April

April
68



April Menimang putranya yang belum diberikan nama, tak terasa bulir-bulir bening membasahi pipinya. Menatap wajah tak berdosa itu membuatnya merasa nyaman.


"Andai kakakmu Bintang ada disini, Nak," ucap April bersedih mengingat Bintang.


"April sampai kapan kamu akan mendiamkan semua orang? lihatlah anakmu ini, dia membutuhkan kamu dan juga Dirga," ucap Bu Arini memasuki kamar April,


April dan anaknya hari itu sudah dibawa pulang dari rumah sakit tempatnya melahirkan. Tapi tetap saja April masih sangat bersedih atas kematian Bintang dan tak ingin mendengarkan apapun yang Dirga ucapkan untuk membujuknya.


"April butuh waktu, buk," ucap April sambil menghapus air matanya.


"Ingat kami terpaksa berbohong demi kebaikanmu," ucap Bu Arini sambil berlalu keluar dari kamar April.


Tak selang beberapa lama Dirga masuk membantu menggendong anaknya.


"Mas siapa nama anak kita?" ucap April tiba-tiba yang membuat Dirga kaget sekaligus senang karena April mau berbicara dengannya.


"Airlangga Raharja," ucap Dirga sumringah.


"Nama yang bagus," ucap April tersenyum mencoba melupakan kesedihannya atas kehilangan Bintang.


"Kamu setuju?" ucap Dirga lagi.


"Tentu," jawab April singkat.


"Aku senang melihatmu tersenyum lagi, tolong maafkan kesalahanku," ucap Dirga lagi.


"Baiklah kita mulai dari awal lagi," ucap April perlahan sambil memeluk suaminya yang sedang menggendong Airlangga.


Hari demi hari hubungan keduanya semakin membaik, April juga telah kembali pulih setelah pasca melahirkan. Pagi itu mereka berencana berkunjung ke kota J untuk berziarah ke makam Bintang.


April hanya mampu menitikkan air matanya ketika menatap batu nisan di depannya.


"Maafkan ibu Nak, baru datang menemui mu," ucapnya sambil menaburkan Bunga.


Dirga mengelus pundak istrinya untuk mencoba menenangkannya.


"Ikhlaskan Bintang dia sudah bahagia di sana," ucap Dirga.


Mereka saling menguatkan dan melanjutkan berdoa untuk Bintang.


Setelah dari pemakaman April dan Dirga segera kembali ke rumah Oma, tak disangka semua orang sudah menunggu kedatangan mereka termasuk Bunda Mona beserta keluarga.


"Kak April maafkan semua kesalahanku" ucap Ayra tiba-tiba memeluknya.


Sebelum berangkat ke kota J April memilih untuk mencabut laporannya kepada Ayra dan membebaskannya dari penjara.


"Aku memaafkan kamu Ayra, aku yakin sebenarnya kamu anak yang baik ," balas April sambil tersenyum.


"Terimakasih kak, aku berjanji tidak akan pernah mengulanginya lagi," jawab Ayra.


"Bunda senang sekali melihat anak-anak bunda akur," ucap Bunda Mona Sambil tersenyum bahagia.


"Lebih baik kita segera makan, Oma sudah sangat lapar," timpal Oma.


"Dirga juga sudah sangat lapar," sahut Dirga.


Kedua keluarga itu akhirnya makan siang bersama di iringi canda gurau kebersamaan mereka.


" Jadi kapan kalian akan pergi bulan madu?" Goda Oma kepada cucunya yang memang belum pergi berbulan madu setelah menikah karena berbagai masalah yang menimpa mereka.


"Setiap hari adalah bulan madu bagi kami Oma," sahut Dirga sambil mengedipkan matanya ke arah April.


April yang malu hanya mencubit bahu suaminya yang duduk disampingnya.


"Bunda setuju, agar Airlangga cepat punya Adik," celetuk Bunda Mona.


"Ayah juga sangat setuju, kalian bisa menitipkan Airlangga di tempat kami saat kalian pergi berbulan madu," timpal Ayah Wisnu.


April hanya menundukkan wajahnya karena Malu menjadi candaan keluarga tapi dia justru merasa sangat bahagia berkumpul dengan mereka, Dia kembali sedikit mengingat awal dari pengorbanannya untuk menyelamatkan adiknya kini dia hidup bahagia bersama orang orang yang menyayanginya.


...****************...