
Pagi itu Airlangga sudah rapi dengan menggunakan Hoodie dan celana jeans favoritnya, karena kebetulan bertepatan dengan hari Minggu Airlangga berencana ingin pergi menemui teman chat nya yang belum lama dikenalnya.
Airlangga telah sampai terlebih dahulu di sebuah cafe tempat mereka membuat janji, dia menunggu kedatangan wanita yang telah di idam idamkannya beberapa bulan terakhir.
"Permisi," ucap seorang wanita sambil duduk di samping Airlangga, yang tak lain adalah Luna adik dari April.
"Kamu Luna?" ucap Airlangga malu-malu karena baru pertama kalinya berkenalan dengan seorang wanita.
"Iya, kamu Airlangga kan?" sahut Luna.
"Dia tampan sesuai foto profil akun sosmed miliknya, aku harap dia juga kaya raya," batin Luna.
Airlangga kemudian memesan makanan dan minuman untuknya dan juga Luna, mereka menyantap hidangan itu di selingi dengan canda gurau.
"Oya kamu kerja dimana?" ucap Luna di sela-sela aktivitas mereka menikmati makanan mereka.
"Aku kerja jadi asisten pribadi disebuah perusahaan dekat sini," sahut Airlangga.
"Cuma pegawai, aku kira pengusaha," batin Luna yang matre.
"Ada apa?" tanya Airlangga yang menyadari raut wajah Luna yang berubah.
"Nggak papa, kok," jawab Luna dengan wajah masamnya.
"Aku ingin bicara sesuatu denganmu," ucap Airlangga sambil memegang tangan Luna.
"Tentang Apa?"
"Kita memang belum terlalu mengenal sama lain, tapi maukah kamu menjalin hubungan yang lebih serius lagi? karena aku merasa nyaman dengan kamu saat kita bertukar chat," ucap Airlangga memberanikan Diri mengutarakan perasaannya kepada wanita yang dia sukai walau baru pertama kali bertemu.
"Kalo kamu pengusaha pasti aku langsung menerima kamu," batin Luna.
"Pacaran maksud kamu?" tanya Luna.
"Iya kurang lebih seperti itu," jelas Airlangga.
"Kita temenan saja dulu, kita kan belum kenal terlalu lama dan belum terlalu saling mengenal," tolak Luna halus.
Mendengar ucapan wanita idamannya membuat Airlangga sangat patah hati, Luna pamit pulang terlebih dahulu karena beralasan ada urusan mendadak.
"Padahal aku sudah memimpikan pertemuan ini lama," ucap Airlangga sambil menendang sembarang botol plastik kosong yang tergeletak di rerumputan.
"Arg..." pekik seorang wanita.
Airlangga yang menyadari botol plastik yang telah di tendangnya telah mengenai seseorang, langsung bergegas untuk menghampirinya.
"Maafkan saya mbak," ucap Airlangga sambil menatap ke arah wanita yang sedang memegangi keningnya.
"Mas gimana sih?" ucap wanita itu yang tak lain adalah April.
"Lho Mbak yang waktu itu..." ucap Airlangga terputus sambil mengingat pertemuan mereka di warung makan.
"Mas kira kira donk kalo buang sampah," keluh April sambil masih memegangi keningnya.
"Sekali lagi maafkan saya mbak, saya tidak sengaja," ucap Airlangga.
Dengan wajah merenggutnya April memaafkan Airlangga, karena dia juga menyadari bahwa dia juga pernah berbuat kesalahan yang mengakibatkan baju Airlangga basah.
Sebagai ucapan rasa bersalahnya Airlangga mengantarkan April pulang dengan sepeda motor butut miliknya. Kalaupun Airlangga mau tentunya dia bisa mendapatkan mobil paling mahal sekalipun dari orang tuanya, namun Airlangga tetap memilih menggunakan motor butut dari hasil jirih payahnya sendiri.
"Terimakasih sudah mengantarku pulang, mampirlah terlebih dahulu," ucap April saat sampai didepan rumahnya yang sederhana dan terletak di gang kecil.
"Lain kali aku akan mampir, aku ada urusan jadi aku harus buru-buru pergi," pamit Airlangga.
"Baiklah kalau begitu," ucap April sambil tersenyum.
Airlangga langsung bergegas naik motor bututnya dan berlalu meninggalkan rumah April, tanpa dia sadari dompetnya jatuh saat berbincang dengan April.
"Lho ini dompet dia jatuh, mana udah terlanjur pergi lagi," ucap April sambil memungut dompet itu.
Sambil membawa dompet milik Airlangga, April kemudian masuk ke dalam rumah, tak disangka adiknya Luna mengintip dari jendela kamarnya yang berhadapan langsung dengan jalan gang rumahnya.
"Untung aku nggak jadian sama cowok kere itu, ternyata motornya butut banget," batin Luna sambil menutup gorden kamarnya.
April yang merasa kebingungan terus mondar-mandir di kamarnya, dia bingung mau mengembalikan dompet itu kemana? karena Airlangga tidak pernah menghubunginya setelah April memberikannya sebuah kartu nama saat pertemuan pertama mereka.
...****************...