersikap baik sama lo? gitu? Sorry gue gak bisa" terang April.
Davin menghela napas kasar, "aku harap perjodohan ini cepat berakhir, aku tidak ingin punya istri potongan begini" sindir Davin.
"Lo kira gue mau gitu punya suami modelan kek lo? Udah songong, sombong, sok baik" ucap April dan menoleh pada Davin, lalu matanya naik turun memerhatikan Davin.
"Sepertinya kita memang harus saling memburukkan di depan orang tua kita" saran April.
"Tidak...tidak... Namaku bisa dicap jelek, dan mungkin bisa merambat ke perusaan ku" ungkap Davin.
"Ehmm...benar juga, tapi cuma cara itu yang kemungkinan besar akan berhasil" ujar April mencoba meyakinkanbDavin.
"Cara lain" jawab Davin cepat, "kita pura-pura sudah punya pacar dan mengenalkannya pada mereka."
Tak terasa sampai di tempat kuliah April...
"Thanks" ketus April, dan langsung pergi ke kelasnya.
"Dia sebenarnya cantik, tapi sayang, jutek" batin Davin, "Heh kenapa aku malah mikirin dia! Gak sudi" geramnya tiba-tiba.
Lalu pergi ke kantor nya...
***
"Aduhhh, bodohnya, kenapa gue gak minta nomor Davin sih tadi, buat ngatur rencana" pikir April yang sedang menulis.
"Tapi kalo gue yang minta, bisa saja ia kege'eran" batinnya, menggoyang goyangkan pulpen di jari nya.
***
April sedang berdiri di tepi jalan menunggu taksi, "aduh gimana gue pulang" gerutunya, "sekarang taksi udah jarang ada" lanjutnya.
Sudah cukup lelah ia berdiri, lalu mencoba berjalan, dan lagi-lagi ada yang mengklakson nya dari belakang, ia menoleh berharap itu taksi, namun ternyata Davin.
"Kamu mau pulang?" tanya Davin yang mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil.
April mengangguk dengab wajah kesalnya, "cepat masuk" ujar Davin.
"Kok lo tau gue udah mau pulang?" ujar April melihat Davin, namun kali ini bukan diiringi kekesalan, tapi rasa bersalah.
"Aku mau pulang, dan kebetulan melihat mu sedang berjalan" jelas Davin.
Wajah April menahan malu, seakan-akan ia yang kege'eran...
"Kenapa gak naik taksi? tanya Davin.
"Sekarang taksi udah jarang" celetuknya, "besok aku naik mobil sendiri aja" tambahnya.
"Iyalah, masa aku jemput kamu mulu" ujar Davin terkekeh.
April terbelalak mendengar ucap Davin, seakn waktu tidak memihak padanya, sekarang ia benar-benar malu.
"Ya kan kali aja lo mau jemput gue mulu" cetus nya membuang malu.
"Masih banyak kepentingan ku, ngapain aku harus antar jemput kamu" terang Davin.
"Sekarang kenapa?" tanya April.
"Ya kan gak sengaja liat, jadi aku ajak" jelasnya.
"Ohh... Ternyata bukan karena mau tanggung jawab" ujar April lalu mengangguk.
"Iya itu juga sekalian, karena kamu pergi sama aku, jadi pulang nya juga harus sama aku, kan gak ada taksi" ungkap Davin.
"Bisa aja lo nyari muka sama orang tua gue" ujar April, "gue saranin lo harus bersikap buruk didepan orang tua gue, supaya mereka gak suka sama lo" sarannya.
"Sudah ku bilangkan, pakai cara yang lain" ketus Davin, "sekarang mau makandulu? tawar nya.
"Boleh" jawab April cepat.
Mereka makan disebuah restoran.
"Jadi gimana biar kita bisa ngebicaraain rencana kita" terang Davin.
"Lewat handphone aja" ujar April.
"Masukkan nomor mu" ujar Davin memberikan ponselnya pada April.
April memasukkan nomornya, lalu pesanan mereka datang.
Hampir 2 jam mereka disana, "ayo pulang" ajak April dan beranjak pergi ke luar dari restoran itu, sedangkan Davin pergi kekasir.
***
"Jadi? Kita akan menjalankan yang mana?" tanya Davin.
"Lo mau buruk di mata orang tua gue?" tanya April.
"Ya enggak lah" jawab Davin cepat.
"Nah, kita pakai rencana lo aja" ujar April.
Dan mereka pun menyetujui itu.
\-BERSAMBUNG\-
TERIMA KASIH UNTUK PARA READERS YANG UDAH SETIA.
SEMOGA KALIAN SELALU MENYUKAI CERITA INI.
JANGAN LUPA LIKE AND REVIEW NYA YA SAYANG KU š„°