April

April
64



Pagi itu Bunda Mona dan Ayah Wisnu berpamitan untuk kembali ke kota J, setelah bermalam di rumah Dirga dan April.


"Bunda, hati-hati ya. Pasti April akan sangat merindukan bunda," ucap April sambil memeluk Bunda Mona.


"Bunda pasti juga akan sangat merindukanmu, bunda akan datang lagi saat acara 7 bulan kehamilanmu nanti," ucap Bunda Mona.


"Kami permisi dulu, terimakasih untuk jamuannya," sambung Ayah Wisnu.


"Paman jangan berbicara seperti itu, tentunya Dirga dan April sudah mengganggap Om dan Tante seperti tua kami sendiri," ucap Dirga diakhiri dengan pelukan ke Ayah Wisnu.


Pagi itu teras sangat Haru, Semua anggota keluarga mengantar Bunda Mona dan Ayah Wisnu sampai pintu gerbang. Mereka menatap kepergian mobil berwarna hitam itu Sampai tidak hilang dari pandangan.


"Mari kita masuk," ajak Oma.


"Tunggu!" ucap Kirana menghentikan langkah mereka.


"Mau apalagi wanita ini datang datang kesini," Batin Oma jengkel saat melihat kehadiran Kirana.


Sedangkan April memegang erat tangan suaminya, dia sangat takut apa yang dia khawatirkan selama ini akan diketahui Kirana.


"Perempuan jahat," ucap Kirana sambil menampar pipi April.


"Apa yang kamu lakukan, kepada menantuku," bentak Oma sambil membalas tamparan Kirana.


"Dia menyembunyikan putriku selama ini," ucap Kirana sambil menatap kearah Bintang.


"Apa maksud ucapanmu?" bentak Dirga.


"Cukup Mas, kamu bersekongkol dengan wanita licik ini untuk memisahkan Ibu dan juga Anaknya," ucap Kirana menatap Tajam ke arah April.


"Apa kamu pantas di sebut sebagai seorang Ibu?" sindir Oma, Karena memang selama ini Kirana tidak pernah memperdulikan anaknya.


Kirana menyodorkan surat Tes DNA itu kepada Dirga, April merasa syok melihat kejadian itu yang dia sembunyikan selama ini telah terbongkar. Melihat Dirga yang masih sibuk menatap selembar surat itu, Kirana memanfaatkanya untuk merebut Bintang dari gendongan Wina. Kirana menancapkan sebuah jarum ke lengan Wina hingga dengan mudah Dia membawa lari Bintang.


Dirga langsung berlari mengejar Bintang, sedangkan April menangis sejadi-jadinya. Namun pengejaran Dirga sia-sia. Dia melihat Mantan istrinya dan putrinya tergeletak bersimbah Darah karena sebuah truk kontainer menghantam Kirana yang panik berlari Tanpa memperhatikan Arah.


"Bintang..." teriak April berlari mendekati kerumunan itu, disusul Oma dan juga Wina.


Kirana meninggal ditempat, sedangkan Bintang di rawat di ruang ICU dalam keadaan kritis karena kehilangan Banyak darah.


"Sayang kamu pulang sama Oma ya? biar aku dan Wina yang ada disini menunggu Bintang," ucap Dirga kepada istrinya yang terus menangis di ruang tunggu.


"Nggak Mas, kau nggak mau ninggalin Bintang," tolak April.


"Benar kata Dirga, kamu harus memikirkan juga bayi yang ada di dalam kandunganmu," bujuk Oma.


April hanya menggelengkan kepalanya sambil menangis. Dia berjalan perlahan mendekati ruangan Bintang.


"Bintang tolong kamu sadar, Nak," batin April sambil menatap di didepan jendela kaca.


"Bintang Pasti akan segera sadar," ucap Dirga sambil mengelus punggung istrinya mencoba menenangkannya.


"Biarpun kamu hanya Ibu sambung, Tapi kamu sangat mengasihi Bintang," batin Oma sambil menitikkan air matanya.


April terus menatap Bintang yang terbaring tak sadarkan diri, dengan beberapa Alat penunjang yang membuat April tak henti menangis.


"Sayang kita makan siang dulu ya," bujuk Dirga.


"Aku tak ingin makan Mas," sahut April dengan mata sembabnya.


"Kasihan Anakmu yang di dalam sana," ucap Dirga sambil yang mengelus perut istrinya.


"Baiklah Mas," ucap April meluluh.


Dirga mengajak April ke restoran sekitar rumah sakit yang jaraknya tidak terlalu jauh,


"Sebentar ya sayang, aku akan telepon dulu," ucap Dirga sambil berlalu dari tempat duduknya untuk mengangkat telfonnya.


"Tumben, angkat teleponnya harus menjauh," batin April curiga sambil menatap suaminya dari kejauhan.


"Telepon dari siapa Mas?" ucap April kepada Dirga, yang melihat ekspresi suaminya berubah menjadi sangat muram.


"Dari kantor," ucap Dirga singkat.


"Ini pasti ada sesuatu sama Bintang? Ayo Mas kita segera kembali ke rumah sakit!" ucap April sambil berlalu dari tempat duduknya.


"Tunggu!" ucap Dirga menghentikan langkah April.


"Bintang baik-baik saja, kamu temani Mas makan dulu," sambung Dirga yang membuat April terduduk kembali.


Entah kenapa April merasa perasaannya tidak enak dia merasa sangat gelisah, dia ingin segera menemui Bintang tapi entah kenapa Dirga malah memperlama makan siangnya.


"Mas tumben kamu ngunyahnya lama?" protes April.


"Maaf ya sayang, Mas lagi sakit gigi," jawab Dirga sambil sesekali menatap layar ponselnya.


"Maaf Mas, aku tidak tahu," ucap April merasa bersalah.


Setelah selesai makan akhirnya Dirga dan April kembali ke rumah sakit. April langsung bergegas mendekati ruangan Bintang dirawat dia langsung menatap kedalam ruangan kaca itu. Alangkah terkejutnya April mendapati Bintang sudah tidak berada di dalam sana.


"Mas, Bintang mana? kamu bilang tadi baik-baik saja kan?" ucap April sambil menangis histeris.


"Kamu tenang dulu," jawab Dirga mencoba menenangkan istrinya.


"Tenang bagaimana?"


"Dengan Pak Dirga dan Bu April?" ucap seorang perawat tiba-tiba menghampiri mereka.


"Dimana putri kami, sus?" ucap April sambil menghapus air matanya.


"Atas permintaan dari Ibu Nadin, pasien atas nama Bintang hari ini akan melanjutkan pengobatan ke luar negeri," ucap perawat itu menjelaskan dan segera berlalu meninggalkan tempat itu.


"Harusnya Oma mengabari dulu, biar bagaimanapun aku Ibunya Bintang," protes April sambil mengambil ponselnya dari dalam tasnya.


Beberapa kali dia menghubungi Oma namun tidak tersambung karena mati.


"Kok Oma tega sama April?" ucap April mulai menangis lagi.


"Sayang mungkin Oma sedang berada di dalam pesawat, besok Mas akan mencoba menghubunginya," ucap Dirga mencoba menenangkan istrinya.


Dirga berhasil menenangkan April dan segara mengajaknya untuk pulang. Sampai di rumah April mengurung dirinya di dalam kamar dan terus menunggu kabar dari Bintang.


"Nak, makanlah dulu," ucap Ibu Arini sambil membawa senampan makanan untuk putrinya.


"Ibu kapan datang?" ucap April beranjak dari tempat tidurnya.


"Barusan, Nak. Ibu tiba-tiba merindukanmu," ucap Bu Arini mendekati April dan mulai menyuapi anaknya.


"Buk, Bintang kecelakaan," ucap April menangis lalu memeluk ibunya.


"Ibu sudah tau, Nak. Biarkan Ibu Nadin membawa Bintang berobat ke luar negri, semua demi kebaikan Bintang," sahut Bu Arini sambil mengelus pucuk rambut istrinya.


"Iya Bu, April temuin Mas Dirga dulu ya? April mau minta maaf atas semua sikap April tadi."


"Dirga tadi pamit sama Ibu kalau ada rapat mendadak di kantor, lebih baik kamu makan dulu," ucap Bu Arini sambil menyuapkan makanan kepada April.


"Kok tumben Mas Dirga nggak pamitan ke aku," batin April.


...****************...